Artikel Penuh || Tampilan Alternatif: Daftar Isi

Alasan Saya Tidak Lagi Pasang Anti-adBlock

11

Ilustrasi AdBlock

Bagi pengunjung setia Blog saya ini, pasti sudah tau kalau saya sempat lama memasang AdBlock Notifer pada Blog saya ini 😀

Saya sebut AdBlock Notifer, karena saya memang hanya mengingatkan saja bahwa AdBlock yang Pembaca gunakan aktif untuk Blog saya 🙂

Dan pesan itu ditampilkan dalam bentuk “Modal Dialog” (Bukan PoP Up), yang bisa ditutup dengan sangat mudah, tinggal klik saja disembarang tempat, asal masih di Tab yang sama. Dan dengan Cookie, pesan itu tidak akan muncul lagi di kunjungan selanjutnya, setidaknya selama 24 Jam 😀

Ada juga AdBlock Notifer yang hanya berupa Sticky Bar, dan bisa kita kondisikan agar Auto Close sesuai waktu yang kita inginkan, atau Manual Close dengan menempatkan tombol Close (×) pada pesan tersebut.

Saat ini, saya menggunakan AdBlock Notifer berupa Sticky Bar itu 😀

 

AdBlock Notifer Sangat Diperlukan

Saya memasang AdBlock Notifer yang lebih minimalis dan tidak menutupi konten, hanya sebagai pemberitahuan kalau iklan yang dipasang di Blog saya adalah iklan yang ramah dan tidak mengganggu. Karena AdBlock Notifer masih perlu, tidak seperti Anti-adBlock yang sangat mengganggu.

Ilustrasi AdBlock Notifer

Ilustrasi AdBlock Notifer

Jadi, AdBlock Notifer yang saya maksud itu hanya berupa Sticky Bar yang menginformasikan bahwa Blog ini hanya memasang iklan oleh Google AdSense, yang hanya menampilkan iklan yang relevant, dan berkualitas, serta tidak memasang iklan sampah yang mengganggu dan tidak mengandung atau berpotensi mengandung Malware dan/atau AdWare sama sekali.

Maksud dari “Iklan Sampah” itu bukan menghina, tapi realitanya memang demikian, iklan sampah itu adalah iklan yang berpotensi mengandung Malware dan AdWare, dan mayoritas iklannya adalah Spam dan Scam.

AdBlock Notifer ini meski disebut “Sticky Bar”, tapi saya tetap memperhatikan estetika, maka saya tetap mengizinkan agar pesan itu ditutup, bahkan saya bantu lagi agar pesan itu bisa hilang secara otomatis sesuai waktu yang saya tentukan.

Karena memang tujuan awalnya hanya sebagai pemberitahuan. Mengingat ketika AdBlock Aktif, maka seluruh iklan di Blog saya akan tidak muncul, jadi bagaimana pengunjung tau kalau iklan yang ada di Blog saya bukan iklan CPM mengganggu seperti PopUnder, dsb ?

Maka dari itu, diperlukan AdBlock Notifer seperti ini 🙂

 

Baik banget kan saya ?

Iya dong, karena niat saya ngeblog adalah share informasi, bukan monetize, yah meskipun saya sudah menyatakan (lupa di mana) kalau Blog saya ini adalah Blog Monetize, tapi itu dulu sob !

Seiring waktu berjalan, saya pun memurnikan niat saya ngeblog hanya untuk share informasi saja, yang artinya berbagi manfaat kepada sesama 🙂

Alhamdulillah, Allah memberikan reward untuk saya dalam bentuk dan sumber yang tidak disangka-sangka !

Buktinya tanpa sponsor dan earning dari Ads pun Blog saya bisa tetap hidup kan ?

Tetap online bahkan menggunakan Cloud Server terbaik yang berlokasi di Singapore, saat artikel ini saya tulis 🙂

Jujur saya katakan, saya menggunakan Server mahal loh, bukan Server murah dengan kualitas murahan 😀

Pokoknya ada saja duit untuk bayar hosting 😀

Bahkan ada juga yang transfer balance ke Paypal saja lewat halaman Donasi di Blog ini 🙂

Lumayan loh kalau dirupiahkan 😀

Dengan uang itu, saya bisa bayar hosting, dan bahkan mendaftarkan 2 Domain berekstensi .info yakni lukmaulhakim.info dan luqmanulhakim.info, dan uang itu juga saya gunakan untuk keperluan lain Blog ini.

Demi Allah, pahala akan mengalir terus kepada Donatur, setiap manfaat yang bisa saya berikan kepada pembaca setia Blog saya, tanpa mengurangi pahahala untuk saya 🙂

 

Jadi, Buat Apa Pasang Anti-AdBlock ?

Ilustrasi Anti-adBlock

Ilustrasi Anti-adBlock

Anti-adBlock itu sebutan yang lebih extreme dari sekedar AdBlock Notifer, karena kalau sudah Mode Anti-adBlock, maka sebelum AdBlock dinonaktifkan atau Domain Blog tersebut dimasukkan ke Whitelist, maka konten tidak akan bisa dibaca oleh pengunjung !

Perbedaannya hanya pada tersedia atau tidaknya opsi untuk menutup Notifikasi seperti Screenshoot diatas tanpa perlu menonaktifkan AdBlock.

Jujur, dari banyak netizen yang membicarakan perihal itu, selalu mengatkan “Jika ada Website yang menggunakan Anti-adBlock, maka saya akan klik tombol Back atau Close Tab, dan cari Blog/Website lainnya” !

Ada juga yang memilih mengakali, yakni “Jika mereka pakai Anti-adBlock, ya saya pakai Anti-adBlock Killer :D” !

Perlu sobat ketahui, “Anti-adBlock KIller” itu semacam Script atau Tools yang sesuai namanya, bisa mematikan Anti-adBlock pada Website yang menerapkan itu, sehingga konten bisa dibaca meskipun seluruh iklan tidak tampil (Blocked).

Nah Anti-adBlock Killer ini lumayan banyak digunakan Netizen, terbukti ketika saya pernah mengaktifkan Mode Anti-adBlock pada Blog saya ini, tetap saja menurut statistic Blog saya, Anti-adBlock itu berhasil dibaypass, dan jumlah Page View-nya lumayan banyak, artinya banyak yang pakai Anti-adBlock Killer 😀

Saya mengaktifkan Mode Anti-adBlock hanya sebentar saja dan hanya bertujuan untuk percobaan saja 😀

Sekali lagi, buat apa pasang Anti-adBlock ?

Ending-nya hanya 2, kalau tidak mental/bounce rate meningkat karena organic visitor kabur semua saat melihatf notif yang menyuruh mereka menonaktifkan AdBlock, ya mereka pasang Anti-adBlock Killer 😀

Memurnikan Niat Ngeblog

Saya yakin, rejeki sudah Allah atur, jadi ngapain maksa ?

Tujuan utama ngeblog saya adalah sharing informasi yang Insya Allah bermanfaat kepada sesama 🙂

Soal Monetize, tentu saja ada, dan itu Allah yang atur mengenai segala sesuatunya !

Dan saya tau dan sadar betul bahwa AdBlock adalah termasuk hak setiap manusia loh, sama halnya ketika seseorang memilih tidak mengklik iklan PTC di sebuah Website, maka penggunaan AdBlock adalah karena pilihan dia untuk tidak menampilkan iklan CPM dan PTC sekaligus.

Ingat, ada jenis iklan CPM yang sangat mengganggu seperti PopUnder, Pop-up, Interstitial, New Tab, dsb yang dikit-dikit bikin Mobile Device jadi getar diiringi pesan kalau Smartphone kena virus.

Itu sungguh menyebalkan, dan tidak sedikit tudingan miring pada Blog/Website yang menerapkan iklan sampah seperti itu, yakni dikatakan Website-nya banyak mengandung virus. Dan itu bisa bikin orang kapok untuk balik lagi.

 

Saya terus terang saja pernah bermain dengan iklan sampah seperti itu, tapi tidak lama, karena langsung saya hilangkan dari Blog saya ini. Hey, ini Blog Pribadi, bukan situs ilegal content macam online streaming film bajakan, software bajakan, dsb. Orang akan kabur dan tak akan kembali lagi, berbeda halnya jika Website saja ini menyajikan “Gula” yang bikin “Semut” berkumpul, meski banyak “Sampah” disekitarnya.

 

Bahkan, karena saya memurnikan niat saya ngeblog, Saya Diterima Menjadi Publisher Google AdSense secara Langsung tanpa Review Tahap Ke-2 !

Terlepas dari hal teknis yang memungkinkan hal itu, yang disinyalir memang Google lagi baik hati saat itu, terbukti banyak Blog yang secara konten tidak memadai dan secara umur Blog masih muda, tapi diterima menjadi Publisher hanya sekali daftar saja.

 

Alhamdulillah 🙂

Ketika saya gagal di percobaan pertama dengan akun yang lain, saya pun memutuskan untuk stop maksain diri untuk mendaftar Google AdSense, dan saya pun menghapus secara total semuanya, termasuk Google Account yang didalamnya ada Account Google AdSense itu.

