Lukmanul Hakim Daftar Isi

Optimasilah Gambar Website Sebelum Terlambat

0
Imagify

Imagify

Jadi saya ceritanya baru sadar kalau saya selama ini kurang optimal dalam penggunaan konten gambar di Blog saya 😀

Padahal saya bukan tipikal orang yang terlalu suka dengan sesuatu yang Otomatis dan Praktis, apalagi jika itu Berbayar 😀

Tapi gambar-gambar di Blog saya sudah mencapai lebih dari 450 saat saya mulai ingin mengoptimasinya lebih extreme 😀

 

Ukuran Resolusi Maksimal yang Ideal ?

Selama ini sebenarnya saya sudah melakukan optimasi gambar baik SEO maupun Performance, tapi masih level biasa 😀

Optimasi yang saya lakukan dari sisi Performance selama ini hanyalah Loseless Compression saja, dan tidak ada Optimasi apa pun pada Scale/Resolusi Gambar !

Masa saya mengupload gambar dengan resolusi 3000’an ke atas ?, parah kan 😀

Pokoknya settingan tertinggi di Kamera Gadget saya apa adanya langsung saya Upload jika tidak ada yang perlu Crop atau Highlight 😀

Tau sendiri kan kamera gadget saat ini canggihnya sudah seperti apa ?, baik Pixel maupun Resolusi.

Padahal resolusi tertinggi yang ideal di WordPress adalah 1320p atau biasa disebut Thumb XXLarge dengan resolusi 1320×500 pixel (Default), tapi kita bisa mengacu pada ukuran Width/Lebar saja yakni 1320 pixel, sedangkan High/Tinggi bebas saja alias menyesuaikan, agar tidak merubah bentuk gambar didalamnya. Misalnya 1320×728, maka sistem akan otmatis generate Thumbnail dengan ukuran XXLarge yakni 1320×500 meski gambarnya menjadi sedikit terlihat aneh (Cropped).

Nah, perlu diingat point diatas, yakni Uploadlah hanya File Gambar dengan Resolusi Maksimal 1320p !

Artinya jika dibawah 1320p, ya biarkan saja meskipun angkanya tidak menentu. Apalagi jika gambar-gambar hasil Screenshoot dan Cropping biasanya tidak menentu angka Width dan High-nya. Intinya adalah ukuran Width maksimal adalah 1320 pixel.

 

Loseless, Lossy Compression, dan Format *.Webp

Setidaknya ada dua jenis kompresi yang ada pada optimasi file gambar/foto, yakni Loseless dan Lossy Compression.

Yah, seperti file compression media lainnya lah sob 😀

Misal untuk Audio File, kita mengenal format *.FLAC yang merupakan Loseless Compression, maka ada juga *.MP3 yang merupakan Lossy Compression.

Tapi pada File Gambar, file extension sama sekali tidak berubah, kecuali yang terbaru, Google merilis format File Optimization *.webp yang umum digunakan pada Google PageSpeed Module (Auto Generate *.webp) yang versi komersialnya bisa kita temukan pada JagoanHosting/Beon Web Accelerator.

Tapi nampaknya format *.webp sudah mulai diterapkan diluar Google PageSpeed, karena beberapa Plugins Image Optimizer seperti ShortPixel sudah mendukung konversi ke format *.webp yang penggunaannya didukung oleh Plugins Cache seperti LiteSpeed Cache, CacheEnabler, dsb. Dan format ini sudah mulai didukung beberapa Provider CDN (Content Delivery Network).

Jika implementasinya sudah umum, maka kedepannya meskipun Blog kita menggunakan format gambar *.jpg, *.png, *.gif, dsb, tapi setiap halaman yang dihasilkan oleh Cache Plugins tersebut akan menggunakan format gambar *.webp. Itulah kenapa, meskipun menggunakan format *.webp, tapi file gambar yang sama dengan format lain yang sudah umum seperti *.jpg, *.png, dan *.gif akan tetap ada di Server, tidak lantas digantikan begitu saja, karena format *.webp ini sejauh percobaan saya sulit dilakukan editing maupun optimasi, jadi harus berupa hasil akhir yakni file dengan format umum dioptimasi dan diedit dulu, baru akhirnya dikonversi ke format *.webp. Yah, anggap saja format gambar yang fungsinya hanya untuk Read Only untuk Web View, sesuai namanya (Web Picture).

Bahkan format *.webp ini saat artikel ini saya tulis, belum didukung oleh Image Viewer umum, bahkan oleh Plugins Lightbox.

 

Untuk Loseless Compression, ada banyak sekali Tools Gratisan yang bisa digunakan, dan bahkan sudah ada yang Batch Mode (Simultan), ada Versi Plugin (Beberapa Plugins Image Optimizer memberikan fitur Loseless Compression secara gratis) dan ada Versi Desktop Application/Software. Di Linux, ada software bernama Trimage yang bisa mengkompresi gambar dengan format .jpg, .png, dan .gif secara Loseless.

Tapi, untuk Lossy Compression lain ceritanya !

Karena kehebatannya, jenis kompresi ini pun menjadi komersial 🙁

Lebit tepatnya versi Batch Processing-nya yang dikomersialkan.

Saya pribadi masih belum dapat algoritmanya, hehe 😀

 

Batch Process ?, Perlu Biaya Lebih !

Jika Anda ingin mengoptimasi banyak file gambar secara simultan, maka akan sangat sulit menemukan Tools untuk melakukan itu dengan jenis Lossy Compression !

Banyak yang Free Lossy Compression, tapi bersifat Demo versi Website saja, yakni kita mengupload satu gambar saja, kemudian diproses, dan hasilnya kita download, sangat merepotkan dan membuang-buang waktu kan ?, tapi itulah konsekuensi gratisan, saya yakin ada banyak orang yang punya banyak waktu yang rela melakukan itu 😀

Itulah kenapa, banyak penyedia layanan Lossy Image Optimization menyedian One-time Plan, karena biasanya untuk New User yang masih “First Optimization” akan memerlukan Resource yang besar untuk melakukan Batch Optimization dari file gambar yang pertama diupload sampai file gambar terakhir, sisanya bisa menggunakan Free Plan yang disediakan oleh penyedia layanan Plugin Image Optimizer.

 

Saya pribadi terpaksa merogok kocek saya sebesar $10 loh untuk kebutuhan itu 😀

Saya tidak ingin membuang-buang waktu saya yang lebih berharga daripada uang senilai $10, bahkan lebih dari waktu, saya juga tidak ingin mengorbankan Resource tubuh saya yakni Tenaga dan Pikiran hanya untuk melakukan Lossy Compression secara Manual untuk file gambar berjumlah ratusan files !

Padahal saya belum bisa dikatakan telat loh melakukan optimasi gambar, karena tanpa Thumbnail, seluruh gambar di Blog saya hanya berjumlah sekitar 450’an files saja dengan ukuran kisaran 80’an MB saja, kecil sekali kan ?

Tapi, sekali lagi saya juga harus efisiensi/optimasi waktu, tenaga, dan pikiran saya dong ya ?, lagipula One-time Plan yang disediakan paling kecil 500 MB dengan harga kisaran $6, itu cukup murah atau lebih tepatnya Worth It (Sepadan) lah.

Saya pun berpikiran bahwa daripada tanggung mending saya order saja One-time Plan sebanyak 1 GB senilai $10, toh Quota saya itu tidak ada Expired Time-nya, artinya sampai Quota itu habis saja. Tau deh sampai kapan, anggap saja Desosit 😀

Oh ya, saya memilih Imagify untuk keperluan Lossy Compression ini (mereka menyebutnya Ultra Compression Mode).

Sebenarnya ada yang lebih mantap yakni ShortPixel yang pola perhitungan layanannya berdasarkan Inodes, yakni Jumlah File, bukan Ukuran File seperti Imagify, dan hasil Lossy Compression-nya juga bisa lebih kecil dari Imagify, dan sudah mendukung format *.webp. Imagify belum mendukung format *.webp. Tapi saya sudah dikonfirmasi oleh pihak Imagify bahwa kedepannya Imagify akan mendukung format *.webp generator/converter.

Saya lebih tertarik dengan Imagify dan pada akhirnya memilih Imagify dengan melakukan pembelian One-time Plan 1 GB senilai $10 (lebih tepatnya sih $9,99). Karena saya pikir lebih hemat pola perhitungan File Size daripada Inodes. Bayangkan saja 1 File Gambar utama bisa memiliki 10 File Thumbnails berbagai ukuran, bahkan bisa lebih dari itu jumlah Thumbnails-nya. File Gambar saya selama ini sampai saya lakukan optimasi untuk pertama kali saja berjumlah 4000’an File, padahal File utamanya cuma 250’an saja dengan ukuran file sekitar 80’an MB saja !

