L

Begini Loh Cara Pasang Tensioner Racing yang Mentok Ketika Dipasang !


Bismillahirrohmanirrohim


Tensioner Racing: Teardown

Dulu, saya pernah pakai Tensioner Racing seperti ini yang sudah dibranding H*M Racing, saat itu masih versi lama (Saat ini merek itu juga sudah pakai versi baru ini), tapi sudah PnP (Plug and Play) alias sudah bisa langsung dipasang tanpa perlu ubahan sedikit pun. Saya sudah tidak bisa melakukan perbandingan gimana sih Tensioner Racing yg PnP itu jika dibandingkan dengan yang baru ini, karena sudah saya buang, yang saya ingat cuma pada bagian sampingnya tidak ada ring kawat-nya.

Harganya cukup relatif mahal saat itu, sekitar Rp 150.000 😀

Kenapa saya beli lagi yang baru ?

Well, singkat cerita, Tensioner Racing dari H*M Racing itu cuma saya pakai sebentar saja karena pemasangan yang kurang tepat sehingga baut L penutupnya sangat sulit untuk saya buka, dan karena saya paksakan, akhirnya lubang bautnya slek, kunci L pun sudah tidak bisa membukanya lagi, padahal mustahil tensioner jenis ini dipasang kalau per di dalamnya tidak dikeluarkan dulu, bahkan tensioner standard pun harus ditahan pada posisi stut paling pendek sebelum dipasang.

Oke bukan cuma itu saja, saya pun mengutak atiknya lagi yang entah gimana caranya (Saya lupa persisnya), bagian pengunci stunt-nya rontok, karena bagian aluminium dimana as-nya terpasang pecah, ya udah, wasallam 😀

Karena harganya saat itu relatif mahal, saya pun tidak beli lagi, dan menggunakan opsi lain yakni menggunakan tensioner standard/OEM yang bagian pita pegas-nya saya ganti pakai punya tensioner KW, saat itu saya pakai punya tensioner KW untuk vario, jadi asal pakai pita pegas dari tensioner KW, itu sama saja. Opsi ini saya temukan dari blogger-blogger otomotif kondang yang berbaik hati membagikan trik ini, dan trik itu ditujukan khusus buat Vario 125 yang saat itu mengalami masalah cukup masal terkait LAT (Lifter Assy Tensioner) yang lemah dan beresiko patah. Cirinya ?, ada bunyi khas seperti bunyi ngelitik ketika stasioner.

Cukup lama saya pakai tensioner standard yang sudah dimodif itu, tidak ada masalah, tapi saya selalu dihantui perasaan was-was karena pakai pita pegas KW, maka kualitas-nya pun tidak terjamin, saya khawatir tiba-tiba pita pegasnya patah tanpa gejala apa pun dan saat saya memacu motor saya dalam kecepatan tinggi, maka dampaknya sangat fatal !

Saya kemudian melihat di salah satu postingan teman saya di Facebook yang memposting Tensioner Racing ini tapi saya melihat ada perbedaan, yakni tidak ada sticker/label branding H*M Racing (Dulu saya kira tensioner ini eksklusif adalah produk buatan mereka saja), juga saya melihat ada perbedaan secara fisik yakni sekarang ada ring kawat yang melingkari body tensioner, dan yang paling bikin saya kaget adalah harganya jauh lebih murah, karena tidak re-branding, alias tanpa merek. Awalnya saya mengira harganya lebih murah karena untuk motor bebek, ketika saya cari di Online Market Place, ternyata yang untuk bebek itu juga bisa untuk motor matic saya, soalnya satu merek pabrikan.

Saya beli Tensioner Racing ini cuma Rp 65.000, belum termasuk ongkos kirim, Rp 20.000, jadi totalnya adalah Rp 85.000, ya lumayan lah, meski merek H*M Racing saat saya beli ini sudah discount jadi Rp 125.000 tapi itu belum termasuk ongkos kirim juga 😀

Tips: Kalau nyari di BukaLapak, Tokopedia, dll, ada fitur Sort/Urutkan, dan pilihlah urutkan berdasarkan harga termurah.

Saya pun bikin wishlist untuk beli part ini, karena saya pengen bisa dapetin sensasi pakai tensioner jenis ini lagi, enak bro, meski masih kontroversial mengenai efek jangka panjangnya, soalnya secara mekanisme stut-nya tidak bisa naik lagi kalau sudah turun, seperti cable ties.

Tapi menurut saya, tensioner standard pun juga begitu, dan saya perhatikan bagian stut tensioner racing ini tidak satu arah saya, jadi pada tekanan tertentu dia masih bisa naik, tentu tidak akan bisa disimulasikan kalau cuma ditekan pakai tangan.

Sayang sekali, tensioner racing ditempat saya beli ini tidak PnP untuk motor saya, Vario 125.