Makanya, saya katakan bahwa saya langsung diterima menjadi publisher Google AdSense tanpa review kedua, karena secara teknis saat itu saya hanya satu kali mendaftar dan langsung diterima hanya saat proses review tahap pertama saja, yakni memasang Page-level Ads di Header yang berfungsi sebagai Tracking dan Validasi kepemilikan Domain.

Jadi, ketika saya memurnikan niat untuk ngeblog tanpa pamrih, justru Allah kasih saya rizki !

Terus terang, ketika saya mencoba mendaftar Google AdSense lagi, itu niatnya murni hanya mencoba saja, menguji coba apakah optimasi Blog saya selama 6 bulan terakhir ini sudah Google AdSense Friendly atau belum ?, dan Alhamdulillah lulus 🙂

 

Ketika menjadi Publisher Google AdSense, tidak lantas menjadikan saya lebih parah lagi menggunakan Anti-adBlock atau AdBlock Notifer, oh tidak !

Saya justru memutuskan untuk tidak memasangnya lagi, karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, rizki itu Allah yang atur, dan penggunaan AdBlock adalah hak asasi manusia !

 

Setidaknya dari Mobile Device (Smartphone, Tablet, dll) lebih banyak yang dalam kondisi Unrooted sehingga tidak memungkinkan menggunakan Aplikasi AdBlock seperti AdAway, dsb

Dan ya, pengguna Mobile Device sangat-sangat banyak saat ini, itulah kenapa Blog saya ini sudah saya kondisikan agar lebih Mobile Friendly, salah satunya menggunakan Responsive Theme dan Optimasi File Gambar.

 

Saya senang sekali ketika saya menjadi Publisher Google AdSense, jumlah klik iklan (Valid Click) lumayan banyak, karena kelebihan Google AdSense adalah iklan yang relevant, ini berbeda dengan Ads Network berbasis PTC (Paid to Click) Lokal Indonesia yang tidak relevant, dimana artikel saya membahas Otomotif, Komputer, dsb tapi iklan yang muncul malah iklan dewasa dan money game 😀

Mohon kepada para pembaca Blog saya, jangan pernah melakukan Invalid Click, yakni mengklik iklan secara sembarangan dan banyak di Blog saya ini, saya tidak suka !

Karena itu dapat merugikan Advertiser (Pengiklan), dan saya pribadi sebagai Publisher juga akan dirugikan !

Kliklah iklan yang memang menarik menurut Anda dan memang Anda butuhkan, sesuai minat Anda, dan sangat diharapkan terjadi transaksi kepada pengiklan, baik itu produk maupun layanan 🙂

 

Bagi saya, iklan adalah informasi tambahan untuk pembaca, namun berupa penawaran produk atau jasa. Itulah kenapa saya hanya memasang Ads Network yang menampilkan iklan yang relevant.

Sebelum saya diterima menjadi Publisher Google AdSense, saya rela menggunakan Chitika yang merupakan partner Google AdSense yang disebut AdExchange, artinya ketika saya menjadi Publisher Chitika, maka iklan yang muncul adalah iklan Google AdSense. Itu saya lakukan ketika Blog saya ini belum layak menjadi Publisher Google AdSense, sehingga Chitika hanyalah sebuah alternatif, hanya Google AdSense-lah Ads Network utama di Blog saya ini.

Tapi Chitika tidak menghitung klik, jadi hanya murni CPM (Cost Per Million) saja, dengan Rate yang sangat-sangat kecil !, padahal Google AdSense sudah secara resmi mendukung Bahasa Indonesia, tapi Chitika masih US/EU Traffic Oriented !

Demi Allah saya katakan, itu saya lakukan hanya karena ingin memberikan informasi tambahan kepada pembaca Blog saya dalam bentuk penawaran produk dan/atau jasa. Bahkan saya tidak mendapatkan apa-apa dari Chitika, selama menjadi Publisher mereka, karena Rate CPM yang sangat-sangat kecil dan tidak dihitungnya klik iklan (saya yakin banyak yang mengklik iklan kok).

Alhamdulillah, sekarang Allah menggantikannya dengan yang lebih baik, yakni langsung menjadi Publisher Google AdSense 🙂

 

Saya sih menulis sesuai Passion saya dan Mood saya, tidak ada target apa pun yang ambisius. Ada banyak ide-ide tulisan yang ingin saya tuangkan ke dalam artikel di Blog saya ini, namun karena keterbatasan saya baik itu Passion, Waktu, Tenaga, Pikiran, dan Mood, maka seringkali ide-ide briliant itu hanya menjadi draft saja, baik itu di Blog ini maupun masih di dalam otak saya 😀

 

Akhir Kata

AdBlock Notifer = Okkay !

Anti-adBlock = Big No !

Invalid Click = HARAM !






Buka Full Version 〉


Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Saya terpaksa pending banyak sekali draft artikel di Blog saya ini karena saya merasa harus sesegera mungkin mengoptimasi seluruh konten gambar di Blog saya ini 😀

Yah, namanya juga “Blogger Newbie”, seiring berjalannya waktu dan lamanya berkutat dengan aktivitas blogging, tentu banyak sekali “Bug” yang saya tau terhadap diri saya sebagai Penulis sekaligus Webmaster dan juga pada Blog saya ini beserta seluruh isinya.

 

Bukan Publish Lalu Lupakan Saja

Saya bukan tipikal orang yang taunya hanya nulis lalu publish saja 😀

Saya akan selalu memaintenance seluruh apa pun yang berkaitan dengan Blog saya ini sampai seoptimal mungkin !

Optimasi itu mencakup namun tidak terbatas pada gaya penulisan, retorika bahasa, tipografi, konten gambar, security hardening, dsb.

Saat artikel ini saya tulis, usia Blog ini (bukan Domain) adalah kurang lebih sudah berusia 6 Bulan 🙂

Dan selama itu, ada ratusan konten gambar dan teks yang sudah saya produksi dengan Blog ini !

 

Sejak awal, target saya hanyalah bagaimana pun caranya, Blog saya harus memiliki banyak konten dalam waktu yang relatif singkat.

Itu bisa saya capai dengan cara memposting artikel minimal 1 artikel dalam 1 hari.

Dan untuk konten teks bisa dikatakan tidak banyak yang harus dibenahi, tapi tidak untuk konten gambar 😀

Sejak awal saya selalu mengupload konten gambar langsung ketika saya membuat artikel, dengan nama file sekenanya, judul gambar sesuai nama file gambar tersebut.

Ya memang tidak ada masalah, karena fokus utama saya memang konten berbasis teks alias artikel, bukan gambar.

Tapi, saya menimbun sebuah masalah kecil yang lama-lama menjadi masalah besar !

 

Salah Pilih Format Gambar

Sejak awal saya sudah salah dalam memilih format gambar ketika mencapture kebutuhan screenshoot untuk artikel-artikel saya.

Saya memilih format PNG yang merupakan format yang hanya menerapkan loseless compression. Seharusnya sejak awal saya memilih format JPG, karena format JPG itu adalah lossy compression.

Untuk memperbaiki kesalahan saya itu, saya menggunakan sebuah plugin bernama “PNG to JPG” yang bisa diinstall langsung melalui directory plugins di WP-Admin.

Nama File, Title, dan URL Slug yang Tidak Optimal

Perlu diketahui bahwa nama file akan secara otomatis menjadi URL Slug atau Path pada konten gambar itu sendiri.

Contoh: https://cdn.lukman.al-hakim.id/wp-content/uploads/2017/07/logo-lukmanul-hakim-v2.png

Untuk memperbaiki kesalahan terkait file name, saya menggunakan sebuah plugin yang sangat bermanfaat bernama “Media File Renamer”, dan sebagai pelengkap saya juga menggunakan plugin “Media Alt Renamer”. Fungsi plugins tersebut sesuai namanya adalah mengganti nama media file, dan mengganti Tag ALT pada konten media.

Pada free version dari plugin tersebut, kita memang hanya diizinkan mengubah nama file sama persis dengan judul/title pada gambar tersebut.

Maka, saya pun membuat format yang umum saja, sepeti penggunaan simbol titik dua “:” misalnya agar pengurutan file gambar menjadi lebih seragam pada kumpulan gambar pada artikel yang sama yang saling berkaitan, misalnya artikel tutorial.

Contoh: Trik Nama Akun Facebook: Berhasil Mengganti Nama Akun Facebook

Maka nama file yang akan otomatis digenerate adalah: trik-nama-akun-facebook-berhasil-mengganti-nama-akun-facebook.jpg

Ada banyak gambar terkait tutorial tersebut yang artikelnya bisa Anda baca disini.

Jadi, semua gambar akan diawali dengan kalimat: trik-nama-akun-facebook-

Nah itu kalau dibuka pada file explorer/manager, dan pengurutan file berdasarkan nama file, maka seluruh gambar yang terkait akan diurutkan sehingga manajemen-nya lebih mudah.

 

Lainnya, untuk gambar-gambar yang berdiri sendiri, misalnya gambar ilustrasi yang selalu ada pada setiap artikel, maka akan saya berkan awalan kata “Ilustrasi”, misalnya “Ilustrasi WWW”, dsb.