Apalagi untuk selanjutnya, saya ingin mengoptimasi juga setiap Thumbnail yang digenerate ketika saya mengupload gambar baru, karena saya ingin praktis, agar saya bisa fokus membuat konten artikel berkualitas saja tanpa repot-repot melakukan optimasi gambar secara manual yang lumayan menguras passion saya karena ribet. Meskipun saya bukan tipikal yang suka serba otomatis, tapi jika otomatiasi itu berarti optimasi dan efisensi, maka kenapa tidak ?, saya selama ini seringkali mikir panjang untuk bikin artikel, karena saya udah terbayang betapa ribetnya optimasi gambar secara manual.

User Interface Imagify yang lebih Eye Catching, Modern, dan Canggih, serta sangat User Friendly 😀

Oh ya, fitur Resize On The Fly-nya lebih baik dari Plugins sejenis lainnya sejauh pengujian saya, karena saya cukup mengisi Max Widht Size saja, maka High Size akan mengikuti secara dinamis.

Dan yang paling saya suka, sistem/algoritma Imagify ini “Smart”, karena dia bisa menilai sebuah file gambar apakah layak dioptimasi atau tidak. Maksudnya jika file dianggap sudah Optimal, maka tidak perlu dilakukan Optimasi, tentu ini menghemat Resource, baik itu waktu, maupun Quota kita kan ?, dan tentu saja file yang sudah optimized tidak malah jadi rusak karena dilakukan optimasi lagi. Plugins sejenis ini juga melakukan proses secara penuh di Server milik mereka, sehingga Server Hosting yang kita gunakan tidak terbebani. Sepengalaman saya ya sob, untuk melakukan Loseless Compression saja membutuhkan Resource Server yang sangat-sangat besar, khususnya CPU Usage !, berdasarkan engalaman menggunakan Trimage di Laptop saya, 4 Core CPU habis digunakan cuma untuk Batch Process, padahal cuma Loseless Compression, apalagi Lossy Compression ?

Maka jangan heran dan protes jika layanan Batch Lossy Compression Process ini berbayar ya sob, karena Worth It lah 🙂

Saya dulunya bisa dikatakan pelit loh untuk urusan ini, karena saya belum melihat value-nya 😀

 

Meski Lossy Compression, Tapi Kualitas Gambar Tidak Berubah

Dengan Catatan: Menurut Mata Manusia Normal !

Ya, mau lihat hasil nyatanya ?, buka artikel dengan penggunaan gambar yang banyak seperti disini.

Maka Anda bisa melihat kualitas gambar yang sangat bagus, padahal perlu diketahi bahwa ukuran file tersebut sudah direduksi sebanyak lebih dari 80% dari ukuran aslinya dengan resolusi gambar yang tetap sama !

Itulah yang saya suka dari Lossy Compression, karena resolusi gambar tetap, tapi ukuran file bisa sangat signifikan berkuran, tanpa penurunan kualitas yang berarti menurut mata manusia.

Apalagi saya bukan Blogger Photography ya sob 😀

 

Jangan Berharap Banyak Mengurangi Disc/Storage Usage di Hosting

Ya, jangan berharap bisa dengan signifikan mengurangi jumlah penggunaan Storage di Web Hosting yang digunakan 😀

Kecuali jumlah gambar di Website Anda sudah sangat-sangat banyak dan ukuran file-nya besar-besar, maka dengan melakukan optimasi Lossy Compression akan cukup signifikan mengurangi Disc/Storage Usage.

Tujuan utama optimasi ini adalah menjadikan waktu load website yang lebih cepat dan ringan ketika mengakses Website kita, itu saja, sehingga secara SEO (Search Engine Optimization) juga akan lebih baik lagi.

 

Metode Pembayaran

Ini pasti menjadi pertanyaan juga, karena banyak kok yang mampu membayar, tapi terkendala di Payment Gateway/Methods. Karena provider dari luar negri, tentu tidak menerima Local Bank Transfer, melakukan Wire Transfer rasanya tidak worth it.

Maka disini saya katakan, hari gini masih bingung ?

Sekarang (Sudah lama sebenarnya) ada yang namanya VCC (Virtual Credit Card) yang bersifat Pre-paid dan Burned (Sekali Pakai), jadi seperti yang saya lakukan yakni membeli One-time Plan senilai $10 maka saya tinggal beli VCC tersebut dengan Saldo sebesar $10. Tentu Cost yang dikeluarkan untuk itu lebih besar untuk beli VCC dan Biaya Setup serta Fee lainnya, tapi tidak banyak, anggap saja biaya transfer online beda bank 😀

Sesuai kan ?, One-time Plan, maka gunakan VCC Sekali Pakai juga.

Saya lebih suka menggunakan VCC daripada Paypal karena lebih praktis, karena Balance Paypal saya selalu kosong, belum ada Income yang mengalir via Paypal soalnya 😀

Solusi lain ada yang namanya VCN (Virtual Credit Number), ini sama seperti VCC, dan ini merupakan fitur dari Bank Lokal seperti BNI46, CimbNiaga, dsb.

 

Kesimpulan

Optimasilah file gambar di website Anda sebelum terlambat, karena dengan Free Plan dari Plugins Image Optimizer seperti Imagify dan ShortPixel bisa saja sudah memenuhi kebutuhan optimasi file gambar bulanan Anda, tapi jika Anda tidak melakukannya dari awal, maka Anda berpotensi perlu mengeluarkan Budget lebih untuk membeli Resource yakni untuk melakukan Batch Processing.

Karena resource yang kita beli itu sepadan dengan efisiensi waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa kita hemat.






Buka Full Version 〉


Kubuntu KInfocenter

Kubuntu KInfocenter

Akhir-akhir ini saya sibuk melakukan optimasi gambar di Blog saya ini, sempat mencoba banyak cara Manual, tapi akhirnya saya merasakan bahwa melakukan cara manual itu tidak efisien baik itu Waktu, Tenaga, dan Pikiran.

Hingga saya memutuskan untuk menggunakan Tools yang memang dirancang untuk itu, ada banyak pilihan, dan pilihan saya jatuh kepada Imagify, dan saya tentu saja membutuhkan Resource besar untuk mengoptimasi seluruh gambar mulai dari gambar yang pertama saya upload ke Blog ini, sampai gamabar terakhir yang saya upload. Makanya jika ingin Optimasi Gambar itu lakukan sejak awal !, agar layanan Free pun sudah cukup.

Alhamdulillah, tidak terlalu banyak Resource yang dihabiskan, sekitar 80’an MB saja, karena Opsi Optimize Thumbnail saya Disable. Jika Thumbnail ikutan dioptimasi, jumlahnya bisa sampai 250’an MB 😀

Itu Trick dari saya saja sebenarnya, untuk mengoptimasi Thumbnail, gampang sekali, saya hanya perlu memanfaatkan Plugin Gratisan bernama “Regenerate Thumbnails”.

Sesuai namanya, maka jika Tool itu saya jalankan, maka Thumbnail berbagai ukuran akan dibuat ulang berdasarkan file utama yang sudah dioptimasi sebelumnya dengan Imagify. Hasilnya, saya bisa hemat Resource ratusan MB 😀

Ya, Imagify memang menghitung berdasarkan File Size, tidak seperti ShortPixel yang menghitung berdasarkan Inodes (Jumlah File).

Dengan Imagify, saya/kita mendapatkan Resource sebesar 25 MB/Bulan secara gratis dengan Limit File Size 2 MB/File untuk Free Plan.

Namun jika kita membeli One Time Plan (seperti yang saya lakukan, saya beli 1 GB One Time Plan), maka Limit akan naik lebih dari 2 MB/File, dan bulan depan tetap dapat 25 MB Gratis.

Saya memilih Imagify karena saya jatohnya lebih murah dari ShortPixel untuk First Usage yang membutuhkan banyak Resource, dan secara User Interface, Imagify lebih cantik dari ShortPixel. Memang pilihan saya menjadi hanya Imagify VS ShortPixel karena opsi lain sudah saya kesampingkan/eleminasi.

Dan menurut riset yang saya lakukan, dengan pola tarif berdasarkan File Size itu lebih menguntungkan daripada Inodes, karena sering sekali gambar-gambar yang saya punya itu masih dibawah 2 MB/File, akan rugi jika menggunakan ShortPixel. 200 File Gambar saja bisa kurang dari 15 MB menurut perhitungan saya.

