L

Hoarder Masuk !, Penemuan Kamera Jadul Saya yang Dulu Disimpan Karena Dikira Rusak !


Bismillahirrohmanirrohim


Penemuan Kamera Fujifilm dan Sony Jadul

Dalam artikel ini, sepertinya untuk kamera Fujifilm Flezz yang saya temukan di lemari di rumah saya ini tidak akan saya bahas, karena teknologinya sudah terlalu usang 😀

Disini saya hanya akan sharing mengenai penemuan kamera Sony Cybershot DSC-W630 saya saja 😀

Kedua kamera ini terlupakan oleh saya, khususnya kamera Sony saya itu.

Kok Saya Bisa Sampai Lupa Punya Kamera Ini Ya ?

Kamera Sony Saya Ternyata Masih Hidup

Padahal kamera ini bisa saja mendukung aktivitas blogging saya, dimana kamera smartphone kurang nyaman digunakan untuk mencapture foto pada kondisi ketika tangan saya kotor (Kamera sony ini belum/tidak layar sentuh).

Untuk beli kamera baru pun saya masih banyak mikir karena sudah ada kamera di smartphone dan saya sudah merasa cukup.

Kondisi Lensa dan Layar masih perfect, di gambar sedikit ada bercak hitam itu cuma noda minyak gorreng (Akan saya ceritakan fungsinya minyak goreng itu nanti dibawah), cantolan tutup baterai memang patah tapi sudah berhasil saya perbaiki.

 

Sebab Kenapa Kamera Ini Terlupakan

Saya ingat alasan kenapa kamera ini saya abaikan hingga terlupakan 😀

Percaya atau tidak, ketika artikel ini, saya benar-benar lupa alasan/sebabnya, justru pertanyaan di atas murni dari pikiran saya.

Secara passion, saya sudah kurang tertarik menggunakan kamera ini sejak terjadi kerusakan pada cantolan/pengait tutup baterai di kesingnya.

Karena cantolan tutup baterainya patah, dan saat itu saya kehabisan akal untuk memperbaikinya, cuma bisa diakalin dengan cara ditahan pakai selotip/lakban atau karet gelang yang merusak estetika, masih bisa dimaklumi saat itu, meski jadinya ribet, dan saya sudah mulai tidak terlalu sering menggunakan kamera ini.

Hingga kamera ini mati total, meski baterai sudah dicoba dicharge sampai full, kamera masih tidak bisa menyala !

Itulah sebab kamera Sony Cybershot saya itu terlupakan 🙁

Hari ini, cantolan tutup baterai itu sudah bisa saya perbaiki cuma pakai lem epoxy dan minyak goreng 😀

Lem epoxy berfungsi untuk membuat struktur cantolan/pengait tutup baterai di rangka kesing kamera dengan bantuan minyak goreng, lem epoxy tidak bisa nempel ke cantolan/pengait tutup baterai berupa switch itu. Sehingga lem epoxy bisa dibentuk sempurna.

Kamera yang mati total pun setelah saya diagnosa ulang, ternyata cuma karena baterai yang sangat drop sehingga tidak bisa lagi menyalakan kamera.

Cara saya mendiagnosanya cukup simpan baterai ke dalam kulkas, lalu saat masih dingin, dan sisa air yang terkondensasi di baterai sudah dikeringkan, lalu masukkan baterai ke dalam kamera, maka kamera sudah bisa menyala, fix masalahnya adalah baterai drop.

Trick itu sebenarnya sudah lama saya ketahui, tapi dulu saya tidak mengira bahwa kamera ini mati total karena baterai drop, saya mengira motherboardnya yang mati total entah karena sebab apa.

Asal tau saja, tegangan baterai sudah saya test pakai AVO Meter dan hasilnya normal sesuai tegangan standardnya, makanya dulu saya kira baterainya normal.

 

Hikmah dari Pengalaman Saya Ini

Kamera ini terlupakan, hanya karena saya tidak sungguh-sungguh berusaha/ikhtiar dalam memperbaikinya, dan tentu juga karena keterbatasan ilmu dan pengalaman saat itu.

Ketidaksungguhan saya dulu karena memang passion saya dalam menggunakan kamera ini sudah berkurang hanya karena faktor estetika fisik kamera saja yang jelek karena penutup baterai ditahan menggunakan karet gelang/selotip/lakban.

Perlu diketahui, saya dulu sangat perfectionist dan idealis !

Dulu, solusi soal cantolan tutup baterai yang patah yang terbesit di pikiran saya adalah dengan mengganti kesing kamera seluruhnya dan ternyata tidak ada yang jual, maka akhirnya gagal saya perbaiki, dan cukup menerima dengan lapang dada dengan menahannya menggunakan lakban/selotip/karet gelang.

Lalu soal kamera mati total, saya anggap mainboardnya mati, tidak terpikir oleh saya bahwa baterainya yang mati/drop. Ini yang bikin saya merelakan kamera ini, menyimpannya di lemari, sampai saya temukan lagi hari ini, untung tidak saya buang.

Kalau ibarat aki motor/mobil, baterainya memang memiliki voltase/tegangan standard, tapi ampere-nya sudah drop sehingga sudah tidak bisa menyalakan electric starter lagi untuk menyalakan mesin.

Selanjutnya saya akan tetap mengganti baterai kamera ini, karena meski sudah bisa menyalakan kamera, durasi penggunaannya terlalu singkat.