Tapi saya perhatikan, merek H*M Racing yang versi baru ini juga secara fisik sama persis, artinya juga tidak PnP lagi, anehnya ketika saya tanya via chat, mereka bilang PnP, tapi saya gk percaya, soalnya seller lain (Tanpa branding, tempat saya beli) bilang untuk Vario 125 tidak PnP, harus dikecilin dulu diameter bawahnya. Mana yang benar masih misteri tapi saya lebih condong percaya apa kata H*M Racing meski saya tidak beli disana. Sampai pada akhirnya tensioner ini sudah sampai di tangan saya dan kemudian coba saya pasang, dan yang benar ternyata memang tidak PnP.

Sebenarnya saya sudah keburu order dan bayar di BukaLapak sebelum saya tau ternyata versi baru ini tidak PnP untuk motor saya, agak sedikit kecewa karena di judul iklannya tertulis untuk Karisma, Vario, dll. Tapi penjualnya sudah kasih petujuk apa yang harus saya lakukan yakni mengecilkan diameter bawahnya, meski penjual sudah menawarkan refund, saya memutuskan untuk tetap order, karena cara mengecilkan diameternya sudah ada di otak saya gimana caranya, yakni pakai amplas kasar atau pakai gerinda 😀

 

Berikut penampakan ring kawat yang saya maksud:

Tensioner Racing: Kawat Ring

Fungsi dari kawat ring itu adalah untuk menahan as pengunci stut atau penonjoknya agar tidak geser kemudian copot.

Tapi ada satu kelemahannya, yakni garis coakan untuk dudukan ring kawat itu dibikin melingkar, wajarlah karena prosesnya pakai mesin bubut/CNC, hanya saja ring kawat tidak terpasang pada coakan tersebut (Bisa dilihat pada gambar di atas), dan hal itu menyebabkan “daging” aluminium pada bagian itu menjadi tipis, dan itu kurang bagus.

Saya yakin fungsi ring kawat itu cuma itu 😀

Oh ya, seingat saya, versi lama ukuran as pengunci stunt-nya lebih kecil daripada yang versi baru ini, koreksi kalau salah, saya tidak tau kalau kedepannya ada revisi desain (Apakah produsennya sama ?), kalau tau sih versi lama yang hancur itu tidak saya buang untuk jadi perbandingan, dulu juga saya tidak ada niat untuk kembali menggunakan tensioner jenis ini.

Berikut sekilas penampakan Tensioner Racing ini:

Tensioner Racing: Depan Tensioner Racing: Belakang

Tensioner Racing: Atas Tensioner Racing: Bawah

Tensioner Racing: Teardown Tensioner Racing: Bagian Dalam

Tensioner ini saya dapatkan dalam kondisi per dan penutupnya sudah terpasang dan cukup kuat juga, saya sampai kebingungan gimana cara membukannya, tapi akhirnya bisa juga cukup ditahan pakai tangan kuat-kuat. Perhatikan posisi pemasangan kunci L-nya, jangan miring, dan sebaiknya gunakan kunci L yang berkualitas bagus.

Pemasangan tensioner ini harus dilepas dulu per-nya, kalau tidak, stut-nya akan selalu terdorong ke luar, sehingga tidak bisa dipasang.

 

Proses Pemapasan Diameter Bawah

Sebenarnya penjual tensioner ini pakai kata “Dipotong”, tapi menurut saya kurang tepat, soalnya kalau dipotong oakai gerinda, jadi jelek 😀

Oke, selanjutnya mengenai proses pemapasan atau mengecilkan diameter bawahnya.

Kalau kita bandingkan dengan tensioner standard (maaf saya lupa ambil fotonya), maka tensioner standard tidak ada bagian bawah seperti pada tensioner racing ini, artinya ini tambahan untuk memperkuat stut-nya. Sedangkan diameter atasnya sama seperti tensioner standard.

Cara memperkecil diameternya yang paling baik adalah dengan menggunakan amplas kasar, bukan gerinda.

Karena kita bisa mendapatkan hasil yang sempurna seperti aslinya, meski prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama, tenaga yang cukup melelahkan, tapi hasilnya sepadan.

Usahakan pakai amplas (Sand Paper) yang bagus, saya apes banget terlanjur beli yang jelek, jadi pasir di ampas mudah rontok gitu 😀

Ada tips mengenai prosedurnya, yakni letakkan amplas pada bidang datar seperti meja, balok kayu, atau lainnya, kemudian gosokkan bagian bawah tensioner racing ini secara merata dan melingkar, pemapasan harus dilakukan secara merata di semua permukaan secara melingkar agar hasilnya bagus.

Sebaiknya bagian stut dipendekkan dengan cara penguncinya ditekkan, lalu stut-nya didorong ke dalam seperti pada gambar di bawah. Hati-hati jangan sampai amplas mengenai stunt-nya.

Tensioner Racing: Cara Pengamplasan

Bagian amplas yang sudah tumpul tinggal dipotong menggunakan gunting secara memanjang.

Jadi disini kita menggunakan permukaan amplas pada babgian ujungnya saja.