Karena untuk kebutuhan Blogging, saya sudah Setup Kamera saya agar tidak jauh melebihi 1320p (Maksimal Resolusi terbaik untuk Blog WordPress yakni Thumbnail XXLarge).

 

Oke, sudah cukup mengenai Image Optimizer-nya 😀

Saya bahas itu, karena saat proses optimasi itu, saya melihat banyak gambar saya yang dibubuhi Watermark, tapi ada yang menggelitik saya dan membuat saya khawatir, yakni ada Logo Kubuntu di Logo Blog ini dan termasuk pada Watermark !

Selanjutnya, sesuai Judul Artikel ini, maka saya memutuskan untuk sedikit mengubah Desain Logo dan Watermark Blog ini agar tidak bermasalah dikemudian hari, jika dipermasalahkan pihak terkait, dalam hal ini adalah pihak Canonical/Ubuntu yang notabene pemilik Trademark Logo Kubuntu yang saya gunakan menjadi bagian dari Logo dan Watermark Blog saya.

Logo Lukmanul HakimBisa Anda lihat sendiri bahwa pada Logo tersebut memuat Logo Kubuntu 😀

Alasan saya menggunakan Logo Kubuntu adalah karena saya suka KDE (K Desktop Environment), saya pengguna Linux, dan Logo Kubuntu terlihat seperti Gear, dimana saya memiliki Passion di bidang Otomotif, bisa Anda lihat bahwa Blog saya selain membahas IT, juga membahas Otomotif. Dan Gear bisa melambangkan Engineering/Teknik secara umum.

Property of Lukmanul HakimNah yang bermasalah adalah pada Watermark, selain ada statement “Property of Lukmanul Hakim” (Takut disalahartikan bahwa Logo Kubuntu juga termasuk), juga karena Watermark bersifat permanent. Saya tidak ingin dikemudian hari, ketika gambar sudah banyak dibubuhi Watermark tersebut, dan ternyata dipermasalahkan terkait penggunaan Logo Kubuntu, saya repot sendiri mencari gambar-gambar aslinya yang belum dibubuhi Watermark, iya kalau sudah editing, kalau belum ?, saya harus Crop lagi, Edit lagi, dsb. Dan seiring waktu berjalan dan lama, pastilah jumlahnya akan sangat-sangat banyak !

Dan itu sudah terjadi saat ini, saya terlanjur menghapus Backup dari Plugin Watermark yang saya gunakan, sehingga gambar asli yang tanpa watermark hilang total !

Alhamdulillah, karena hali ini saya sadari sejak dini, maka jumlah file-nya masih sedikit, dan di benak saya masih bisa saya prediksi masih bisa saya handle 😀

 

New Logo and Watermark of www.lukmanulhakim.id

Nah, berikut adalah Logo dan Watermark Baru untuk Blog Saya:

New Logo Lukmanul Hakim

New Logo Lukmanul Hakim

New Property of Lukmanul Hakim

New Property of Lukmanul Hakim

 

Apa Bedanya ?

Masih berdasarkan Logo Kubuntu, hanya saja ditengahnya saya tambahkan Lubang/Bolongan selayaknya Gear pada umumnya 😀

Jika sebelumnya Logo itu adalah Logo Kubuntu yang terlihat mirip Gear, maka kali ini adalah Gear yang terlihat mirip Logo Kubuntu 😀

Minimal tidak menggunakan secara vulgar 😀

Saya bisa saja menggunakan Logo Gear lain, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya menggunakan Logo Kubuntu sebagai Dasar adalah karena saya pengguna Linux, suka Ubuntu dan KDE, khususnya Kubuntu yang notabene Ubuntu yang menggunakan KDE. Meski saya tidak melulu menggunakan Kubuntu untuk bisa menggunakan KDE, saya bisa menggunakan OpenSUSE, LinuxMint KDE, Fedora dengan KDE, ArchLinux dengan KDE, dsb.

Tapi Kubuntu, itu spesial !, karena ada Ubuntu dibelakangnya, dan saya sangat suka dengan Filosofi Ubuntu 🙂

 

Setidaknya, saya tidak mengklaim bahwa Logo Kubuntu itu buatan saya !

Sekali lagi, Logo Kubuntu adalah bagian dari Trademark dan Copyright milik Canonical selaku pemilik sah Ubuntu, dan Kubuntu khususnya.

 

Evolusi Logo itu memang wajar dan biasa terjadi, dan anggap saja Logo Blog saya kali ini adalah Logo V2 😀



Buka Full Version 〉


Mengatasi Masalah Touchpad Acer Aspire E11

0
Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 Sudah Rapi

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 Sudah Rapi

Jadi ceritanya ini Notebook (Laptop) punya adik saya (makanya warnanya Pink), adik saya mengeluh bahwa Netbook dia itu seringkali ngaco Pointer Mouse-nya, liar kesana kemari dan tidak bisa dikendalikan lagi.

Masalah itu tidak selalu terjadi, datangnya tiba-tiba secara acak, semakin lama Laptop digunakan, maka masalah itu akan muncul, mungkin saja dipengaruhi suhu atau temperature Laptop itu sendiri dan tergantung dari listrik statis yang diproduksi oleh tubuh penggunanya. Makanya masalah itu seringkali terjadi jika sedang menggarap project atau laporan, sangat menyebalkan karena pekerjaan yang dilakukan berjam-jam bisa hilang begitu saja karena tidak bisa menyimpan file yang sudah dibuat dan diubah itu.

Untuk menormalkannya Laptop harus direboot atau restart secara paksa, jika tidak tau, maka akan melakukan cara yang salah, yakni dengan menekan tombol power dengan durasi tertentu, sehingga Laptop akan power off secara paksa.

Sudah 1 Tahun lebih masalah Laptop itu dia alami, solusi dari saya saat Laptop itu masih baru adalah dengan mengganti Operating System dari Windows menjadi Linux, dan saya pilihkan Distro Linux Ubuntu untuk adik saya itu.

Alasannya ?

Karena di Linux, kita bisa melakukan reboot paksa dengan cara yang lebih baik, yakni langsung menghubungi Hardware langsung melalui kernel, dengan cara menekan kombinasi tombol PRTSC / SYSTRQ + R + E + I + S + U + B , beri jeda beberapa detik ketika menekan setiap tombol itu, karena prosesnya terjadi secara background, kita tidak melihat apa-apa di layar, tapi kernel sedang melakukan prosedur yang aman untuk melakukan reboot.

Alhamdulillah, 1 Tahun pun Harddisk Laptop ini tidak rusak 😀

Ya, jika Laptop atau Komputer dimatikan secara paksa dan salah, yakni dengan cara menekan dan menahan tombol power, maka Harddisk berpotensi mengalami kerusakan.

 

Dulu saya tidak ingin membongkar Laptop adik saya ini, karena masih segel dan garansi, masalahnya saya selalu tidak punya waktu untuk mengklaim garansi Laptop itu, dan adik saya juga sibuk dan membutuhkan Laptop itu.

Kombinasi solusi Auto Save pada Software yang digunakan atau kesadan sendiri untuk selalu menekan kombinasi tombol CRTL + S , dan solusi “safe reboot” sudah diatas diarasa sudah cukup saat itu.

 

Nah baru sekaranglah saya bisa mengeksekusi/membongkar Laptop itu, karena sudah jarang digunakan dan masa garansinya pun sudah berakhir.

Daripada menyerahkan ke Service Center, lebih baik saya handle sendiri, masa orang IT masih pakai jasa orang lain ?

Lagipula karena garansi sudah habis, maka tentu saya akan mengeluarkan ongkos/biaya untuk reparasi itu 😀

Penyebab Masalah Touchpad Acer Aspire E11

Cukup mudah bagi saya mengetahui masalahnya sejak awal dulu, karena Touchpad itu sangat sensitif terhadap listrik statis, sehingga perlu Grounding yang reliable.

Dan ketika saya bongkar, saya pun menemukan bahwa Grounding pada Touchpad hanya menggunakan semacam Grounding Tape saja !

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Saya lupa mengambil/capture foto before dan after 😀

Intinya Grounding Tape itu menghubungkan permukaan tembaga di Touchpad ke bagian logam di body Touchpad itu.

Pada gambar diatas, lingkaran paling besar berwarna merah itulah Grounding Tape yang digunakan, dan pada gambar itu kondisinya sudah saya lepas.

