Kategori Linux

ASUS ROG Strix GL503VD: RGB Backlight Keyboard

Saya adalah Linuxer, dan setelah saya membeli laptop ASUS ROG Strix GL503VD, saya mendapati bahwa Touchpad pada Laptop ini kacau balau, liar tak terkendali.

Setelah saya telusuri, ini bukan masalah konfigurasi atau setting semata, tapi lebih dari itu, yakni Linux Kernel belum mendukung Touchpad yang digunakan laptop ini !

Kalau Anda googling, maka selain menemukan artikel ini, maka Anda juga akan mendapati situs-situs lain sedang mendiskusikan masalah ini.

Sampai artikel ini saya publish, belum ada solusi dari masalah ini kecuali dengan menggunakan Mouse tambahan, itu lucu bukan ? 😀

Bagi saya yang tipikal user yang lebih suka menggunakan Touchpad, karena ini Laptop, maka opsi itu bukan solusi bagi saya.

Kalau untuk Graphic Card NVidia GeForce yang digunakan laptop ini, itu sudah didukung oleh Linux, kita bisa menginstall Driver-nya dengan mudah, meski saat instalasi itu tidak bisa dilakukan, bahkan untuk booting ke Installer/Live Linux itu sendiri pun kita tidak bisa lakukan begitu saja, harus memodifikasi kode di GRUB-nya dulu.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Ilustrasi Linux Mint

Baru kemaren saya share alasan saya memilih Linux Mint (Selanjutnya saya sebut Mint saja) dan khususnya versi KDE, saya dapat kabar dari bro Farrel melalui kolom komentar bahwa Linux Mint KDE sudah “disuntik mati” alias discontinue 🙂

In continuation with what’s been done in the past, Linux Mint 18.3 will feature a KDE edition, but it will be the last release to do so.

Yah meski artikel itu membahas secara umum, tidak cuma versi KDE, karena faktanya Linux Mint merupakan polesan dari Ubuntu itu ciamik banget, tapi saya sebagai pecinta KDE tentu kecewa dengan keputusan pihak Developers Linux Mint bahwa versi KDE dihentikan pengembangannya di versi 18.3, tidak akan dikembangkan di versi 19 dan seterusnya.

Masalah utamanya adalah KDE menurut para pengembang Mint semakin menjauh dari kesamaan dengan DE (Desktop Environment) lain yang juga mereka kembangkan yakni Cinnamon (Berbasis Gnone) dan MATE (Berbasis MATE yakni Gnome Legacy/Versi 2).

Misalnya, KDE menggunakan toolkit berbasis Qt, sedangkan pengembang Mint menggunakan Xed, Blueberry, Mintlocale, the Slick Greeter yang notabene bisa mengcover 3 jenis DE yang berbeda, sayangnya KDE tidak termasuk.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Ilustrasi Linux Mint

Saya adalah pengguna Linux yang termasuk petualang Distro (Distribution Outlet) juga sih sob 😀

Sudah banyak distro linux yang saya coba, dan kesimpulan saya semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan justru yang bikin saya memilih suatu distro linux itu adalah faktor kemudahan, kenyamanan dan kestabilan. Pada dasarnya semua distro linux ya relatif sama saja, tapi tiap distro punya ciri khas masing-masing yang menjadi pembeda.

Dan semua mungkin setuju yah jika saya bilang kalau urusan kenyamanan, itu distro linux turunan Debian juaranya ?

Untuk urusan Desktop Environment (DE), saya KDE banget, kalau Gnome masih bisa saya tolerir asalkan menggunakan Unity Shell. Saya loh ya 😀

Awalnya saya seperti kebanyakan orang lain pencinta KDE, bahwa KDE itu ya openSUSE distronya !

Sempat lama juga saya menggunakan openSUSE, tapi saya tersiksa dengan komunitas openSUSE di Indonesia yang maaf, bagi saya kok seperti Hiatus gitu, sepi banget 😀

Sampai disaat saya mendapati masalah ketika menggunakan openSUSE dan tidak bisa melakukan troubleshooting, sudah googling pun tidak mendapatkan solusi, saya balik lagi ke Ubuntu, tapi karena saya suka KDE, saya pilih Kubuntu yang merupakan Ubuntu dengan KDE Desktop.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



×
SSL Verified