Kategori Oprekan

Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Kebetulan motherboard yang saya gunakan adalah Gigabyte B450 Aorus Pro WiFi yang memiliki fitur Dual BIOS.

Asiknya, saya bisa dengan leluasa melakukan Upgrade maupun Downgrade BIOS. Ya, kita bisa melakukan Downgrade BIOS di motherboard yang memiliki fitur Dual BIOS !

Sejak menggunakan motherboard ini, saya disibukkan dengan memory overclocking, karena RAM yang saya beli itu XMP 3600Mhz, tapi tidak bisa jalan di mobo ini dengan prosesor AMD Ryzen 5 2600 (Zen+), paling tinggi itu di 3400Mhz CL14, saya rasa itu worth it saja, mengingat 3600Mhz paling ketat timing-nya di CL16.

Itu pun, hanya bisa berjalan di BIOS versi F5, saya sudah coba semua versi yang ada, tidak bisa stabil di 3400Mhz CL14 !

Ternyata ada sebabnya sob, jadi BIOS versi F5 itu versi AGESA-nya masih murni yakni 1.0.0.6 khusus Pinnacle Ridge yakni prosesor yang saya gunakan, sedangkan versi di atasnya sudah COMBO dengan AGESA untuk prosesor tipe lainnya sehingga tidak optimal.

Oke, saya sudah menemukan versi BIOS yang optimal dan kesimpulan saya tidak selalu versi terbaru itu lebih baik, tapi…

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Platform AMD Ryzen ini sejak generasi ke dua alias Zen+ seharusnya sudah tidak rewel lagi soal memory, dan memang benar adanya, tidak seperti pada generasi pertama. Bahkan mulai generasi ketiga, AMD Ryzen sudah mampu berjalan di kecepatan tinggi dengan mudah, hanya saja Write Copy-nya disunat jadi setengah pada varian dibawah Ryzen 9 akibat desain Chiplet yang diterapkan di Zen2, tapi praktik di real life sepertinya tidak berpengaruh negatif karena CPU Cache yang diperbesar, angka Write Copy yg kecil hanya terlihat pada software benchmark AIDA64 saja.

Tapi ada satu hal yang sebenarnya dan seharusnya ditujukan pada platform Intel tapi seolah dipaksakan di platform AMD, yakni Intel XMP (Xtreme Memory Profile).

Sebenarnya AMD juga punya yakni AMP (AMD Memory Profile), tapi sangat jarang sekali vendor memory yang secara spesifik mengoptimasi dan memvalidasi dan mensertifikasikan bahwa memory-nya mendukung AMP, justru vendor motherboard yang memasukkan fitur Intel XMP di motherboard untuk platform AMD. Maka jika pun ada, mereka tetap pakai XMP, tapi value konfigurasinya sudah tested and validate untuk platform AMD Ryzen, dan harganya mahal.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Desain Nozzle Gun untuk Pengisian Galon pakai Selang: Bisa Tanpa Dipegang

Tidak dipungkiri bahwa ada satu masalah utama pada bisnis depot isi ulang air minum adalah ketidakmampuan dalam mengangkat galon.

Masalah itu sering dialami oleh wanita, dalam hal ini adalah istri saya tercinta 😀

Tapi meski istri saya mampu mengangkat galon, saya akan tetap mendesain dan menerapkan SOP (Standard Operation Procedure) pengisian galon menggunakan selang, karena saya sayang istri, saya tidak mau dia mengangkat yang berat-berat 😀

 

Kenapa Perlu SOP ?

Tentu SOP diperlukan agar menjamin kualitas produk dan layanan kepada pelanggan kita.

Dalam hal ini adalah menjamin kebersihan dalam proses pengisian (Filling Process).

Secara konvensional, SOP pengisian galon kosong adalah:

  1. Periksa apakah ada lumut di dalam galon ?, jika ada, maka bersihkan dengan menggunakan mesin sikat galon sampai benar-benar bersih tidak ada lagi lumut di dalamnya. Jika tidak ada lumut, proses ini boleh tidak dilakukan (langsung ke step 2 dibawah ini).
  2. Bilas galon kosong dengan menggunakan sprayer nozzle bertekanan tinggi dengan air steril hasil pengolahan alat filtrasi dan sterilizer di depot kita, sebagai finalisasi proses pembersihkan.
  3. Isi galon di box khusus pengisian yang tertutup, untuk mencegah masuknya kontaminasi dari luar seperti hewan serangga kecil yang biasa terbang menghinggapi cahaya lampu.
  4. Bersihkan tutup galon sekali pakai menggunakan sprayer nozzle bertekanan tinggi dengan air steril hasil pengolahan alat fitrasi dan sterilizer di depot kita (sama seperti ketika membilas galon).
  5. Segera pasang tutup galon.
  6. Sertakan sterilizer tissue untuk nanti digunakan dalam pemasangan galon ke dispenser.

 

Nah yang di atas itu adalah SOP konvensional, yang memang ada masalah tersendiri yakni posisi box pengisian berada di atas, sehingga kita harus mengangkat galon yang sudah terisi untuk diserahkan kepada pelanggan.

Menjadi masalah jika operator tidak mampu mengangkat galon, menjadi masalah karena tidak mungkin pilih-pilih operator jika operator tersebut adalah wanita di keluarga, seperti ibu, istri, adik perempuan yang mau gimana pun lagi memang tidak kuat mengangkat galon.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



SSL Verified