Pita itu semacam serat seperti kain, namun memiliki sifat konduktif atau menghantarkan listrik.

Tapi masalahnya, yang namanya Tape, ya tentu memerlukan sifat adhesive/merekat kan ?

Dan itu memerlukan lem yang dapat mengurangi konduktivitas dari Grounding Tape tersebut !, karena lem bersifat hambatan.

Ketika Grounding Tape saya lepaskan, tertinggal bekas lem di permukaan tembaga pada Touchpad, persis seperti Double Tape saja 😀

Saya perlu menggunakan Acetone untuk menghilangkan bekas lem itu.

Nah itulah akar masalahnya, yakni Grounding Tape tidak berfungsi dengan baik akibat hambatan atau resistance-nya meningkat, ya karena lem itu tadi yang menjadi perantara antara permukaan tembaga di Touchpad dengan Grounding Tape tersebut.

 

Solusi Masalah Touchpad Acer Aspire E11

Karena material permukaan grounding pada Touchpad adalah tembaga, maka itu artinya timah solder bisa menempel dengan sempurna.

Maka, solusi terbaik adalah dengan menyolder kabel tembaga pada permukaan tembaga di Touchpad itu.

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 ke Body

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 ke Body

Tips: Temperature solder jangan terlau panas, dan durasi penyolderan jangan lama-lama, karena bagian plastik Trackpad pada Touchpad akan meleleh !, dan sebaiknya gunakan kabel single core serabut berdiameter kecil saja.

 

Oke, salah satu ujung kabel bisa menempel dengan sempurna, tapi ujung lainnya ?

Disolder ke Grounding di Body tidak memungkinkan karena material logamnya tidak bisa disolder, timah solder tidak bisa menempel sama sekali.

Maka “Teknik Jepit” pun saya lakukan 😀

Sebenarnya bisa saja dengan cara dipasang ke salah satu skrup di yang menempe ke Grounding, seperti skrup untuk Motherboard, dsb

Tapi menurut saya akan menarik banyak kabel, dan kebetulan saya tidak punya skun ukuran kecil untuk kebutuhan itu, kan tidak lucu jika kabel dililitkan ke skrup 😀

Saya pun memutuskan untuk menjepit saja diantara sambungan Grounding di Body Touchpad ke Grounding di Body itu (Lihat Gambar).

Maka, ujung kabel-nya pun saya perkuat dengan timah solder juga agar lebih mantap 😀

 

Dan, Acer Aspire E11 Touchpad Issue pun Solved !

 



Buka Full Version 〉


Voucher Internet Tri 33 GB Depan

Voucher Internet Tri 33 GB Depan

Hari ini Kuota Internet saya habis, seperti biasa, saya langsung meluncur ke Toko Ponsel langganan saya untuk membeli Data Plan (Paket Data) baru.

Dari awal, saya tidak menyangka jika kali ini ternyata tidak seperti biasanya 🙂

Ya, jika biasanya saya membeli Kartu Perdana Baru yang sudah “Injected” dengan Data Plan, maka kali ini, saya cukup membeli Voucher Isi Ulang saja 😀

Harga tetap sama, Kuota Data Transfer pun sama, hanya metodenya saja yang berbeda, jika sebelumnya dijual dalam bentuk Kartu Perdana Baru, maka kali ini dijual dalam bentuk Voucher Isi Ulang !

Wah Mantap !

Itu kalimat yang terucap saat itu, saya bahagia sekali, dan nampaknya karyawati yang menghandle penjualan biasanya pun juga lebih bahagia dari sebelumnya, entah apa alasan sebenarnya 😀

Saya bahagia karena saya bisa dikatakan cukup peduli lah dengan lingkungan, saya sering prihatin melihat banyaknya sampah kartu perdana berserakan dimana-mana, kertasnya, dan kartunya, semua hanya sekali pakai, jika kuota habis, ya sudah, buang saja, selanjutnya beli kartu perdana baru !

Saking saya peduli dengan lingkungan, jika sepeda motor umumnya ganti oli mesin tiap 2000 KM, saya ganti tiap 10.000 KM !, tentunya dengan menggunakan oli mesin yang High End juga, intinya sampah berupa limbah oli bekas yang merupakan Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) itu bisa dikurangi secara signifikan, seandainya tidak hanya saya saja yang melakukan itu, untungnya saya tidak sendirian, orang-orang seperti saya tergabung dalam wadah komunitas bernama Long Drain Interval Community (LDIC)

Dan, yang membuat saya sangat bahagia ya karena saya selama ini miris dan ironis, karena saya pun terpaksa melakukannya (nyampah kartu perdana/SIM Card) 🙁

Rasanya seperti terbebas dari kebiasaan buruk yang lama ingin dihilangkan, tapi terkendala dengan lingkungan yang tidak memungkinkan, dalam hal ini Paket Data dengan harga yang murah dan dengan kuota yang besar hanya dijual dalam bentuk kartu perdana yang sudah injected dengan Data Plan, yang hanya bisa dibeli di Toko Ponsel.

Sungguh betapa bahagianya saya ketika sekarang tidak perlu lagi buang-buang kartu perdana hanya untuk Data Plan ketika Quota Internet sudah habis 🙂

Bahkan, mungkin untuk kedepannya saya akan menggunakan Tri untuk SMS dan Telpon, menjadi salah satu provider yang saya gunakan selain Telkomsel dan Indoesat ooredoo IM3 🙂

Tentu saja nanti juga saya akan membeli kartu perdana “Normal” yang saya registrasikan dengan benar, alasannya akan saya jelaskan dibawah.

 

Bagaimana Cara Isi Ulang Kuota Internet dengan Voucher ?

Caranya mudah saja, sama persis seperti mengisi ulang Pulsa (Deposit) Regular untuk kebutuhan SMS dan Telpon biasanya.

Voucher Internet Tri 33 GB Belakang

Voucher Internet Tri 33 GB Belakang

Gosok bagian yang hitam itu dengan koin, kuku, kunci, dsb, agar Voucher Number-nya bisa dilihat, lalu hubungi *111*<Nomor Voucher># .

Contoh: *111#0123456789#

 

Lalu Apa Hubungannya dengan “Emas” ?

Tahukah Anda, bahwa warna emas yang ada pada bagian konduktor SIM Card itu benar-benar Emas (Gold) ?, Bukan Tembaga !

Jika belum tau, maka Alhamdulillah sekarang sudah tau ya 🙂

Tapi emas disini sangat kecil sekali jumlahnya, karena hanya berupa lapisan saja, atau biasa disebut “Gold Coating”.

Teknik ini sudah sangat umum sekali dilakukan dalam Industri Elektronik, tujuannya untuk meningkatkan Daya Hantar atau Conductivity dari dua plat logam yang bersentuhan. Itulah kenapa metode terbaik dalam pemasangan SIM Card adalah dengan cara Slip-on, yang pernah mengganti SIM Card di Smartphone pasti tau maksud istilah itu, jadi tidak seperti Basic Phone jaman dulu yang dalam pemasangannya hanya Clip-on. Saat logam konektor SIM Card di Smartphone bergesekan dengan permukaan logam di SIM Card, maka bounding antara keduanya akan lebih solid, karena keduanya sama-sama Gold Coated.

Karena Emas adalah Logam Mulia yang memiliki Electricity Resistance yang paling rendah Nomor 2 setelah Silver (Perak).

Kenapa Hanya Coating ?

Ya karena harga Logam Mulia (Precious Metal) ini memang mahal, tau sendiri lah emas itu dijadikan perhiasan karena bernilai ekonomi tinggi, sehingga pada SIM Card, emas itu hanya dalam bentuk lapisan tipis saja pada permukaannya, dari ujung sampai ke ujungnya. Maksudnya tidak bisa dilapisi ditengah-tengah saja.

 

Penghematan Gold Coating oleh Provider/Operator (Tidak cuma Tri) ini sudah lama saya sadari, saat saya mendapati Provider melakukan tindakan pengurangan permukaan yang dilapisi emas, sampai bahkan ada SIM Card yang tidak menggunakan lapisan emas sama sekali !

Sampai ahirnya, Provider menghentikan pola penjualan Data Plan dengan cara menjual Kartu Perdana “Kosongan” yang kemudian oleh Penjual akan dilakukan “Inject” Data Plan.

Itulah kenapa sebelumnya jika kita membeli kartu kerdana yang sudah berisi Kuota Internet, kita tidak perlu mendaftarkan identitas kita ke 4444 atau melalu Toolkit.