Karena sesuai namanya, gambar-gambar seperti itu hanya bersifat ilustrasi untuk menggambarkan isi dari artikel secara garis besarnya.

Gambar ilustrasi itu juga berfungsi sebagai thumbnail pada related post di Blog saya ini soalnya 😀

Dan sudah menjadi Standard Baku untuk menulis konten artikel berkualitas tinggi yang SEO Friendly dan Google AdSense Friendly 😀

 

Optimasi lainnya terkait URL Slug juga saya lakukan pada URL Slug dari sisi konten di WordPress itu sendiri, yakni URL ketika media file dilampirkan pada sebuah artikel. Jadi formatnya adalah: URL Slug Artikel/URL Slug Gambar.

Contoh: https://www.lukmanulhakim.id/trik-mengembalikan-nama-facebook-sebelumnya/trik-nama-akun-facebook-memilih-nama-akun-facebook/

Untuk mengubah URL Slug lampiran gambar itu, kita tidak perlu menggunakan plugins apa pun, dan kita bisa membuat URL Slug yang berbeda dengan Title.

Tapi saya memilih menggunakan URL Slug yang sama dengan Title Gambar, karena bayangkan saja ada ratusan gambar yang harus saya handle 😀

Jadi, saya cukup copy paster judul gambar pada form URL Slug-nya, dan akan otomatis dikonversi ke format yang sesuai, yakni spasi diganti strip, dan menggunakan huruf kecil semua.

 

Hanya satu hal yang tidak sangkup saya lakukan kali ini, yakni membuat Deksripsi untuk setiap gambar 😀

Waaaah bisa stress saya bro 😀

Seandainya saya sadar sejak awal, maka bisa dilakukan sejak awal kan ?

Tapi tenang saja sih, untuk Deksripsi dan bahkan Keterangan Gambar bisa dilakukan kapan-kapan saja dan secara bertahap, karena yang urgent menurut saya adalah Title, URL Slug, ALT, dan File Name.

Secara umum, apa yang saya lakukan diatas adalah Image Search Engine Optimization (SEO).

 

Optimasi Ukuran File dan Resolusi Gambar Maksimal

Untuk kebutuhan ini, saya memilih Lossy Compression, dan mengingat sebelumnya sudah saya migrasikan dari PNG ke JPG yang lebih baik dalam Lossy Compression.

Opsi Lossy Compression yang saya pilih pun yang Advanced 😀

Saya menggunakan layanan Imagify yang juga menyediakan Plugin bernama Imagify juga. Karena ukuran keseluruhan konten gambar saya lumayan besar, melebihi jatah gratisan per bulannya yang hanya 25 MB/Bulan dengan Limitasi maksimal ukuran file yang bisa diproses hanya 2 MB/File.

Maka saya pun membeli One-time Plan 1 GB seharga $9,99.

Saya memilih Imagify karena dari pengujian yang saya lakukan, ukuran file hasil Ultra Lossy Compression-nya yang terkecil dibandingkan layanan/plugin serupa lainnya.

Dan selain itu, juga karena pola penarifan layanan berdasarkan ukuran file, bukan jumlah file.

Sayangnya, saat artikel ini saya tulis, Imagify belum mendukung format *.webp, yakni menggenerate/convert file *.png/*.jpg menjadi *.webp sebagai tambahan gambar untuk kebutuhan Web Caching, seperti yang diterapkan pada Google PageSpeed Module for Nginx/Apache.

 

Hasilnya ?

Semula, total keseluruhan file gambar baik original file maupun seluruh thumbnail berbagai ukuran di Blog saya ini, sudah mencapai 450’an MB !

Namun ketika sudah saya optimasi, turun secara signifikan menjadi hanya 80’an MB saja !

Mantap kan ? 😀

Hasil akhir itu selain karena Lossy Compression, juga karena sudah diubah dari format PNG ke JPG, dan maksimal resolusi gambar originalnya dibatasi maksimal 1320p.

Perlu sobat ketahui, Resolusi paling ideal yang paling besar untuk kebutuhan Blog secara umum hanyalah 1320p saja, maksudnya untuk ukuran lebar (Width) akan lebih ideal jika hanya maksimal 1320 pixel saja, sedangkan untuk ukuran tinggi (Height) bebas, karena jika dipaksakan akan aneh 😀

Tapi defaultnya WordPress akan membuat satu XXLarge Thumbnail berukuran 1320×500 pixel, yang mana jika gambar originalnya memiliki ukuran tinggi lebih dari 500 pixel maka akan dipotong (Crop).

Saya membatasinya masih menggunakan Plugin Imagify, jadi seluruh gambar dengan resolusi diatas 1320p akan diubah skalanya (re-scale) ke 1320p (width) dengan ukuran height/tinggi menyesuaikan.

Dan tentu saja, Blog saya menjadi lebih cepat dan ringan ketika diakses ! 😀

 

Penerapan Watermark pada Gambar

Bagi saya, ini penting !

Gambar yang saya bubuhkan watermark adalah gambar yang merupakan hasil jepretan saya sendiri baik itu foto maupun screenshoot.

Selain itu, gambar yang sudah saya edit pun akan saya bubuhkan watermark.

Sebenarnya, bisa saja seluruh gambar baik yang bukan buatan saya sendiri saya bubuhkan watermark, karena setiap gambar di Blog saya ini memanfaatkan resource saya baik itu Server, Storage, dan Image Optimization berbayar !

Jadi, statement “Property of Lukmanul Hakim” itu berarti bahwa konten gambar itu berada di “Tanah” saya. Itu berbeda dengan statement “Copyright of …” dsb

Tapi saya tidak lebay 😀

Hanya file gambar yang benar-benar saya anggap perlu saja yang saya bubuhkan watermark.

Untuk kebutuhan ini, saya menggunakan Plugin “Image Watermark”, yang menurut saya yang terbaik saat ini dan gratis sepenuhnya.

Tips: Jika sudah membubuhkan watermark, pindahkanlah folder backup “iw-backup” di ~/public_html/wp-content/uploads ke direktori lain, misalnya pindahkan ke Home Directory saja. Karena sesuai namanya, isi dari folder itu adalah semua gambar original yang tidak dibubuhi watermark sama sekali, dan karena posisinya di directory public_html, maka tentu bisa diakses oleh semua orang.

 

Troubleshooting Thumbnail yang Kacau di Artikel

Dampak yang membuat kacau konten artikel setelah melakukan semua optimasi diatas, khususnya karena plugin Media File Renamer adalah thumbnail di artikel yang rusak, karena File Not Found.

Apalagi jika sebelumnya Anda kebiasaan menamai file dengan huruf besar kecil seperti “Ini adalah Nama File.jpg” sebelum mengupload ke WordPress, maka akan dikonversi menjadi “Ini-adalah-Nama-File.jpg”, maka ketika diubah oleh Plugin Media File Renamer, semuanya akan menjadi huruf kecil semua, dan gambar thumbnail di artikel akan hilang. Tidak akan bisa diatasi hanya dengan mengedit artikel saja.

Untuk masalah itu, kita perlu menggunakan sebuah plugin bernama “Regenerate Thumbnail” yang akan menghapus seluruh thumbnail lama dan membuatnya lagi secara keseluruhan, berbagai ukuran thumbnail yang dibutuhkan WordPress Default maupun Plugins lainnya yang membutuhkan ukuran thumbnail sendiri.

Alhamdulillah plugin ini gratis dan memberikan fitur Batch Process, sehingga bisa memproses ratusan gambar sekali jalan 😀

Plugin ini juga saya manfaatkan untuk menghemat quota dari plugin image optimizer seperti imagify, dsb

 

Kesimpulan

Ini pengalaman berharga bagi saya, dan semoga bermanfaat untuk siapa pun diluar sana yang baru mulai ngeblog.

Saran saya, optimasilah gambar di Blog Anda sejak awal !

Ingat, semua gambar di Blog kita sejatinya adalah konten juga yang bernilai dimata Search Engine, karena semua Search Engine saat ini mendukung Image Searching.

Dari gambar yang berkualitas, judul dan deskripsi yang optimal, maka akan mengundang lebih banyak Organic Visitor dari Image Search ke artikel bersangkutan dimana file gambar itu dilampirkan.



Buka Full Version 〉


Saya Putuskan untuk Beralih dari Format Gambar PNG ke JPG

0

Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Saya memang mengoptimasi habis-habisan konten gambar/foto di Blog saya ini, dan saya menemukan fakta bahwa format PNG itu tidak ideal untuk Website, dalam hal ini termasuk Blog !

Disini saya tidak akan membahas semua tentang gormat PNG dan JPG, akan ideal jika dibahas di artikel tersendiri.

 

Karena Opsi Default

Saya sejak awal menggunakan Format PNG karena secara default, Software Screenshoot Tool yang saya gunakan adalah menggunakan Output berformat PNG.

Jadi memang hanya gambar-gambar berupa Screenshoot saja yang menggunakan format PNG, dan jika konten gambar itu berupa foto hasil capture di Kamera, entah itu Kamera Standalone maupun Kamera pada Smartphone/Tablet PC, maka saya secara otomatis tentu menggunakan format JPG.

