Kategori Komputer

 

Logitech G103 Upgraded: Box

Ini project iseng-iseng saya aja 😀

Jadi ceritanya, saya kan fine-fine aja tuh pakai Logitech G103 Prodigy yang notabene suksesornya G102 Prodigy sejuta umat itu, bedanya dengan Logitech G-Pro selain sensor ya apalagi kalau bukan Braided Cable 😀

Saya pun iseng cari di online store yang menjual produk dari seller asal negara tirai bambu alias Tiongkok alias China yang seperti kita tau selalu ngasih free ongkir.

Alhamdulillah saya menemukan Braided Cable yang desainnya gammy banget, selain itu dia sudah Gold Plated USB Connector !

Saya scroll lagi ternyata ada juga yang jual Switch Omron seri tertinggi yakni D2FC-F-K  (50M), serta ada juga yang jual Rubber Grip untuk mouse kita tercinta ini.

Logitech G103 Upgraded: Switch Omron D2FC-F-K Samping Logitech G103 Upgraded: Switch Omron D2FC-F-K Atas

Logitech G103 Upgraded: Braided Cable Logitech G103 Upgraded: RGB Lightling

Ubahan lain yang saya lupa ambil fotonya adalah Feet Skates, itu loh yang bikin mouse ini licin ketika digunakan di atas mousepad 😀

Saya upgrade karena bawaan logitech menurut saya kurang bagus, tipis dan mudah rusak.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jadi ada 4 ubahan yang saya terapkan, yakni Braided Cable with Gold Plated USB Connector, Omron Switch D2FC-F-K, Rubber Grip, dan Feet Skates.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Full RGB Mechanical Keyboard

Ketika saya “hunting” atau mencari mechanical keyboard, tentu orang-orang yang katakanlah “Expert” dalam hal Computer Pheripheral khususnya Mechanical Keyboard, selalu saja mengutamakan Cherry MX Switch. Tidak salah sih, tapi itu kan subjektif banget.

Saya pribadi pengguna Kailh Switch, dan puas sekali dengan karakternya dan saya cocok (Dalam hati saya bilang “Alhadulillah isi dompet saya selamat”), soalnya tau sendiri lah kalau selera sudah fix mesti cherry mx switch, ya saya mesti merogoh kocek lebih dalam.

Sebuah “Gift” atau “Anugerah” soal kepekaan/sensitifitas rasa/feel itu bisa jadi musibah buat dompet, sama seperti ketika saya sangat peka terhadap feel berkendara pada sepeda motor matic saya, getar dikit, bunyi dikit (yang aneh), bakalan saya service, lama-lama saya merasa pengeluaran semakin besar untuk itu, saya pun belajar service sendiri, tapi pengeluaran tetap besar karena riset trial and error menggunakan part-part tertentu untuk menghilangkan gejala getar, dan bunyi aneh di sepeda motor saya. Bandingkan sama pengguna motor yang sama yang bedanya, dia “Mati Rasa”, mereka enjoy aja pakai tuh motor, toh yang penting jalan, no problem.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



ASUS ROG Strix GL503VD: RGB Backlight Keyboard

Kali ini saya ingin meluruskan mitos yang saya tau sudah beredar sangat luas dan diyakini oleh banyak orang, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Cabutlah Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Mitos itu adalah salah satu contoh logika terbalik, karena faktanya justru sebaliknya, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Jangan Cabut Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Saya sering melihat teman-teman saya yang sedang menggunakan laptopnya di dalam ruangan/indoor, awalnya dia ngecharge laptopnya sampai ketika sudah full 100%, maka charger itu pun dia cabut, sehingga laptop kembali menggunakan baterai sebagai sumber daya listriknya. Ironisnya, power adaptor dari charger masih terpasang ke stop kontak listrik di rumahnya, agar ketika baterai laptop sudah low/lemah lagi, maka dia pasang lagi charger ke laptopnya, begitu seterusnya.

Kalau saja alasan tindakan yang menjadi kebiasaan itu dilakukan karena alasan Penghematan Biaya dan Sumber Daya Listrik Rumah, maka bisa saya terima, dengan konsekuensi usia pakai baterai menjadi lebih singkat. Meski saya ragu jika dia mengatakan itu alasannya karena ketika charger dia cabut dari laptop, charger masih terpasang di stop kontak listrik rumahnya.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



SSL Verified