Diameter bawah harus dikecilkan kurang lebih 1 – 2 mm, mudahnya setelah kita gosok secara merata, bersihkan sisa-sisa debu di tensioner ini, lalu coba pasang pada lubang dudukan tensioner di mesin, kalau mentok, gosok lagi. Hati-hati ya debu abrasif-nya masuk ke mesin.

Dan usahakan agar tensioner dapat terpasang ke lubang dudukannya tanpa perlu dipaksakan dan tidak seret, buatlah lebih longgar.

 

Berikut adalah hasilnya:

Tensioner Racing Sudah Dipapas: Depan Tensioner Racing Sudah Dipapas: Belakang

Nice and Clean huh ? 😀

Karena pakai amplas kasar, hasil akhirnya seperti tekstur aslinya, tidak perlu finishing pakai amplas halus lagi, bisa aja sih, tapi jadinya tidak terlihat natural aja 😀

Saya perfectionist sih, makanya saya pengen hasilnya seperti itu 😀

 

Rasanya Pakai Tensioner Racing

Pada bagian ini saya mau bahas sedikit mengenai gimana sih rasanya pakai Tensioner Racing ?

Tensioner jenis ini adalah versi otomatisnya dari tensioner manual yang cuma pakai baut (Bolt On) yang juga banyak beredar dipasaran, otomatis disini maksudnya ketika pemasangan, kita tidak perlu mengatur tensioner lagi, biar per di dalam tensioner ini yang secara otomatis dan akurat melakukan pengaturan, jadi rantai keteng atau rantai kamrat akan berada pada tingkat ketegangan yang ideal.

Saya tidak bisa ngasih review jangka panjangnya, karena saya baru mulai menggunakan tensioner jenis ini lagi, dan dulu sempat pakai tapi tidak lama.

Memang ada kontroversial mengenai efek jangka panjangnya, seperti katanya bikin lidah rantai keteng jadi cepat aus, dsb, tapi saya menilai rumor itu lebih ke asumsi saja secara teori karena melihat mekanisme tensioner jenis ini yang terkesa pakai sistem “One Way”, sekali maju, pantang mundur 😀

Saya tidak tau, lihat nanti saja 😀

Impresi saat menggunakan tensioner jenis ini memang rasanya rantai keteng lebih kencang dari sebelumnya saat pakaai tensioner standard, tapi saya tidak bisa menilai apakah memang tensioner standard saya yang mulai lemah atau memang tensioner jenis ini yang memang bikin rantai keteng lebih tegang, soalnya saya tidak membandingkannya dengan tensioner standard yang masih baru, minimal pita pegasnya yang baru.

Sebenarnya kita bisa menyesuaikan kekuatan tonjokkan stut-nya dengan cara mengganti per spiral pada tensioner jenis ini dengan menggunakan per spiral yang lebih lemah atau lebih kuat, tergantung maunya gimana.

Overall sama saja, hanya saja karena dia pakai sistem lock, maka ketegangan atau tensi dari rantai keteng (Timing Chain) lebih stabil, artinya timing bukaan klep juga lebih stabil dan presisi.

Ngaruh ke performa tapi saya gk bisa ngomong banyak soal itu karena tidak melakukan dyno test.

Pada dasarnya, part ini tidak dibuat untuk meningkatkan performa, tapi mengatasi masalah tensioner standard konvensional yang masalahnya kita tau sendiri gimana. Soal performa cuma bonus saja.

Saya sebenarnya agak tidak setuju kalau tensioner jenis ini disebut “Tensioner Racing”, entah apa sebutan yang tepat untuk tensioner ini, mungkin sebut saja “Tensioner Variasi” 😀

 

Akhir Kata

Semoga artikel ini bermanfaat, dan semoga efek jangka panjang negatif dari penggunaan tensioner ini tidak terjadi 😀

 


Protected by DMCA ! Protected by Premium Copyscape !

Hi, Bagaimana Menurut Anda ?


Jadilah Pembaca yang Baik dengan cara meninggalkan Komentar pada setiap Artikel Bermanfaat yang sudah dibaca (•‿•)


Komentar adalah salah satu Faktor Penyemangat bagi seorang Blogger, termasuk juga saya. Sebagai bukti bahwa saya tidak sendirian disini, mengingat ada banyak sekali Viewer (Pembaca) Artikel di Blog saya ini. Tolong, jangan pergi begitu saja.


Tinggalkan Komentar Anda disini meskipun hanya sekedar menyapa saya, mari kita bangun Forum Diskusi di Kolom Komentar pada setiap Artikel di Blog ini.


Oleh karena itu, saya sudah menyediakan Fasilitas Comment System terbaik saat ini yakni Disqus Comments System untuk membangun Komunitas Komentator yang lebih Advanced lagi, tidak diperlukan Account Disqus untuk bisa berkomentar disini, Anda cukup memasukkan Nama dan Email saja, tapi saya sarankan untuk memiliki Account Disqus jika Anda sering berkomentar di banyak Blog yang menggunakan Disqus Comment System.

Mungkin Anda juga menyukai



Facebook Comments



Disqus Comments



×
SSL Verified