Alhamdulillah, saya tidak lantas fanatik dengan format PNG sehingga rela repot-repot mengkonversi lagi format JPG itu ke format PNG.

Jadi memang, saya menggunakan format PNG bukan karena saya memilihnya, tapi karena itu adalah Default Output Option di Screenshoot Tools yang saya gunakan 😀

Sebenarnya bisa saja saya ubah, namun entah kenapa kualitas gambar screenshoot menjadi jelek jika output menggunakan format JPG, akan lebih baik jika screenshoot menggunakan format PNG dulu, lalu kemudian dikonversi menjadi format JPG dengan kualitas gambar 100%, yang nanti akan saya optimasi lagi menggunakan Imagify di WordPress. Itu saya lakukan agar ketika dilakukan Lossy Compression, kualitas gambar akan tetap bagus, tapi ukuran file menjadi sangat kecil, bisa 80% lebih kecil daripada sebelumnya.

 

Optimasi File PNG VS JPG

Nah, saya juga mendapati fakta bahwa format JPG itu pada dasarnya adalah Lossy Compression sejak awal, sama seperti format MP3 jika pada file audio, sedangkan format PNG itu pada dasarnya adalah Loseless Compression sejak awal, sama seperti format FLAC jika pada file audio.

Maka dari itu, ketika saya menggunakan format JPG, maka Lossy Compression yang lebih Advanced yakni menggunakan Plugins/Tools seperti Imagify, ShortPixel, dsb, didapatkan hasil yang lebih baik, yakni ukuran file lebih kecil, dengan resolusi gambar yang sama, dan kualitas gambar yang tidak ada bedanya menurut mata manusia normal.

Ini berbeda ketika saya menggunakan format PNG, lalu saya lakukan Lossy Compression menggunakan Imagify, dsb. Hasilnya tidak signifikan, hanya kisaran 20% saja, itu pun saya sering menemukan kualitas masih lebih baik JPG ketika dilakukan Lossy Compression dengan Advaced Image Optimization seperti Imagify, dsb.

Karena pada dasarnya format PNG adalah Loseless Compression, dan algoritka “Lossy Compression” pada Advanced Image Optimization tentu berbeda dengan algoritma pada format JPG yang notabene sudah merupakan Lossy Compression sejak awal.

 

Hasilnya ?

Hasilnya menurut saya sangat siginifkan !

Jadi, awalnya total keseluruhan konten gambar di Blog saya ini baik itu gambar utama maupun thumbnail, itu ukurannya 400’an MB, itu adalah ukuran keseluruhan file dimana saya masih menggunakan format PNG pada mayoritas konten gambar di Blog saya ini.

Tapi ketika saya mengkonversikan seluruh gambar PNG Non-transparent ke format JPG, total keseluruhan file gambar baik itu gambar utama maupun seluruh thumbnail berbagai ukurannya, itu ukurannya hanya 150’an MB saja !

Mantap kan ? 😀

Itu adalah ukuran total gambar setelah dilakukan optimasi menggunakan Imagify.

Karena uniknya, ketika belum dioptimasi, justru ukuran file gambar yang sama antara format PNG dan JPG, itu lebih kecil format PNG. Tapi ketika dilakukan Lossy Compression menggunakan Imagify, hasilnya lebih kecil ukuran file JPG daripada PNG, dengan kualitas gambar yang lebih baik pada file JPG, dengan gambar yang sama persis.

Saya memilih Imagify daripada layanan lainnya karena hasil optimasinya lebih baik, ukuran file lebih kecil, dan kualitas gambar lebih halus, dan juga kinerja Plugins pada WordPress yang lebih baik, dengan User Interface yang cantik, modern, dan user friendly, harga layanannya pun dihitung berdasarkan ukuran file, bukan inodes/jumlah file. Tersedia juga Free Plan dengan jatah 25 MB/Bulan dengan Limit 2 MB/File. Jika membeli One-time Plan, maka Limit yang ada bisa lebih dari 2 MB/File dan jatah 25 MB/Bulan tetap diberikan tiap bulan, jadi jika saya beli 1 GB One-time Plan dan saya hanya pakai 500 MB untuk Massive/Batch Optimization untuk kali pertama, maka untuk selanjutnya saya akan dapat 25 MB gratis tiap bulan dan tidak ada batasan ukuran file gambar yang dioptimasi.

 

Dampak lainnya setelah saya mengkonversi seluruh file PNG Non-transparent ke format JPG adalah, waktu Load Blog saya ini lebih cepat dan ringan.

 

Kenapa Hanya Non-transparent PNG ?

Ya karena format JPG tidak mendukung Transparent Background, saya menggunakan format PNG hanya untuk gambar-gambar yang membutuhkan Transparent Background seperti Logo dan Watermark.

 

Bagaimana Cara Migrasi dari PNG ke JPG ?

Perlu Anda ketahui bahwa pada WordPress, ketika kita mengupload gambar, itu sebenarnya data mengenai konten gambar itu ditulis pada Database. Jadi jika Anda hanya mengkonversi file gambar dari PNG ke JPG saja, maka tidak akan terdeteksi oleh sistem.

Untuk itu, Anda perlu Tools yang dapat mengkonversi format PNG ke JPG dan juga memperbaiki record di database yang semula *.png menjadi *.jpg.

Alhamdulillah, sudah ada Plugin untuk kebutuhan itu, yakni: PNG to JPG.

Sesuai namanya, plugin tersebut berfungsi untuk mengubah format gambar PNG ke format JPG dan juga memperbaiki record pada database.

Tidak hanya gambar utama saja, plugin tersebut juga mengkonversi seluruh thumbnail dari file gambar utama.

Plugins ini memiliki algoritma khusus untuk mendeteksi mana file PNG yang memiliki background yang transparan dan mana yang tidak, dan kita bisa mengkonversi seluruh file PNG yang tidak memiliki background yang transparan, tapi kita juga diberikan opsi untuk mengkonversi seluruh file PNG yang memiliki background transparan. So, terserah Anda 😀

 

Jangan Buang File PNG Aslinya

Ini penting !

Karena kelemahan format JPG adalah jika kita melakukan editing, maka kualitas gambar akan semakin menurun, itu menjadi kelebihan format PNG karena file PNG ketika dilakukan editing tidak akan mengakibatkan penurunan kualitas.

Itulah salah satu alasan kenapa seluruh Screenshoot Tools yang ada di dunia ini menggunakan format PNG sebagai default-nya. Karena umumnya Screenshoot tentu dicapture dulu, lalu kemudian dilakukan editing, entah itu pemberian tanda panah, lingkaran, persegi, blur/sensor, teks, dsb.

Jadi, jika sebelumnya file konten gambar berformat PNG lalu dikonversi ke format JPG, maka versi PNG-nya dibackup/disimpan saja, dan simpanlah file yang belum dioptimasi sama sekali oleh plugin Image Optimization.

Begitu juga pada file konten gambar yang berformat JPG sejak awal, simpanlah versi yang belum dilakukan optimasi, karena ketika nanti dilakukan editing, kita melakukan editing pada file JPG yang belum dioptimasi, agar tidak terjadi penurunan kualitas yang signifikan.

Biasanya pada plugin Image Optimization selalu ada fitur Backup untuk seluruh file yang belum dioptimasi, maka jika ingin melakukan editing, sebaiknya editlah file yang ada pada folder backup dari plugin tersebut, dan ketika perubahan sudah disimpan, kembalikan file yang belum dioptimasi itu ke folder backup tersebut.

Tips: Tahu kah Anda bahwa yang menjadikan layanan Image Optimization itu berbayar adalah Resource yang mereka sediakan untuk melakukan Massive/Batch Optimization ?, sedangkan untuk melakukan optimasi gambar dalam jumlah kecil pihak penyedia layanan akan menggratiskannya pada Tool Versi Website.

Maka dari itu jika toh hanya beberapa file saya (sedikit) yang dilakukan editing ulang, kita tidak perlu restore file yang sudah dioptimasi ke versi yang belum dioptimasi di Plugins WordPress tersebut, karena jika melakukan optimasi ulang menggunakan Plugins tersebut akan dikenakan biaya/mengurangi Credit dan jatah Quota per bulan kita.

Optimasilah file gambar yang diedit tadi menggunakan Tool Optimasi yang mereka sediakan di Website mereka, lalu re-upload ke folder/direktori dimana file gambar itu disimpan di Server untuk public (jangan re-upload ke folder backup).

 

Akhir Kata

Ada banyak sekali yang saya lakukan dalam project optimasi konten gambar di Blog saya ini, dan tidak semuanya mampu saya dokumentasikan, dan saya sudah malas jika dikit-dikit pakai gambar screenshoot 😀

Maka mohon maaf jika saya terkesan tidak memberikan bukti nyata berupa screenshoot mengenai fakta yang saya kemukanan disini, misalnya penurunan ukuran total seluruh konten gambar beserta thumbail dari 400’an MB ke 150’an MB, dsb.