 

Tidak Ada Lagi Permintaan Registrasi Kartu Perdana melalui Toolkit

Nah ngomong-ngomong registrasi kartu perdana, siapa pun pasti pernah merasa jengkel dengan popup yang muncul bertubi-tubi yang isinya adalah agar kita melakukan registrasi kartu perdana baru melalui SIM Toolkit yang otomatis muncul itu. Dan lebih menjengkelkan lagi adalah, ketika kita mengisi semua form yang diminta, kita malah mendapatkan SMS bahwa registrasi tidak diperlukan !

 

Maka, jika sekarang Kuota Internet dijual melalui Voucher, kita bisa membeli kartu perdana Tri baru yang “Normal”, sehingga kita bisa daftarkan secara resmi entah itu melalui SMS ke 4444 atau melalui SIM Toolkit, sehingga permintaan registrasi kartu perdana hanya sekali saja, dan selanjutnya tidak akan muncul lagi selamanya.

 

Kesimpulan

Sejak sekian lama, Tri menjual Internet Quota atau Data Plan dengan pola yang Tidak Ramah Lingkungan dan Tidak Hemat Production Cost (Biaya Produksi) yakni menjual Kartu Perdana Kosongan yang sudah Injected dengan Data Plan ke Pelanggan, melalui Penjual di Toko-toko Ponsel.

Namun, hari ini, saat artikel ini saya tulis, Tri rupanya beralih dengan menjual Voucher Internet dengan Harga dan Quota yang sama persis seperti biasanya. Hanya berbeda metode saya, sehingga saat ini kita bisa setia menggunakan SIM Card yang sama, karena kita hanya perlu Top-up Quota Internet saja.

Kebijakan ini akan menghemat biaya produksi SIM Card oleh Provider bersangkutan, juga secara signifikan akan mengurangi sampah SIM Card beserta bungkusnya di lingkunan kita.

Saya sangat mengapresiasi langkah yang diambil oleh Tri kali ini 🙂



Buka Full Version 〉


Diterima Google AdSense Tanpa Review Tahap Dua

0
Activated Google AdSense Account

Activated Google AdSense Account

Alhamdulillah, tertanggal 8 Juli 2017, saya resmi menjadi Non-hosted Google AdSense Publisher 🙂

Lebih menyenangkan lagi adalah, saya langsung diterima (Full Approved) tanpa perlu Review Tahap Ke-2 !

Ya, saya hanya melalui Review Tahap Pertama pada tanggal 30 Juni 2017, dan 8 Hari kemudian yakni tanggal 8 Juli 2017 permohonan saya untuk menjadi Non-hosted Google AdSense Publisher diterima, tanpa Review Tahap Kedua !

Berikut Email ucapan Selamat dari Tim Google AdSense kepada saya atas diterimanya saya sebagai Publisher Google AdSense 🙂

Email Approval Google AdSense Non-hosted

Email Approval Google AdSense Non-hosted

Dan seperti yang Anda lihat, sekarang Google Ads sudah muncul di Blog saya ini, yakni pada Header Widget, Footer Widget, dan In-article (Native). Nah Native Ads adalah fitur baru dari Google AdSense sekarang ini. Jadi ada Opsi Format Iklan baru yakni Native Ads yang bisa dikatakan “Iklan Kamuflase”, tapi tetap ada tanda bahwa itu Iklan. Native Ads ini ada yang berupa In-article, dan In-feed. Jika In-article adalah Iklan yang berada didalam artikel, sesuai namanya, maka In-feed adalah Iklan yang mampu berbaur seolah-olah Related Post.

Anda bisa melihat contoh In-article native ads di artikel ini 🙂

 

Perjalanan Saya Hingga Menjadi Non-hosted Google AdSense Publisher

Jujur saya katakan, ini adalah percobaan kedua saya mendaftar Google AdSense dengan Blog ini 😀

Bisa Anda lihat sendiri di Blog saya ada beberapa artikel yang berkaitan dengan Google AdSense dan Network Ads lainnya.

Dulu pernah ada Log Artikel ketika saya melakukan percobaan pertama saya mendaftar Google AdSense. Khususnya artikel ketika saya diterima Review Tahap Pertama, dan menjalani Review Tahap Kedua. Tapi saya hapus karena saya tidak lulus pada Review Tahap Kedua dan saya tak kuasa untuk mengumumkannya ke Public di Blog saya ini 😀

Serta problematika lainnya seperti pendaftaran saya itu tidak ada email sama sekali yang masuk ke inbox saya terkait pendaftaran Google AdSense itu.

Hasilnya saat itu permohonan saya ditolak dengan alasan “Konten Tidak Memadai” 😀

Saya pun patah hati, namun saya sadar bahwa alasan itu benar adanya, mengingat saat itu Blog saya ini baru berusia 1 Bulan saja dengan jumlah konten yang masih sedikit sekali, meski minimal jumlah kata dalam satu artikel lebih dari 500 kata dan lebih banyak lebih dari 1000 kata, serta semua artikel saya sangat unik, original, dan rich content.

Ada feeling bahwa Google AdSense punya kecenderungan tidak menyukai Website/Blog yang menggunakan Auto Read More, yakni Home Page yang hanya berisi List/Grid Artikel yang hanya berisi Judul, Thumbnail, dan Excerpt saja. Hal itu juga disadari oleh beberapa orang yang mendapati kegagalan di Review Tahap Kedua, dan setelah mengubah Home Page menjadi seluruhnya Full Content lalu re-submit, permohonan menjadi Publisher pun diterima.

Salah satu yang mungkin membuat Blog saya diterima adalah Blog saya tidak lagi menerapkan Auto Read More bawaan Theme yang saya gunakan.

Akibat kegagalan itu, saya pun undur diri, menghapus total Account AdSense saya yang lama dengan cara:

  1. Tambahkan User baru di Account AdSense.
  2. Jadikan User itu sebagai Full Administrator.
  3. Hapus User lama, yakni Email saya yang ingin dibebaskan dari Account AdSense tersebut.
  4. Hapus Permanent Google Account baru, sehingga seluruh Product Google didalamnya ikut terhapus, termasuk Google AdSense. Memang Google AdSense tidak bisa dihapus tanpa menghapus total seluruh Google Account.

Sehingga Account Google (GMail) lama saya tidak memiliki Account AdSense sama sekali sampai saat ini dan Domain Blog ini tidak terikat pada Account AdSense sama sekali.

Jadi, saat itu saya melakukan bersih-bersih, dengan tujuan nanti ketika Blog ini sudah layak menjadi Publisher Google AdSense, maka saya akan mulai dari awal saja melakukan pendaftaran Google AdSense, dengan Google Account baru yang masih fresh.

Itulah kenapa, Blog saya ini saya daftarkan dari Nol di Google AdSense, bukan Re-submit !

4 Bulan berselang dari proses bersih-bersih itu, saya daftar ulang dari awal lagi, yakni pada Hari Jum’at, Tanggal 30 Juni 2017.

Saya pun merasakan Experience baru yakni mendaftar Google AdSense dari awal, karena sebelumnya Account AdSense saya merupakan Account AdMob dan YouTube Monetize (Saya rela menghapus Account AdSense itu padahal sudah ada YouTube yang sudah Enable fitur Monetize-nya). Saya mendaftarkan YouTube dan AdMob pada AdSense bukan sebagai Trick/Bug.

Jadi, dulu itu saya sudah punya Account GMail, lalu saya saat itu punya Bisnis yang membutuhkan promosi menggunakan Google AdWords, saya pun mendaftar, tapi iseng juga saya daftar AdMob, maksud hati agar bisa pasang iklan Mobile, karena dulu AdMob lebih mudah approval-nya (Pengalalaman), tapi ternyata AdMob sudah tidak seperti dulu lagi yang bisa untuk Wapsite, AdMob sekarang khusus Aplikasi Mobile seperti Aplikasi Android, dsb. Akhirnya AdMob pun tidak terpakai.