Karena pada dasarnya passion saya untuk menggunakan kamera ini sudah lemah, maka saya biasa saja ketika kamera ini rusak, toh ada kamera di smartphone yang di atas kertas lebih tinggi spesifikasinya dibandingkan kamera sony ini, padahal dikemudian hari saya merasakan bahwa Pocket Camera itu lebih mudah dan nyaman digunakan untuk mendokumentasikan project-project saya dimana tangan saya kotor karena handling project tersebut, karena smartphone itu ukurannya besar-besar dizaman now ini, dan layar sentuh bagi saya tidak nyaman sekali ketika tangan saya kotor, apalagi smartphone zaman now seperti yang kita tau sudah menggunakan proteksi macem-macem seperti sidik jari, pola, pin, password, dsb

 

Akhir Kata

Alhamdulillah, saya sudah punya alat untuk dokumentasi project-project saya, tanpa menggunakan kamera di smartphone lagi.

Memang cupu sekali jika dibandingkan teknologi kamera zaman now, yg penting saya tidak perlu beli lagi

Saya Blogger, jadi gambar di artikel web tidak perlu High Resolution, toh akan saya kompres lagi.

Apalagi ini kamera Sony, yang mana saya tidak pernah merasakan lagi kualitas kamera sony sejak saya tidak menggunakan smartphone Sony Xperia lagi.

Saat artikel ini saya tulis, saya pakai kamera smartphone Xiaomi Mi A1, saya bahkan tidak bisa mecapture foto kondisi busi/spark plugs lagi, karena kameranya tidak bisa fokus, dulu saya suka show off kondisi busi merah bata saat pakai smartphone Sony Xperia SP.

Karena after sales Sony di daerah saya sangat jelek yakni sudah tidak ada lagi Service Center-nya (Dulu ada), maka saya sudah tidak menggunakan produk-produk Sony lagi.

Dulu beli kamera ini cuma seharga 1,6 Juta, kalau sekarang mungkin sudah bisa dapat kamera mirip seperti ini, tapi layarnya sudah mirroring ke smartphone, dan bisa capture foto via smartphone atau tongsis, serta tentu spesifikasinya akan jauh lebih tinggi dan canggih.

Kamera ini saya beli di tahun 2013, saya ucapkan selamat tinggal di lemari kira-kira pada tahun 2014, ya cuma 1 tahun saya pakai 😀

Ini kamera 16.6 mega pixel, tapi resolusi video kamera ini masih HD 720p saja, memory card pun masih pakai SD Card 😀

Kalau penasaran dengan kamera Sony Cybershot DSC-W630 saya ini, googling saja 😀

Mungkin, barang-barang harta karun macam ini masih banyak di gudang atau lemari saya, hanya saja saya sudah lupa punya apa saja 😀

Lupa adalah nikmat dari Allah, kalau tidak ada lupa, saya bisa gila 😀

Tapi seringkali, lupa bisa bikin saya tidak tau lagi harta benda apa yang saya miliki, apalagi sebelumnya saya hidup dengan orang tua saya saat masih single/bujangan, barang-barang saya sering dirapikan oleh ibu saya, masalahnya beliau juga suka lupa dimana meletakkan barang-barang saya.

Setelah saya sudah berumah tangga sendiri saat ini, maka saya sudah mendiami rumah sendiri bersama keluarga kecil saya, maka sejak itulah barang-barang saya bisa terpisah dari rumah orang  tua saya (Tidak semua sih).

Tindakan saya menyimpan kamera yang saya vonis rusak ini sebanarnya adalah tindakan Hoarding dimana saya menjadi seorang Hoarder, yakni tindakan menyayangi barang-barang yang sebenarnya sudah divonis tidak berguna lagi.

Alasannya karena siapa tau dikemudian hari masih berguna, dan kalau rusak saat ini, siapa tau dikemudian hari bisa diperbaiki.

Dan di artikel ini terbukti memang anggapan seperti itu bisa saja benar.

Tapi sebagian besar, mayoritasnya sih apa yang sudah ditimbun/disimpan oleh seorang Hoarder, pasti akan terlupakan.

Contohnya dari pengalaman saya ini, sebenarnya saya lupa memiliki kamera ini, tapi saya tidak sengaja menemukannya, dan karena bertambahnya ilmu, keahlian, dan pengalaman, saya bisa memperbaiki kamera ini.

Sebenarnya bagus saja menyimpan barang dengan anggapan nanti siapa tau akan berguna, dan kalau rusak saat itu, mungkin nanti bisa diperbaiki. Hanya saja biasanya anggapan itu akan terlupakan, sepeti mudahnya kita melupakan barang-barang yang sudah kita simpan tersebut.

BTW saya bukan Hoarder 😀

Semoga Bermanfaat 🙂


Protected by DMCA ! Protected by Premium Copyscape !

Hi, Bagaimana Menurut Anda ?


Jadilah Pembaca yang Baik dengan cara meninggalkan Komentar pada setiap Artikel Bermanfaat yang sudah dibaca (•‿•)


Komentar adalah salah satu Faktor Penyemangat bagi seorang Blogger, termasuk juga saya. Sebagai bukti bahwa saya tidak sendirian disini, mengingat ada banyak sekali Viewer (Pembaca) Artikel di Blog saya ini. Tolong, jangan pergi begitu saja.


Tinggalkan Komentar Anda disini meskipun hanya sekedar menyapa saya, mari kita bangun Forum Diskusi di Kolom Komentar pada setiap Artikel di Blog ini.


Oleh karena itu, saya sudah menyediakan Fasilitas Comment System terbaik saat ini yakni Disqus Comments System untuk membangun Komunitas Komentator yang lebih Advanced lagi, tidak diperlukan Account Disqus untuk bisa berkomentar disini, Anda cukup memasukkan Nama dan Email saja, tapi saya sarankan untuk memiliki Account Disqus jika Anda sering berkomentar di banyak Blog yang menggunakan Disqus Comment System.

Mungkin Anda juga menyukai



Facebook Comments



Disqus Comments



×
SSL Verified