Kategori Troubleshooting

Modifikasi Mighty Blaster untuk Depot Isi Ulang Air Minum

Sebenarnya, ini adalah permintaan dari istri saya, agar proses pengisian galon di depot kami bisa dilakukan dibawah dan air diisi pakai selang.

“Apa ?, pakai selang ?”

Begitu respon pertama saya 😀

Soalnya saya baru kali ini dikasih tau ide seperti itu, dan ternyata sebelum kami menikah, istri saya sudah biasa ngisi galon di depot yang cara pengisiannya pakai selang langsung ke galon yang posisinya di bawah/lantai.

Kita semua tau bahwa prosedur pengisian galon di depot itu ya di dalam etalasenya, umumnya posisi pengisian galon berada di pertengahan, karena di bawahnya adalah tempat Filter Housing, di paling atas adalah tempat UV Sterilizer.

Saya pun memastikan lagi, seperti apa proses pengian seperti itu, apakah langsung pakai selang biasa begitu saja atau pakai nozzle khusus, saat itu dalam benak saya, pengisian dilakukan pakai nozzle seperti yang digunakan di SPBU.

Kalau pakai nozzle yang biasa dipakai di rumah, misal untuk menyemprot taman, lantai teras halaman, dsb, itu tentu tidak ideal, karena flow rate sangat kurang, karena nozzle seperti itu mengutamakan pressure.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Property of Lukmanul Hakim Watermark V2

Sekarang ini saya sudah memulai usaha depot isi ulang air minum yang sekaligus toko kelontong, yang pastinya menjual produk Yakult.

Nah, selama saya berjualan Yakult, saya heran kenapa sedotan kecil yang notabene punya produk lain itu selalu habis, padahal produk yang ngasih sedotan itu di paket penjualan masih banyak stocknya di kulkas/showcase.

Produk yang menyertakan sedotan kecil yang tajam itu adalah produk-produk minuman kemasan gelas plastik ukuran 200’an mL.

Setelah saya amati, ternyata konsumen atau pelanggan Yakult di toko saya mengkonsumsi Yakult menggunakan sedotan punya produk lain itu.

Memang sedotan-sedotan itu saya sediakan dalam wadah khusus yang mana pelanggan bebas mengambilnya.

Sebenarnya sedotan yang salah satu ujungnya dipotong runcing/tajam itu sering gagal juga ditusukkan ke kemasan minumannya, jadi pelanggan seringkali mengambil sedotan baru, tapi persentasenya cukup kecil, sehingga jumlah sedotan yang disertakan produsen produk bersangkutan Insya Allah cukup.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



ASUS ROG Strix GL503VD: RGB Backlight Keyboard

Kali ini saya ingin meluruskan mitos yang saya tau sudah beredar sangat luas dan diyakini oleh banyak orang, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Cabutlah Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Mitos itu adalah salah satu contoh logika terbalik, karena faktanya justru sebaliknya, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Jangan Cabut Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Saya sering melihat teman-teman saya yang sedang menggunakan laptopnya di dalam ruangan/indoor, awalnya dia ngecharge laptopnya sampai ketika sudah full 100%, maka charger itu pun dia cabut, sehingga laptop kembali menggunakan baterai sebagai sumber daya listriknya. Ironisnya, power adaptor dari charger masih terpasang ke stop kontak listrik di rumahnya, agar ketika baterai laptop sudah low/lemah lagi, maka dia pasang lagi charger ke laptopnya, begitu seterusnya.

Kalau saja alasan tindakan yang menjadi kebiasaan itu dilakukan karena alasan Penghematan Biaya dan Sumber Daya Listrik Rumah, maka bisa saya terima, dengan konsekuensi usia pakai baterai menjadi lebih singkat. Meski saya ragu jika dia mengatakan itu alasannya karena ketika charger dia cabut dari laptop, charger masih terpasang di stop kontak listrik rumahnya.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



SSL Verified