Perlu Anda ketahui, saya tidak berniat melakukan Trick Bug sama sekali, karena buktinya permohonan Google AdSense for Non-hosted Content (Website) saya saat itu ditolak pada proses Review Tahap Kedua 😀

Akibat ribetnya proses pendaftaran itu, bahkan saya mengalami masalah terkait pendaftaran itu, yakni tidak ada notifikasi email apa pun terkait pendaftaran itu, sehingga setiap hari saya harus repot-repot login ke Dashboard Google AdSense hanya untuk memeriksa apakah sudah Approved ?, dengan ending pahit yakni tidak diterima karena “Konten tidak memadai”. Itulah yang membuat saya kecewa berat, karena ketika saya memeriksanya setiap hari, itu artinya saya menaruh ekspektasi/harapan besar, dan percaya diri saya tinggi, dan sedih sekali ketika mendapatkan email yang berisikan penolakan 🙁

Tapi saya Open Minded, saya sadar bahwa alasan penolakan itu benar adanya, Blog saya baru aktif 1 bulan saat itu, meski Domain lukanulhakim.id sudah aktif lebih dari 1 tahun saat itu, jumlah artikel pun masih sedikit, tidak ada Organic Search/Visitor sama sekali saat itu, dan saat itu Blog saya masih Under Construction, maksudnya sudah bisa diakses, sudah beroperasi sharing informasi, tapi masih tahap pembangunan secara bertahap, banyak sekali rombakan yang saya lakukan saat itu, sehingga pihak Tim Google AdSense saat itu mungkin menilai Blog saya masih belum siap !

Alhamdulillah, 4 bulan berselang, Blog saya sudah siap !, baik itu secara Traffic, Page View, Konstruksi Website, Konten, dsb. Saya pun pada Tanggal 30 Juni 2017 memutuskan untuk mendaftarkan Blog ini di Google AdSense dari dari awal lagi, bukan re-submit, dan akhirnya diterima menjadi Non-hosted Google AdSense Publisher tanpa perlu Review Tahap Kedua.

 

Proses pendaftaran saat itu normal-normal saja:

  1. Saya mengakses https://www.google.co.id/adsense/start/.
  2. Mendaftarkan Google Account dengan Email Address baru yakni [email protected]
  3. Mendaftarkan Account Google AdSense seperti petunjuk disini.
  4. Memasang Page-level Ads Code, Setup Payment Information, dan Verifikasi Phone Number.
  5. Dan menunggu proses Review seperti yang dijelaskan disini.
  6. 8 Hari kemudian, saya mendapatkan email bahwa saya diterima menjadi Non-hosted Google AdSense Publisher, dan itu artinya tanpa Review Tahap Kedua.

Saya menunggu 1, 2, 3 hari tidak kunjung mendapatkan hasil, sudah mulai drop, karena umumnya Review Tahap Pertama cuma perlu maksimal 3 hari saja menurut pengalaman saya sebelumnya, lalu saya masih bersabar menunggu hari ke-4, 5, 6, dan 7. Alhamdulillah pada hari ke-8, email yang berisi ucapan selamat karena diterima sepenuhnya menjadi Publisher di Google AdSense pun saya terima 🙂

Alhamdulillh 8 hari itu tidak saya lalui dengan memeriksa Dashboard Google AdSense secara berkala, karena seluruhnya diinformasikan melalui Email sejak awal, tidak seperti pendaftaran saya kali pertama, sehingga 8 hari itu tidak terasa sama sekali, bahkan 4 bulan sejak penolakan pertama dan bahkan 5 bulan sejak Blog ini saya Install pun tidak terasa berlalu saat artikel ini saya tulis 😀

 

Menurut banyak referensi dan pengalaman saya sendiri, pemasangan Page-level Ads Code itu adalah Review Tahap Pertama, kita tidak diberikan akses pada menu-menu di Dashboard Google AdSense, hanya ada keterangan bahwa masih dalam proses review.

Review Tahap Kedua adalah ketika Review Tahap Pertama diterima, kita sudah diberikan akses pada menu-menu di Dashboard Google AdSense, tujuannya untuk Review Tahap Kedua, yakni memasang Content Ads Code seperti Leaderboard Ads, Responsive Ads, dsb. Pada tahap ini, iklan belum muncul sama sekali.

Jadi, mungkin Tahap Review Pertama itu dilakukan oleh Bot khusus yang dibekali A.I (Artificial Intelligence) oleh Tim Google AdSense untuk mereview Website Calon Publisher, jika hasilnya memerlukan pertimbangan “Manusiawi”, maka dilakukan Review Tahap Kedua, yakni dilakukan secara Manual oleh Tim Google AdSense.

Tapi jika seluruh halaman Website kita lulus review yang dilakukan oleh Bot tersebut, dan hasilnya diberikan kepada Tim Google AdSense (Manusia), dan dianggap memenuhi kriteria, maka Account Google AdSense tersebut pun diterima tanpa perlu Review Tahap Kedua.

Tapi, itu hanya asumsi/analisa saya saja, karena mengenai hal itu, sama sekali adalah hal yang menjadi misteri kita bersama 🙂

Atau mungkin, Review Tahap Kedua sudah ditiadakan untuk Publisher di Indonesia ?, sperti China yang syaratnya hanya umur Website minimal adalah 6 Bulan !

Tapi perlu Anda ketahui, usia Website/Blog saya ini masih 5 Bulan saat artikel ini saya tulis, sehingga menjadi faktor yang melemahkan kemungkinan tersebut.

Setiap Publisher yang berhasil diterima, memiliki cerita dan pengalaman masing-masing yang pasti dishare di Blog masing-masing.

Saya ?

Tentu saja saya akan share kiat-kiat apa saja yang saya lakukan dalam 4 Bulan terakhir setelah saya mendapat penolakan dari Tim Google AdSense, saya bertekad untuk gagal cukup 1x saja !

Kegagalan pertama kali itu adalah “Cambuk” yang memacu saya untuk menggarap Blog ini lebih baik lagi, karena kegagalan saat itu menyadarkan saya bahwa memang benar Blog saya saat itu belum layak menjadi Ads Publisher dari Ads Network mana pun, bahkan jika pun diterima, maka saya akan kecewa juga melihat hasil earning-nya kan ?, seperti yang saya rasakan ketika saya menggunakan Ads Network lain sebagai Alternative mengisi kekosongan space di Blog saya selama proses preparing Blog saya ini untuk mendaftar Google AdSense dikemudian hari (Niat saya pasang Ads Network lain saat itu).

Kegagalan itu menjadi latar belakang masalah yang membuat saya saya penasaran dan kemudian melakukan riset untuk mencari solusinya, dan Alhamdulillah saya mendapatkan hasil yang memuaskan 🙂

 

Saya bersyukur karena berhasil menjadi “White Hat” Non-hosted Google AdSense Publisher, dan tanpa melalui Review Tahap Kedua tanpa trick macam-macam !

 

Bagi saya, “Iklan di Blog adalah Informasi Tambahan berupa penawaran produk dan/atau jasa untuk para pembaca/pengunjung Blog saya !”



Buka Full Version 〉


Domain luqmanul.id Bukan Milik Saya !

1
Bangga Pakai Domain .iD

Bangga Pakai Domain .iD

Saya merasa perlu membuat artikel ini karena saya memiliki Domain lukmanul.id !

Saya memang selalu membeli 2 Domain yang memuat nama saya dengan Extension yang sama. Misalnya lukmanulhakim.id dan luqmanulhakim.id, lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info.

Perbedaannya ada pada Huruf K dan Q, itu sudah umum sekali mengingat nama saya terjadi kerancuan di khalayak umum apakah ditulis dengan K atau Q, mengingat nama saya ini cukup mainstream/populer. Tapi ada dua versi penulisan, ada yang menggunakan K dan Q.

Dalam penulisan kita akan mudah saja mengetahui bedanya, tapi jika disebut/dibaca/dilafalkan, maka Huruf K/Q akan samar, kedengarannya akan sama saja.

Itulah dalam Ilmu Digital Marketing, khususnya pada Penamaan Alamat Internet atau Domain Name, perlu didaftarkan Domain lain yang berpotensi menyebabkan kegagalan akses atau salah alamat itu. Seperti juga pada Domain saya lainnya yakni al-hakim.id, maka saya pun perlu mendaftarkan alhakim.id, dengan dan tanpa simbol strip/kurang (-) yang merupakan simbol penghubung, AL-Hakim atau aL-Hakim memang lazimnya ditulis dengan menggunakan simbol itu, tapi karena dalam pelafalan simbol itu tidak dibaca sama sekali, maka saya perlu mendaftarkan Domain yang tidak menggunakan simbol itu.

 

Ada Apa dengan luqmanul.id ?

Website dengan Nama Domain luqmanul.id terkena Hack (Deface), dan saya heran, kenapa pemilik Website dengan Domain luqmanul.id tidak melakukan tindakan apa pun untuk restore data website-nya ke versi yang belum dihack !

Atau melakukan langkah-langkah Recovery lainnya yang diperlukan untuk menghilangkan tampilan kurang sedap dipandang seperti ini:

luqmanul.id Defaced !

luqmanul.id Defaced !