Saya sangat kerepotan mengoptimasi seluruh gambar di Blog saya ini, dan ini menjadi pelajaran untuk saya dan siapa pun bahwa sebaiknya pelajariah, ketahuilah, dan terapkanlah kiat-kiat dalam optimasi gambar sejak dini, sejak awal Website mulai memproduksi konten bergambar. Karena akan cukup merepotkan, jika melakukan massive optimization ketika jumlah konten gambar sudah sangat banyak.

Saya melakukan optimasi gambar setelah 6 bulan sejak Blog saya ini mulai aktif memproduksi konten, dan saya cukup kerepotan 😀

Alhamdulillah, sekarang sudah banyak Tools yang bisa digunakan, baik itu Software pada Komputer, Plugins pada WordPress, baik itu gratisan maupun berbayar. Setidaknya mengurangi tingkat stress yang saya alami dan mengurangi resource yang harus saya alokasikan seperti Waktu, Tenaga, dan Pikiran. Meskipun harus dibayar dengan sejumlah uang, dan itu sepadan 😀

Ini baru mengenai optimasi format gambar dan ukuran file gambar saja loh, belum nanti mengenai Image SEO (Search Engine Optimization).

Tahu kah Anda jika sebenarnya setiap gambar yang kita upload ke Blog itu sebenarnya sama halnya dengan artikel yang kita publish ?

Ya, konten gambar juga perlu URL Slug yang SEO Friendly, Title/Judul, Tag, Deksripsi, dab yang juga SEO Friendly.

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan (termasuk saya) adalah saat file gambar berada di Komputer (belum diupload), maka nama file menggunakan huruf kapital.

Contoh: Ini Adalah Sebuah Gambar.jpg .

Maka ketika diupload ke Blog, URL Slug yang digenerate adalah Ini-Adalah-Sebuah-Gambar.jpg .

Padahal idealnya, sebuah URL Slug menggunakan huruf kecil semuanya, sehingga biasakanlah menamai file gambar menggunakan huruf kecil semuanya.

Dan khusus untuk gambar, sebaiknya URL Slug sama dengan Image Title.

Berbeda dengan Artikel dimana sebaiknya URL Slug maksimal adalah 5 kata saja, meskipun berbeda dengan Judul Artikel yang bisa lebih panjang.

 

Sekali lagi saya katakan, optimasilah gambar sejak awal 😀



Buka Full Version 〉


Pentingnya Membubuhkan Watermark pada Konten Gambar

0

Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Sejak awal, saya sudah membubuhkan Watermark hampir pada semua konten gambar di Blog saya ini, Signature yang saya gunakan untuk Watermark adalah seperti pada gambar “Property of Lukmanul Hakim” diatas.

Karena pengalaman saya sudah cukup banyak mengalami dampak negatif ketika Properti/Aset saya berupa Gambar/Foto tidak diproteksi menggunakan Watermark. Ya, benar, Watermark itu Copyright Protection !

 

Contoh Penerapan Watermark pada Gambar

Berikut adalah contoh salah satu aset saya berupa gambar yang saya proteksi menggunakan Watermark:

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Saya masih belum lebay dalam menerapkan Watermark, masih belum aman dari teknik Cropping dan Patching.

 

Alasan Saya Menggunakan Watermark

Coba lihat contoh gambar yang saya terapkan Watermark diatas. Itu adalah gambar yang saya capture sendiri menggunakan equipment milik saya sendiri dan resource yang saya gunakan ketika saya mengerjakan Project Memperbaiki Masalah Touchpad Acer Aspire E11.

Itu aset saya bro !

 

Lantas dari Apa Saya Melindungi Aset Saya Itu ?

Dari Manusia-manusia tak tau malu yang suka mereproduksi konten milik orang lain (Copaster) !

Saya tidak pernah bermasalah jika artikel saya dicopas, asalkan memberikan Backlink ke artikel yang dia copas di Blog saya ini dan tentu saja harus meminta izin terlebihdahulu. Dan saya paling benci dengan pemain AGC (Auto Generate Content).

Demi Allah saya ngeblog dengan niat yang tulus untuk berbagi manfaat kepada orang lain, tapi jika akibat artikel saya dicopas tanpa etika, maka itu akan merugikan saya, karena Ranking Blog saya akan turun di mata Search Engine.

Dan buat apa sih Copas itu ?, kalau toh juga masih di ranah Blogging ?, kalau mau Share, tinggal Share saja Link menuju artikel ini kan beres ?, bisa ke Social Media juga. Kecuali ke Makalah atau apa (Hard Copy) itu baru wajar-wajar saja melakukan Copas, tapi tetaplah beretika dengan menyertakan Link ke artikel itu di Blog ini pada bagian Sumber/Daftar Pustaka.

 

Tapi saya sudah bisa bernafas lega karena Google sudah memiliki Update khusus yang memberangus habis Blog-blog AGC dan Copaster yang mana jika nekat melakukan itu, dia rugi sendiri, ranking Blog-nya tidak akan lebih baik daripada Blog asli yang memiliki hak cipta atas konten tersebut !

Makanya, mulai Tahun 2010’an kalau tidak salah, para Blogger sudah mulai meninggalkan kebiasaan Copas, dan mulai melirik jasa Content Writer (Jual Beli Konten/Artikel), bahkan Copy – Paste – Edit (Copasdit) pun sudah tidak aman lagi.

Dan seharusnya para Blogger Copaster itu malu dan sadar diri, jika konten di Blognya isinya artikel Copas, berarti dia tidak mampu menjadi Blogger, dan biasanya waktu jua yang akan mematangkan mental para Blogger seperti itu. Bukankah Manusia itu salah dulu baru kemudian benar ?

 

Nah, disinilah peran aktif pemilik hak cipta konten itu diperlukan !

Salah satunya ya dengan membubuhkan Watermark pada konten gambar, dan proteksi DMCA pada konten Teks. Itulah kenapa saya tidak menerapkan Right Click Protection.

 

Manfaat Membubuhkan Watermark pada Gambar

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, watermark bisa mengurungkan niat para Content Plagiat untuk mencomot dengan sembarangan, tanpa izin konten kita, bahkan tidak cuma gambar saja, namun artikel secara keseluruhan (Gambar dan Teks).

Kenapa ?

Jika artikel yang kita buat banyak memuat gambar-gambar, seperti misalnya artikel Tutorial, dan gambar (baik foto maupun screenshoot) itu diproteksi dengan Watermark, maka orang akan sedikit segan mencopas artikel kita itu.

Karena mereka para copaster juga punya gengsi tersendiri, yakni sebisa mungkin artikel tersebut terkesan milik dia sendiri, termasuk additional stuff seperti gambar-gambar di dalam artikel tersebut. Lantas bagaimana bisa diklaim jika gambar tersebut memuat Watermark ?, ya jelas ketahuan kalau artikel itu hasil copas 😀

Mereka juga umumnya memperhatikan estetika, jadi sangat jarang saya temukan Watermark tersebut ditambal/ditutupi dengan objek lain, ataupun dicrop/dipotong.

Alhasil, untuk para copaster yang masih level mengengah ke bawah akan mengurungkan niatnya untuk mereproduksi artikel kita.

Karena dia masih sedikit punya malu, yakni malu kalau artikel yang dia copas itu ketahuan bukan buatannya, ketahuan hasil copas, ketahuan punya orang.

 

Watermark Bukan Masalah bagi Blogger Whitehat

Maksudnya, kalau niatnya memang menggunakan gambar milik orang lain sebagai ilustrasi, tambahan info dan data, meskipun memiliki Watermark pun tidak masalah dimasukkan pada artikel buatan sendiri, bahkan lebih afdol lagi jika disertakan Link Sumber (Bukan Anchor Link) pada Caption gambar tersebut.

Malahan itu menambah wibawa kita dan reputasi kita dimata pembaca maupun Search Engine.

Sungguh, tidak ada sedikitpun hal yang memalukan dalam hal ini, justru sangat memalukan jika menggunakan gambar milik orang lain tanpa menyertakan sumber sama sekali !

 

Kesimpulan

Watermark adalah proteksi, dan secara dramatis mencegah konten kita dicopas oleh orang lain, dan jika pun tetap dicopas apa adanya termasuk gambar berWatermark tersebut, pembaca di Blog orang itu akan tau kalau artikel yang dia baca adalah hasil copas, dan jika Watermark menyertakan Link, bisa saja pembaca tadi akan dengan senang hati mengunjungi Blog asli pembuat artikel bermanfaat yang barusan dia baca.

So, sudahkah Anda memproteksi aset gambar Anda dengan Watermark ?



Buka Full Version 〉


Optimasilah Gambar Website Sebelum Terlambat

0

Imagify

Jadi saya ceritanya baru sadar kalau saya selama ini kurang optimal dalam penggunaan konten gambar di Blog saya 😀

Padahal saya bukan tipikal orang yang terlalu suka dengan sesuatu yang Otomatis dan Praktis, apalagi jika itu Berbayar 😀

Tapi gambar-gambar di Blog saya sudah mencapai lebih dari 450 saat saya mulai ingin mengoptimasinya lebih extreme 😀

 

Ukuran Resolusi Maksimal yang Ideal ?