 

Saya Hubungi tapi Tidak Dijawab

Saya pun memeriksa Whois Domain luqmanul.id itu, untuk mengetahui Alamat Email pemilik Domain itu, saya pun tabayun dengan mengirimkan pesan melalui email ke alamat email yang ada di Whois Domain itu.

Tapi sampai sekarang tidak ada jawab, dalam email itu saya mengajak bertindak, yuk ditanggulangi !

Saya juga sudah menghubungi pihak Web Hoster (Web Hosting Company/Provider) yang dia gunakan, dan benar-benar harus dilakukan oleh Owner bersangkutan untuk melakukan Recovery. Pihak Hoster sudah menyediakan Backup Daily, Weekly, dan Monthly, seharusnya Owner Website itu bisa melakukannya sendiri, karena Tutorialnya sudah dibuatkan lengkap juga oleh Provider Hosting tempat dia menyimpan Website-nya.

Memang Hosting Provider tempat Website dia bernaung memang terkenal sering menjadi target Hacking, karena Hosting Provider tersebut merupakan Hosting Company yang sudah lama ada di Indonesia, sangat populer, sehingga wajar jika menjadi target utama serangan Hacking/Defacing.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan Security Hardening dari Hoster bersangkutan, karena maslaah Deface seperti ini besar kemungkinan adalah karena Webmaster (Pemilik Website) yang lalai dalam melakukan Upgrade/Update Script, entah itu Engine WordPress, maupun Plugins, dan Themes.

Security Hardening adalah tanggungjawab pemilik Website juga, dan seharusnya itu menjadi perhatian serius dari pemilik Website !

 

luqmanul.id Bukan lukmanul.id

Sekali lagi saya katakan, saya adalah pemilik Domain lukmanul.id yang merupakan Official First Name saya. Karena nama saya Lukmanul Hakim.

Sedangkan Domain luqmanul.id bukan milik saya !

Saya maklumi karena pemilik Domain tersebut memang bernama Luqmanul Hakim (Menggunakan Q). Sehingga itu adalah hak beliau untuk mendaftarkan Domain tersebut. Jika tidak diurusi, mending buat saya saja 😀

 

Saya tidak akan membuat artikel ini jika saya pemilik Domain luqmanul.id menanggulangi Website-nya yang Defaced itu.

Karena banyak yang mengira bahwa luqmanul.id itu Domain/Website adalah milik saya dan terkena Deface, parahnya lama sekali tidak direcovery !

Banyak yang mengira luqmanul.id adalah Domain Alias dari Domain saya lukmanul.id.

Sekali lagi saya katakan Domain luqmanul.id bukan milik saya !

 

Semoga ini menjadi klarifikasi dari saya bahwa saya tidak ada hubungannya dengan Domain atau Website luqmanul.id, Anda buktikan dengan memeriksa informasi di Whois Pandi.

Dan semoga pemilik Domain luqmanul.id segera merecovery Website-nya, jika kesulitan, bisa saja meminta bantuan dengan Technical Support dari Provider Web Hosting bersangkutan. Saya melihat ada unsur pembiaran, entah apa alasannya.

 

Kena Deface Itu Memalukan, Apalagi Jika Dibiarkan Lama

Kejadian Deface seperti ini memalukan sob, meski demikian, saya tidak bermaksud mempermalukan pemilik Domain luqmanul.id yang mendapatkan musibah itu, saya prihatin. Artikel ini saya buat sebagai klarifikasi dari saya saja bahwa saya tidak ada hubungannya dengan Website luqmanul.id yang terkena Deface itu, karena saya memiliki Domain lukmanul.id, maka banyak yang mengira bawa Domain luqmanul.id adalah Domain Alias dari Domain lukmanul.id, sebagaimana halnya seperti luqmanulhakim.id yang merupakan Domain Alias dari Domain lukmanulhakim.id milik saya ini.

Bagi saya yang merupakan praktisi IT, tentu kejadian seperti ini memalukan jika sampai terjadi, dan jika pun sempat terjadi karena sebab apa pun, mestinya ditanggulangi dengan baik dan dalam tempo waktu yang cepat.

Jadi, saya ingatkan dengan sungguh-sungguh, utamakanlah Backup, Backup, dan Backup !

Dan jangan lupa melakukan Update/Upgrade, khususnya jika itu memuat Security Patch, lakukanlah Basic bahkan Advanced Security Hardening semampu kita untuk mengurangi potensi kerentanan apa pun.

Sisanya, serahkan kepada Allah, agar Website kita dijaga dari marabahaya Hacking dalam bentuk apa pun !

 

Saya heran, ada orang dengan nada sinis, menertawakan saya, karena luqmanul.id terkena Hack (lebih tepatnya Deface), dan ketika saya kunjungi memang benar terjadi, dan saya Follow Up/Pantau pun Website itu sangat lama sekali memuat halaman Deface itu tanpa upaya Recovery sama sekali !, minimal dibikin Offline saja lah, daripada malu-maluin saja menampilkan halaman penghinaan dari para Defacer itu !

Saya yang memiliki Domain lukmanul.id jadi dikira pemilik Website luqmanul.id itu 🙁

 

Memang sudah menjadi konsekuensi jika saya mendaftarkan Nama Domain dengan First Name saya sendiri, maka harus mendaftarkan dua Domain, dengan K dan dengan Q. Meskipun Officialy nama saya menggunakan K, itulah kenapa Website ini menggunakan Domain lukmanulhakim.id (pakai K).

Memang paling aman dengan menggunakan Last Name saya yakni Hakim, makanya saya menyesal dulu tidak mendaftarkan Domain hakim.id (Didaftarkan oleh orang yang Last Name-nya sama-sama Hakim juga) atau dengan Domain Extension lainnya yang ketika itu berstatus Available, saya terlalu terpaku dengan First Name saya yang agak rancu itu. Akan aneh kan jika saya mempromosikan Website saya dari mulut ke mulut (melafalkannya), harus pakai statement tambahan yakni “Pakai K yah !”, kan lucu 😀

Jadi ingat salah satu Komika Stand Up Comedy yang bernama Bhaskara (Pakai BH ya !), saya bersyukur tidak sampai seperti itu, karena memang tidak pakai BH 😀



Buka Full Version 〉


WWW

WWW

Setelah sebelumnya saya baru saja membeli Domain al-hakim.id dan alhakim.id, sekarang saya baru mendaftarkan lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info.

Sebenarnya Domain Extension .info sempat lama saya abaikan, meskipun statusnya Available, saya bersykur Domain itu tidak didaftarkan orang lain seperti lukmanulhakim.com dan luqmanulhakim.com yang sudah didaftarkan orang lain.

Karena saya seperti kebanyakan orang pada umumnya, lebih cenderung menyukai .com 😀

“Daripada .info, lebih baik .id” kata saya dulu  ….

Makanya sejak awal Blog ini menggunakan Domain Extension .id. Saya bahkan tidak peduli harganya 😀

Memang .id ini unik dan bisa berarti “Identity”, tapi itu bisa-bisanya kita saja, karena faktanya .id adalah Country Code berdasarkan Standard ISO untuk Negara Indonesia, 2 Digitnya ID, 3 Digitnya IDN.

Maka dari itu, Domain .id sering tanpa basa basi langsung ditolak di layanan tertentu yang tidak menginginkan pelanggan dari Indonesia, misalnya Email Custom Domain tertentu, hanya karena Domain .id itu yang tentu saja dari Indonesia, pemiliknya pasti orang Indonesia, dan orang Indonesia memiliki reputasi kurang baik di mata layanan free maupun berbayar secara international karena terkenal abusive 😀

Pokoknya .id ini adalah Domain Lokal Indonesia, dan langsung ditandai sebagai Website Indonesia, bahkan Google Webmaster pun memperlakukan demikian tehadap Domain .id. Tapi jangan salah, itu kelebihan .id sehingga tidak perlu repot menentukan bahwa Country dari Website kita adalah Indonesia.

 

Akhirnya, .info pun Saya Pilih …

Saya pun tertarik mendaftarkan Domain International untuk saya pribadi, dan .info pun menjadi pilihan saya karena relevant dengan Blog saya ini yang tidak terpaku pada Genre dan Topik tertentu, pokoknya share informasi saja.

Kalau .com kan agak sedikit spesifik, misalnya mengenai Computer, Commerce, Commercial, Company, dsb

Sedangkan .info menurut saya sangat relevant dengan Blog saya ini, bisa diartikan sebagai “Informasi dari Lukmanul Hakim”.