Selama ini sebenarnya saya sudah melakukan optimasi gambar baik SEO maupun Performance, tapi masih level biasa 😀

Optimasi yang saya lakukan dari sisi Performance selama ini hanyalah Loseless Compression saja, dan tidak ada Optimasi apa pun pada Scale/Resolusi Gambar !

Masa saya mengupload gambar dengan resolusi 3000’an ke atas ?, parah kan 😀

Pokoknya settingan tertinggi di Kamera Gadget saya apa adanya langsung saya Upload jika tidak ada yang perlu Crop atau Highlight 😀

Tau sendiri kan kamera gadget saat ini canggihnya sudah seperti apa ?, baik Pixel maupun Resolusi.

Padahal resolusi tertinggi yang ideal di WordPress adalah 1320p atau biasa disebut Thumb XXLarge dengan resolusi 1320×500 pixel (Default), tapi kita bisa mengacu pada ukuran Width/Lebar saja yakni 1320 pixel, sedangkan High/Tinggi bebas saja alias menyesuaikan, agar tidak merubah bentuk gambar didalamnya. Misalnya 1320×728, maka sistem akan otmatis generate Thumbnail dengan ukuran XXLarge yakni 1320×500 meski gambarnya menjadi sedikit terlihat aneh (Cropped).

Nah, perlu diingat point diatas, yakni Uploadlah hanya File Gambar dengan Resolusi Maksimal 1320p !

Artinya jika dibawah 1320p, ya biarkan saja meskipun angkanya tidak menentu. Apalagi jika gambar-gambar hasil Screenshoot dan Cropping biasanya tidak menentu angka Width dan High-nya. Intinya adalah ukuran Width maksimal adalah 1320 pixel.

 

Loseless, Lossy Compression, dan Format *.Webp

Setidaknya ada dua jenis kompresi yang ada pada optimasi file gambar/foto, yakni Loseless dan Lossy Compression.

Yah, seperti file compression media lainnya lah sob 😀

Misal untuk Audio File, kita mengenal format *.FLAC yang merupakan Loseless Compression, maka ada juga *.MP3 yang merupakan Lossy Compression.

Tapi pada File Gambar, file extension sama sekali tidak berubah, kecuali yang terbaru, Google merilis format File Optimization *.webp yang umum digunakan pada Google PageSpeed Module (Auto Generate *.webp) yang versi komersialnya bisa kita temukan pada JagoanHosting/Beon Web Accelerator.

Tapi nampaknya format *.webp sudah mulai diterapkan diluar Google PageSpeed, karena beberapa Plugins Image Optimizer seperti ShortPixel sudah mendukung konversi ke format *.webp yang penggunaannya didukung oleh Plugins Cache seperti LiteSpeed Cache, CacheEnabler, dsb. Dan format ini sudah mulai didukung beberapa Provider CDN (Content Delivery Network).

Jika implementasinya sudah umum, maka kedepannya meskipun Blog kita menggunakan format gambar *.jpg, *.png, *.gif, dsb, tapi setiap halaman yang dihasilkan oleh Cache Plugins tersebut akan menggunakan format gambar *.webp. Itulah kenapa, meskipun menggunakan format *.webp, tapi file gambar yang sama dengan format lain yang sudah umum seperti *.jpg, *.png, dan *.gif akan tetap ada di Server, tidak lantas digantikan begitu saja, karena format *.webp ini sejauh percobaan saya sulit dilakukan editing maupun optimasi, jadi harus berupa hasil akhir yakni file dengan format umum dioptimasi dan diedit dulu, baru akhirnya dikonversi ke format *.webp. Yah, anggap saja format gambar yang fungsinya hanya untuk Read Only untuk Web View, sesuai namanya (Web Picture).

Bahkan format *.webp ini saat artikel ini saya tulis, belum didukung oleh Image Viewer umum, bahkan oleh Plugins Lightbox.

 

Untuk Loseless Compression, ada banyak sekali Tools Gratisan yang bisa digunakan, dan bahkan sudah ada yang Batch Mode (Simultan), ada Versi Plugin (Beberapa Plugins Image Optimizer memberikan fitur Loseless Compression secara gratis) dan ada Versi Desktop Application/Software. Di Linux, ada software bernama Trimage yang bisa mengkompresi gambar dengan format .jpg, .png, dan .gif secara Loseless.

Tapi, untuk Lossy Compression lain ceritanya !

Karena kehebatannya, jenis kompresi ini pun menjadi komersial 🙁

Lebit tepatnya versi Batch Processing-nya yang dikomersialkan.

Saya pribadi masih belum dapat algoritmanya, hehe 😀

 

Batch Process ?, Perlu Biaya Lebih !

Jika Anda ingin mengoptimasi banyak file gambar secara simultan, maka akan sangat sulit menemukan Tools untuk melakukan itu dengan jenis Lossy Compression !

Banyak yang Free Lossy Compression, tapi bersifat Demo versi Website saja, yakni kita mengupload satu gambar saja, kemudian diproses, dan hasilnya kita download, sangat merepotkan dan membuang-buang waktu kan ?, tapi itulah konsekuensi gratisan, saya yakin ada banyak orang yang punya banyak waktu yang rela melakukan itu 😀

Itulah kenapa, banyak penyedia layanan Lossy Image Optimization menyedian One-time Plan, karena biasanya untuk New User yang masih “First Optimization” akan memerlukan Resource yang besar untuk melakukan Batch Optimization dari file gambar yang pertama diupload sampai file gambar terakhir, sisanya bisa menggunakan Free Plan yang disediakan oleh penyedia layanan Plugin Image Optimizer.

 

Saya pribadi terpaksa merogok kocek saya sebesar $10 loh untuk kebutuhan itu 😀

Saya tidak ingin membuang-buang waktu saya yang lebih berharga daripada uang senilai $10, bahkan lebih dari waktu, saya juga tidak ingin mengorbankan Resource tubuh saya yakni Tenaga dan Pikiran hanya untuk melakukan Lossy Compression secara Manual untuk file gambar berjumlah ratusan files !

Padahal saya belum bisa dikatakan telat loh melakukan optimasi gambar, karena tanpa Thumbnail, seluruh gambar di Blog saya hanya berjumlah sekitar 450’an files saja dengan ukuran kisaran 80’an MB saja, kecil sekali kan ?

Tapi, sekali lagi saya juga harus efisiensi/optimasi waktu, tenaga, dan pikiran saya dong ya ?, lagipula One-time Plan yang disediakan paling kecil 500 MB dengan harga kisaran $6, itu cukup murah atau lebih tepatnya Worth It (Sepadan) lah.

Saya pun berpikiran bahwa daripada tanggung mending saya order saja One-time Plan sebanyak 1 GB senilai $10, toh Quota saya itu tidak ada Expired Time-nya, artinya sampai Quota itu habis saja. Tau deh sampai kapan, anggap saja Desosit 😀

Oh ya, saya memilih Imagify untuk keperluan Lossy Compression ini (mereka menyebutnya Ultra Compression Mode).

Sebenarnya ada yang lebih mantap yakni ShortPixel yang pola perhitungan layanannya berdasarkan Inodes, yakni Jumlah File, bukan Ukuran File seperti Imagify, dan hasil Lossy Compression-nya juga bisa lebih kecil dari Imagify, dan sudah mendukung format *.webp. Imagify belum mendukung format *.webp. Tapi saya sudah dikonfirmasi oleh pihak Imagify bahwa kedepannya Imagify akan mendukung format *.webp generator/converter.

Saya lebih tertarik dengan Imagify dan pada akhirnya memilih Imagify dengan melakukan pembelian One-time Plan 1 GB senilai $10 (lebih tepatnya sih $9,99). Karena saya pikir lebih hemat pola perhitungan File Size daripada Inodes. Bayangkan saja 1 File Gambar utama bisa memiliki 10 File Thumbnails berbagai ukuran, bahkan bisa lebih dari itu jumlah Thumbnails-nya. File Gambar saya selama ini sampai saya lakukan optimasi untuk pertama kali saja berjumlah 4000’an File, padahal File utamanya cuma 250’an saja dengan ukuran file sekitar 80’an MB saja !

Apalagi untuk selanjutnya, saya ingin mengoptimasi juga setiap Thumbnail yang digenerate ketika saya mengupload gambar baru, karena saya ingin praktis, agar saya bisa fokus membuat konten artikel berkualitas saja tanpa repot-repot melakukan optimasi gambar secara manual yang lumayan menguras passion saya karena ribet. Meskipun saya bukan tipikal yang suka serba otomatis, tapi jika otomatiasi itu berarti optimasi dan efisensi, maka kenapa tidak ?, saya selama ini seringkali mikir panjang untuk bikin artikel, karena saya udah terbayang betapa ribetnya optimasi gambar secara manual.

User Interface Imagify yang lebih Eye Catching, Modern, dan Canggih, serta sangat User Friendly 😀

Oh ya, fitur Resize On The Fly-nya lebih baik dari Plugins sejenis lainnya sejauh pengujian saya, karena saya cukup mengisi Max Widht Size saja, maka High Size akan mengikuti secara dinamis.