Domain lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info ini potensinya bisa Go International dalam artian tidak identik dengan Indonesia, karena merupakan gTLD (Global Top Level Domain), bukan cTLD (Country Top Level Domain). Global artinya Umum dan berlaku International, orang dari belahan dunia mana pun bisa memiliki Domain .info.

Sedangkan alasan kenapa saya juga mendaftarkan luqmanulhakim.info, karena coba Anda ucapkan nama saya, pasti tidak ada bedanya, akan sulit memastikan apakah menggunakan K atau Q, daripada orang salah alamat, mending saya daftarkan keduanya.

 

Peruntukan Domain-domain Saya

Jadi, Domain al-hakim.id dan alhakim.id saya gunakan untuk Pesonalisasi Nama saya untuk Email yakni [email protected] yang aliasnya [email protected], juga Subdomain lukman.al-hakim.id dan lukman.al-hakim.id yang tentu tersedia juga versi K dan versi Q.

Sub-sub Domain lainnya yakni cdn.lukman.al-hakim.id saya gunakan sesuai namanya, untuk kebutuhan Hostname CDN Blog ini, juga tersedia versi K dan versi Q.

Maksudnya versi Lukman dan Luqman.

 

Dua Domain diatas mutlak bagi saya untuk Email Address, bahkan penggunaannya bisa jangka panjang, bahkan sampai untuk anak dan cucu saya nanti. Karena aL-Hakim (Hakim) adalah Last Name (Nama Belakang) saya yang bisa menjadi Nama Keluarga saya nanti. Istri dan Anak Cucu saya berhak menggunakan Domain al-hakim.id dan alhakim.id untuk Email Pribadi-nya kelak atau Blog/Website Pribadi-nya dengan menggunakan Subdomain dari Domain al-hakim.id dan alhakim.id.

Jauh banget ke depan ya pemikiran saya, semoga Allah panjangkan umur saya dalam ketaqwaan 🙂

 

Sedangkan Domain Utama untuk Blog ini, saya menggunakan lukmanulhakim.id dan luqmanulhakim.id pada dan sampai saat ini tetap saya gunakan, untuk menegaskan bahwa ini Blog dari Indonesia, dimiliki Orang Indonesia, ditulis oleh Blogger Indonesia, dengan Bahasa Indonesia, dsb. Dan lukmanulhakim adalah identitas saya.

Relevant saja kan ?

Itulah kenapa Domain lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info saya jadikan sebagai Alias saja, anggap saja versi gTLD (General Top Level Domain) atau versi International dari Blog saya ini 🙂

Bisa saja lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info akan saya buat Blog Versi International dengan menggunakan Full Bahasa Inggris kan ?

 

Sebagai Alias/Parked Domain

Coba saja akses lukmanulhakim.info, maka di Address Bar pada Browser tidak akan berubah ke lukmanulhakim.id, tapi jika Anda mengakses luqmanulhakim.info, Domain itu akan Redirect ke lukmanulhakim.info.

Oh ya, ada satu Domain saya lagi yakni lukmanul.id yang anggap saja versi singkat dari Domain Blog saya ini, karena Lukmanul adalah First Name saya 🙂

Sayang sekali luqmanul.id tidak bisa saya daftarkan karena sudah didaftarkan orang lain 😀

 

Saya Suka Domain Extension .ID

Meskipun saya sudah memiliki Domain .info tapi menurut saya Domain .id adalah Domain paling Universal, sudah seperti .com saja.

Jika .info relevant untuk Blog saya ini, maka untuk Email jadi aneh 😀

Bukankah Email itu Identity ?, maka dengan Extension .id menurut saya lebih cocok untuk Email daripada .info.

Tapi Domain lukmanulhakim.info dan luqmanulhakim.info juga aktif kok emailnya, semua Domain saya menggunakan fitur Catch All Mail.

Jika Saya Harus Memilih …

Jika saya harus memilih dari semua Domain yang saya miliki yang semuanya merujuk kepada nama saya. maka saya akan mempertahankan Domain al-hakim.id, alhakim.id, lukmanulhakim.id, luqmanulhakim.id, lukmanulhakim.info, dan luqmanulhakim.info. Sedangkan lukmanul.id menurut saya kurang kuat posisinya di hati saya, meskipun itu nama depan saya. Alasannya juga sudah sangat detail saya jelaskan disini.

Seharusnya Lukmanulhakim jika dipisah maka menjadi Lukman aL-Hakim jika First Name dan Last Name, atau menjadi Lukman AL Hakim jika First Name, Middle Name, dan Last Name. UL dari aL-Hakim nempel di Lukman seperti nanggung banget tanpa ada maknanya jika hanya ditulis First Name saja, Lukmanul, jahhhh ! 😀

Makanya Nickname saya adalah Lukman, bukan Lukmaul, saya lebih suka dipanggil menggunakan Last Name saya yakni Hakim jika ingin formal.

Nama saya memang hanya benar jika ditulis dalam tulisan Arab saja, yang jika nama depan saja dibaca Lukman, jika nama belakang saya dibaca aL-Hakim, jika disambung depan dan belakang jadi Lukmanulhakim.

Apa jadinya jika Last Name diutamakan ?, menjadi Hakim Lukmanul 😀

 

Ribet yah, begitulah sob, setiap nama memiliki dilematika masing-masing, khususnya nama yang sebenarnya bahasa lain, khususnya Bahasa Arab, namun ditulis dalam Bahasa Indonesia.

Nama saya memang ada 2 versi, pakai K dan pakai Q, itu pun pemisahan Lukmanulhakim menjadi Lukmanul Hakim hanya karena terpaku pada kata Hakim yang memang sudah familiar di Indonesia, kan aneh jika dipisah jadi Lukman Ulhakim ? 😀

Itulah alasan kenapa saya tidak suka Domain lukmanul.id, meskipun itu adalah First Name saya. Lebih baik disambung saja sekalian menjadi lukmanulhakim, daripada lukmanul. Sayang sekali memang hakim.id sudah didaftarkan orang lain 😀

Tapi ada juga sih sisi kerennya, huruf awal dan akhir sama-sama L 😀

Meski begitu, karena luqmanul.id sudah dimiliki orang lain, saya khawatir orang akan nyasar ke luqmanul.id ketika mendengar saya menyebutkan Domain lukmanul.id yang dikira ditulis menggunakan Q.

 

Mahal memang jadinya, tapi apa boleh buat, saya tau mengenai kaidah-kaidah menentukan Domain, segala potensi failure yang mengakibatkan orang salah alamat saya tutup.

Ini Project Personal Blog soalnya sob, mengingat nama saya termasuk Mainstream, saya patut bersyukur bisa mendaftarkan Nama Domain lukmanulhakim.id, luqmanulhakim.id, al-hakim.id, alhakim.id, lukmanulhakim.info, dan luqmanulhakim.info.

Oh ya ada yang unik dengan Domain lukmanul.id dan luqmanul.id, saya cek di Whois, ternyata pemilik Domain luqmanul.id memang namanya ditulis Luqmanul Hakim, sedangkan saya ditulis dengan Lukmanul Hakim, jadi fair yah ? 🙂

Terus terang Domain lukmanul.id ini yang sangat membuat saya bingung apakah dipertahankan atau tidak ?, disatu sisi Lukmaul adalah Official First Name saya, itu tidak bisa dipungkiri, ketika mengisi Form First Name dan Last Name, namun yang ditampilkan hanya First Name, jelas tertulis Lukmanul.

Ketika Chatting pun jika pola registrasinya demikian, lawan chat saya lebih sering menuliskan nama saya Lukmanul, karena begitulah adanya, kecuali saya minta dipanggil Lukman saja, baru lawan chat saya mengerti.

Konsep lukmanul.id sebagai versi singkat/short domain dari lukmanulhakim.id sangat relevant setelah saya pikir-pikir 🙂

 

Akhir kata, ini hanya bagian dari project blog saya ini 🙂

Semua alasan dan pertimbangan yang ada sehingga saya harus mendaftarkan Domain menggunakan K dan Q, dengan dan tanpa simbol strip (-), dengan extension .id dan .info, versi panjang lukmanulhakim dan pendek lukmanul, dsb. Itu menurut saya benar dan sudah relevant. Sehingga tidak bisa disebut pemborosan/wasting money. Itu semua adalah Asset/Property saya.

Semoga saja, Domain Extension .id dan .info kedepannya bisa lebih murah lagi, dan saat saya melakukan Renew Domain nanti bertepatan dengan diadakannya Promo Diskon 😀



Buka Full Version 〉


SSL Verified