Dan yang paling saya suka, sistem/algoritma Imagify ini “Smart”, karena dia bisa menilai sebuah file gambar apakah layak dioptimasi atau tidak. Maksudnya jika file dianggap sudah Optimal, maka tidak perlu dilakukan Optimasi, tentu ini menghemat Resource, baik itu waktu, maupun Quota kita kan ?, dan tentu saja file yang sudah optimized tidak malah jadi rusak karena dilakukan optimasi lagi. Plugins sejenis ini juga melakukan proses secara penuh di Server milik mereka, sehingga Server Hosting yang kita gunakan tidak terbebani. Sepengalaman saya ya sob, untuk melakukan Loseless Compression saja membutuhkan Resource Server yang sangat-sangat besar, khususnya CPU Usage !, berdasarkan engalaman menggunakan Trimage di Laptop saya, 4 Core CPU habis digunakan cuma untuk Batch Process, padahal cuma Loseless Compression, apalagi Lossy Compression ?

Maka jangan heran dan protes jika layanan Batch Lossy Compression Process ini berbayar ya sob, karena Worth It lah 🙂

Saya dulunya bisa dikatakan pelit loh untuk urusan ini, karena saya belum melihat value-nya 😀

 

Meski Lossy Compression, Tapi Kualitas Gambar Tidak Berubah

Dengan Catatan: Menurut Mata Manusia Normal !

Ya, mau lihat hasil nyatanya ?, buka artikel dengan penggunaan gambar yang banyak seperti disini.

Maka Anda bisa melihat kualitas gambar yang sangat bagus, padahal perlu diketahi bahwa ukuran file tersebut sudah direduksi sebanyak lebih dari 80% dari ukuran aslinya dengan resolusi gambar yang tetap sama !

Itulah yang saya suka dari Lossy Compression, karena resolusi gambar tetap, tapi ukuran file bisa sangat signifikan berkuran, tanpa penurunan kualitas yang berarti menurut mata manusia.

Apalagi saya bukan Blogger Photography ya sob 😀

 

Jangan Berharap Banyak Mengurangi Disc/Storage Usage di Hosting

Ya, jangan berharap bisa dengan signifikan mengurangi jumlah penggunaan Storage di Web Hosting yang digunakan 😀

Kecuali jumlah gambar di Website Anda sudah sangat-sangat banyak dan ukuran file-nya besar-besar, maka dengan melakukan optimasi Lossy Compression akan cukup signifikan mengurangi Disc/Storage Usage.

Tujuan utama optimasi ini adalah menjadikan waktu load website yang lebih cepat dan ringan ketika mengakses Website kita, itu saja, sehingga secara SEO (Search Engine Optimization) juga akan lebih baik lagi.

 

Metode Pembayaran

Ini pasti menjadi pertanyaan juga, karena banyak kok yang mampu membayar, tapi terkendala di Payment Gateway/Methods. Karena provider dari luar negri, tentu tidak menerima Local Bank Transfer, melakukan Wire Transfer rasanya tidak worth it.

Maka disini saya katakan, hari gini masih bingung ?

Sekarang (Sudah lama sebenarnya) ada yang namanya VCC (Virtual Credit Card) yang bersifat Pre-paid dan Burned (Sekali Pakai), jadi seperti yang saya lakukan yakni membeli One-time Plan senilai $10 maka saya tinggal beli VCC tersebut dengan Saldo sebesar $10. Tentu Cost yang dikeluarkan untuk itu lebih besar untuk beli VCC dan Biaya Setup serta Fee lainnya, tapi tidak banyak, anggap saja biaya transfer online beda bank 😀

Sesuai kan ?, One-time Plan, maka gunakan VCC Sekali Pakai juga.

Saya lebih suka menggunakan VCC daripada Paypal karena lebih praktis, karena Balance Paypal saya selalu kosong, belum ada Income yang mengalir via Paypal soalnya 😀

Solusi lain ada yang namanya VCN (Virtual Credit Number), ini sama seperti VCC, dan ini merupakan fitur dari Bank Lokal seperti BNI46, CimbNiaga, dsb.

 

Kesimpulan

Optimasilah file gambar di website Anda sebelum terlambat, karena dengan Free Plan dari Plugins Image Optimizer seperti Imagify dan ShortPixel bisa saja sudah memenuhi kebutuhan optimasi file gambar bulanan Anda, tapi jika Anda tidak melakukannya dari awal, maka Anda berpotensi perlu mengeluarkan Budget lebih untuk membeli Resource yakni untuk melakukan Batch Processing.

Karena resource yang kita beli itu sepadan dengan efisiensi waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa kita hemat.



Buka Full Version 〉


Kubuntu KInfocenter

Akhir-akhir ini saya sibuk melakukan optimasi gambar di Blog saya ini, sempat mencoba banyak cara Manual, tapi akhirnya saya merasakan bahwa melakukan cara manual itu tidak efisien baik itu Waktu, Tenaga, dan Pikiran.

Hingga saya memutuskan untuk menggunakan Tools yang memang dirancang untuk itu, ada banyak pilihan, dan pilihan saya jatuh kepada Imagify, dan saya tentu saja membutuhkan Resource besar untuk mengoptimasi seluruh gambar mulai dari gambar yang pertama saya upload ke Blog ini, sampai gamabar terakhir yang saya upload. Makanya jika ingin Optimasi Gambar itu lakukan sejak awal !, agar layanan Free pun sudah cukup.

Alhamdulillah, tidak terlalu banyak Resource yang dihabiskan, sekitar 80’an MB saja, karena Opsi Optimize Thumbnail saya Disable. Jika Thumbnail ikutan dioptimasi, jumlahnya bisa sampai 250’an MB 😀

Itu Trick dari saya saja sebenarnya, untuk mengoptimasi Thumbnail, gampang sekali, saya hanya perlu memanfaatkan Plugin Gratisan bernama “Regenerate Thumbnails”.

Sesuai namanya, maka jika Tool itu saya jalankan, maka Thumbnail berbagai ukuran akan dibuat ulang berdasarkan file utama yang sudah dioptimasi sebelumnya dengan Imagify. Hasilnya, saya bisa hemat Resource ratusan MB 😀

Ya, Imagify memang menghitung berdasarkan File Size, tidak seperti ShortPixel yang menghitung berdasarkan Inodes (Jumlah File).

Dengan Imagify, saya/kita mendapatkan Resource sebesar 25 MB/Bulan secara gratis dengan Limit File Size 2 MB/File untuk Free Plan.

Namun jika kita membeli One Time Plan (seperti yang saya lakukan, saya beli 1 GB One Time Plan), maka Limit akan naik lebih dari 2 MB/File, dan bulan depan tetap dapat 25 MB Gratis.

Saya memilih Imagify karena saya jatohnya lebih murah dari ShortPixel untuk First Usage yang membutuhkan banyak Resource, dan secara User Interface, Imagify lebih cantik dari ShortPixel. Memang pilihan saya menjadi hanya Imagify VS ShortPixel karena opsi lain sudah saya kesampingkan/eleminasi.

Dan menurut riset yang saya lakukan, dengan pola tarif berdasarkan File Size itu lebih menguntungkan daripada Inodes, karena sering sekali gambar-gambar yang saya punya itu masih dibawah 2 MB/File, akan rugi jika menggunakan ShortPixel. 200 File Gambar saja bisa kurang dari 15 MB menurut perhitungan saya.

Karena untuk kebutuhan Blogging, saya sudah Setup Kamera saya agar tidak jauh melebihi 1320p (Maksimal Resolusi terbaik untuk Blog WordPress yakni Thumbnail XXLarge).

 

Oke, sudah cukup mengenai Image Optimizer-nya 😀

Saya bahas itu, karena saat proses optimasi itu, saya melihat banyak gambar saya yang dibubuhi Watermark, tapi ada yang menggelitik saya dan membuat saya khawatir, yakni ada Logo Kubuntu di Logo Blog ini dan termasuk pada Watermark !

Selanjutnya, sesuai Judul Artikel ini, maka saya memutuskan untuk sedikit mengubah Desain Logo dan Watermark Blog ini agar tidak bermasalah dikemudian hari, jika dipermasalahkan pihak terkait, dalam hal ini adalah pihak Canonical/Ubuntu yang notabene pemilik Trademark Logo Kubuntu yang saya gunakan menjadi bagian dari Logo dan Watermark Blog saya.

Logo Lukmanul HakimBisa Anda lihat sendiri bahwa pada Logo tersebut memuat Logo Kubuntu 😀

Alasan saya menggunakan Logo Kubuntu adalah karena saya suka KDE (K Desktop Environment), saya pengguna Linux, dan Logo Kubuntu terlihat seperti Gear, dimana saya memiliki Passion di bidang Otomotif, bisa Anda lihat bahwa Blog saya selain membahas IT, juga membahas Otomotif. Dan Gear bisa melambangkan Engineering/Teknik secara umum.

Property of Lukmanul HakimNah yang bermasalah adalah pada Watermark, selain ada statement “Property of Lukmanul Hakim” (Takut disalahartikan bahwa Logo Kubuntu juga termasuk), juga karena Watermark bersifat permanent. Saya tidak ingin dikemudian hari, ketika gambar sudah banyak dibubuhi Watermark tersebut, dan ternyata dipermasalahkan terkait penggunaan Logo Kubuntu, saya repot sendiri mencari gambar-gambar aslinya yang belum dibubuhi Watermark, iya kalau sudah editing, kalau belum ?, saya harus Crop lagi, Edit lagi, dsb. Dan seiring waktu berjalan dan lama, pastilah jumlahnya akan sangat-sangat banyak !

Dan itu sudah terjadi saat ini, saya terlanjur menghapus Backup dari Plugin Watermark yang saya gunakan, sehingga gambar asli yang tanpa watermark hilang total !

Alhamdulillah, karena hali ini saya sadari sejak dini, maka jumlah file-nya masih sedikit, dan di benak saya masih bisa saya prediksi masih bisa saya handle 😀

 

New Logo and Watermark of www.lukmanulhakim.id

Nah, berikut adalah Logo dan Watermark Baru untuk Blog Saya:

Logo Lukmanul Hakim V2

Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

 

Apa Bedanya ?

Masih berdasarkan Logo Kubuntu, hanya saja ditengahnya saya tambahkan Lubang/Bolongan selayaknya Gear pada umumnya 😀

Jika sebelumnya Logo itu adalah Logo Kubuntu yang terlihat mirip Gear, maka kali ini adalah Gear yang terlihat mirip Logo Kubuntu 😀

Minimal tidak menggunakan secara vulgar 😀

Saya bisa saja menggunakan Logo Gear lain, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya menggunakan Logo Kubuntu sebagai Dasar adalah karena saya pengguna Linux, suka Ubuntu dan KDE, khususnya Kubuntu yang notabene Ubuntu yang menggunakan KDE. Meski saya tidak melulu menggunakan Kubuntu untuk bisa menggunakan KDE, saya bisa menggunakan OpenSUSE, LinuxMint KDE, Fedora dengan KDE, ArchLinux dengan KDE, dsb.

Tapi Kubuntu, itu spesial !, karena ada Ubuntu dibelakangnya, dan saya sangat suka dengan Filosofi Ubuntu 🙂

 

Setidaknya, saya tidak mengklaim bahwa Logo Kubuntu itu buatan saya !

Sekali lagi, Logo Kubuntu adalah bagian dari Trademark dan Copyright milik Canonical selaku pemilik sah Ubuntu, dan Kubuntu khususnya.

 

Evolusi Logo itu memang wajar dan biasa terjadi, dan anggap saja Logo Blog saya kali ini adalah Logo V2 😀



Buka Full Version 〉


Mengatasi Masalah Touchpad Acer Aspire E11

0

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 Sudah Rapi

Jadi ceritanya ini Notebook (Laptop) punya adik saya (makanya warnanya Pink), adik saya mengeluh bahwa Netbook dia itu seringkali ngaco Pointer Mouse-nya, liar kesana kemari dan tidak bisa dikendalikan lagi.

Masalah itu tidak selalu terjadi, datangnya tiba-tiba secara acak, semakin lama Laptop digunakan, maka masalah itu akan muncul, mungkin saja dipengaruhi suhu atau temperature Laptop itu sendiri dan tergantung dari listrik statis yang diproduksi oleh tubuh penggunanya. Makanya masalah itu seringkali terjadi jika sedang menggarap project atau laporan, sangat menyebalkan karena pekerjaan yang dilakukan berjam-jam bisa hilang begitu saja karena tidak bisa menyimpan file yang sudah dibuat dan diubah itu.

Untuk menormalkannya Laptop harus direboot atau restart secara paksa, jika tidak tau, maka akan melakukan cara yang salah, yakni dengan menekan tombol power dengan durasi tertentu, sehingga Laptop akan power off secara paksa.

Sudah 1 Tahun lebih masalah Laptop itu dia alami, solusi dari saya saat Laptop itu masih baru adalah dengan mengganti Operating System dari Windows menjadi Linux, dan saya pilihkan Distro Linux Ubuntu untuk adik saya itu.

Alasannya ?

Karena di Linux, kita bisa melakukan reboot paksa dengan cara yang lebih baik, yakni langsung menghubungi Hardware langsung melalui kernel, dengan cara menekan kombinasi tombol PRTSC / SYSTRQ + R + E + I + S + U + B , beri jeda beberapa detik ketika menekan setiap tombol itu, karena prosesnya terjadi secara background, kita tidak melihat apa-apa di layar, tapi kernel sedang melakukan prosedur yang aman untuk melakukan reboot.

Alhamdulillah, 1 Tahun pun Harddisk Laptop ini tidak rusak 😀

Ya, jika Laptop atau Komputer dimatikan secara paksa dan salah, yakni dengan cara menekan dan menahan tombol power, maka Harddisk berpotensi mengalami kerusakan.

 

Dulu saya tidak ingin membongkar Laptop adik saya ini, karena masih segel dan garansi, masalahnya saya selalu tidak punya waktu untuk mengklaim garansi Laptop itu, dan adik saya juga sibuk dan membutuhkan Laptop itu.

Kombinasi solusi Auto Save pada Software yang digunakan atau kesadan sendiri untuk selalu menekan kombinasi tombol CRTL + S , dan solusi “safe reboot” sudah diatas diarasa sudah cukup saat itu.

 

Nah baru sekaranglah saya bisa mengeksekusi/membongkar Laptop itu, karena sudah jarang digunakan dan masa garansinya pun sudah berakhir.

Daripada menyerahkan ke Service Center, lebih baik saya handle sendiri, masa orang IT masih pakai jasa orang lain ?

Lagipula karena garansi sudah habis, maka tentu saya akan mengeluarkan ongkos/biaya untuk reparasi itu 😀

Penyebab Masalah Touchpad Acer Aspire E11

Cukup mudah bagi saya mengetahui masalahnya sejak awal dulu, karena Touchpad itu sangat sensitif terhadap listrik statis, sehingga perlu Grounding yang reliable.

Dan ketika saya bongkar, saya pun menemukan bahwa Grounding pada Touchpad hanya menggunakan semacam Grounding Tape saja !

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Grounding Tape Kualitas Rendah Touchpad Acer Aspire E11

Saya lupa mengambil/capture foto before dan after 😀

Intinya Grounding Tape itu menghubungkan permukaan tembaga di Touchpad ke bagian logam di body Touchpad itu.

Pada gambar diatas, lingkaran paling besar berwarna merah itulah Grounding Tape yang digunakan, dan pada gambar itu kondisinya sudah saya lepas.

Pita itu semacam serat seperti kain, namun memiliki sifat konduktif atau menghantarkan listrik.

Tapi masalahnya, yang namanya Tape, ya tentu memerlukan sifat adhesive/merekat kan ?

Dan itu memerlukan lem yang dapat mengurangi konduktivitas dari Grounding Tape tersebut !, karena lem bersifat hambatan.

Ketika Grounding Tape saya lepaskan, tertinggal bekas lem di permukaan tembaga pada Touchpad, persis seperti Double Tape saja 😀

Saya perlu menggunakan Acetone untuk menghilangkan bekas lem itu.

Nah itulah akar masalahnya, yakni Grounding Tape tidak berfungsi dengan baik akibat hambatan atau resistance-nya meningkat, ya karena lem itu tadi yang menjadi perantara antara permukaan tembaga di Touchpad dengan Grounding Tape tersebut.

 

Solusi Masalah Touchpad Acer Aspire E11

Karena material permukaan grounding pada Touchpad adalah tembaga, maka itu artinya timah solder bisa menempel dengan sempurna.

Maka, solusi terbaik adalah dengan menyolder kabel tembaga pada permukaan tembaga di Touchpad itu.

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 ke Body

Modif Grounding Touchpad Acer Aspire E11 ke Body

Tips: Temperature solder jangan terlau panas, dan durasi penyolderan jangan lama-lama, karena bagian plastik Trackpad pada Touchpad akan meleleh !, dan sebaiknya gunakan kabel single core serabut berdiameter kecil saja.

 

Oke, salah satu ujung kabel bisa menempel dengan sempurna, tapi ujung lainnya ?

Disolder ke Grounding di Body tidak memungkinkan karena material logamnya tidak bisa disolder, timah solder tidak bisa menempel sama sekali.

Maka “Teknik Jepit” pun saya lakukan 😀

Sebenarnya bisa saja dengan cara dipasang ke salah satu skrup di yang menempe ke Grounding, seperti skrup untuk Motherboard, dsb

Tapi menurut saya akan menarik banyak kabel, dan kebetulan saya tidak punya skun ukuran kecil untuk kebutuhan itu, kan tidak lucu jika kabel dililitkan ke skrup 😀

Saya pun memutuskan untuk menjepit saja diantara sambungan Grounding di Body Touchpad ke Grounding di Body itu (Lihat Gambar).

Maka, ujung kabel-nya pun saya perkuat dengan timah solder juga agar lebih mantap 😀

 

Dan, Acer Aspire E11 Touchpad Issue pun Solved !

 



Buka Full Version 〉


×
SSL Verified