L

Awas !, Jangan Cabut Charger Baterai Laptop Meski Sudah Penuh 100% Jika Ingin Baterai Awet !


Bismillahirrohmanirrohim


ASUS ROG Strix GL503VD: RGB Backlight Keyboard

Kali ini saya ingin meluruskan mitos yang saya tau sudah beredar sangat luas dan diyakini oleh banyak orang, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Cabutlah Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Mitos itu adalah salah satu contoh logika terbalik, karena faktanya justru sebaliknya, yakni Jika Ngecharge Baterai Laptop Sudah Penuh 100%, Maka Jangan Cabut Charger Itu Agar Baterai Laptop Tahan Lama Tidak Cepat Drop.

Saya sering melihat teman-teman saya yang sedang menggunakan laptopnya di dalam ruangan/indoor, awalnya dia ngecharge laptopnya sampai ketika sudah full 100%, maka charger itu pun dia cabut, sehingga laptop kembali menggunakan baterai sebagai sumber daya listriknya. Ironisnya, power adaptor dari charger masih terpasang ke stop kontak listrik di rumahnya, agar ketika baterai laptop sudah low/lemah lagi, maka dia pasang lagi charger ke laptopnya, begitu seterusnya.

Kalau saja alasan tindakan yang menjadi kebiasaan itu dilakukan karena alasan Penghematan Biaya dan Sumber Daya Listrik Rumah, maka bisa saya terima, dengan konsekuensi usia pakai baterai menjadi lebih singkat. Meski saya ragu jika dia mengatakan itu alasannya karena ketika charger dia cabut dari laptop, charger masih terpasang di stop kontak listrik rumahnya.

Tapi saya tidak terima karena alasannya justru agar usia pakai baterai menjadi lebih lama/awet !

 

Charging System Sekarang Sudah Canggih

Saya sebut “Charging System” karena kecanggihannya bisa saja tidak di alat chargernya, melainkan di Controller yang ada di Battery Pack-nya atau Mainboard Controlling di Laptopnya.

Saya sebut canggih karena sekarang proses charging tidak akan pernah berlebihan (Overcharge), karena sudah ada protector khusus untuk mencegah itu terjadi.

Justru hebatnya, ketika baterai sudah dicharge sampai penuh, maka fungsi charger sudah bukan charger baterai lagi, tapi sebagai power supply yang menggantikan fungsi baterai untuk menyalakan laptop.

Baterai akan dijaga dayanya selalu 100% oleh charger dengan teknin “Trickle Charging”, namun daya listrik dari baterai itu tidak dipakai oleh laptop karena laptop memperoleh daya langsung dari charger.

Sistem ini mirip UPS (Uninterruptible Power Supply), maka dari itu sebaiknya jangan pernah melepas/mencabut baterai meskipun laptop hidup menggunakan charger-nya, karena kalau listrik padam, laptop langsung mati, dan bisa membahayakan data di harddisk. Pengalaman saya, harddisk jadi rusak total tidak bisa digunakan lagi, hilang semua data di dalamnya.

 

Pokoknya hidup masih meyakini dan menerapkan kebiasaan pada teknologi lama yang sudah usang di saat sekarang dimana teknologi sudah maju, itu merepotkan !

Dulu memang benar, tapi sekarang, di teknologi yang lebih maju, itu sudah jadi mitos, karena sudah tidak berlaku lagi.

Ada orang yang agar tidak terjadi Overcharge saat negcharge baterai, sampai-sampai beli stop kontak yang ada fitur timer-nya 😀

Sehingga dia batasi lamanya proses charging misalnya 4 jam saja, penuh tidak penuh, proses charging berhenti.

Ada orang yang menggunakan stop kontak timer ini untuk menyalakan MiFi Router yang Build In Internal Battery agar ketika selalu terkoneksi ke Charger-nya, maka dikondisikan agar setiap beberapa jam sekali charger dimatikan secara otomatis agar MiFi Router hanya menggunakan daya listrik dari baterai, dan dikondisikan lagi agar setiap beberapa jam sekali, yang diasumsikan daya baterai sudah lemah, maka charger akan hidup lagi secara otomatis.

Keren memang, tapi ribet banget, perlu biaya untuk beli timer-nya, dan dapat merusak baterai lebih cepat !

 

Usia Baterai Dipengaruhi Charging/Discharging Cycle

Biasa juga disebut “Charge Cycle“.

A charge cycle is the process of charging a rechargeable battery and discharging it as required into a load. The term is typically used to specify a battery’s expected life, as the number of charge cycles affects life more than the mere passage of time. Discharging the battery fully before recharging may be called “deep discharge”; partially discharging then recharging may be called “shallow discharge”.

In general, number of cycles for a rechargeable battery indicates how many times it can undergo the process of complete charging and discharging until failure or it starting to lose capacity.

Perlu sobat ketahui semua bahwa Rechargable Battery (Baterai yang bisa diisi ulang) itu memiliki umur, bukan berdasarkan penanggalan berupa hari, bulan, dan tahun, melainkan berdasarkan berapa jumlah tindakan Charging (Pengisian Daya) dan Discharging (Pengosongan Daya) pada baterai.

Makanya, unit baterai yang sama, usianya bisa berbeda-beda, dan tidak berlaku pada baterai laptop saja, melainkan pada semua jenis baterai, baik itu baterai laptop, smartphone, tablet PC, dsb bahkan Aki/Accu kendaraan.

Semakin sering atau banyaknya Charge Cycle, maka kapasitas sel baterai (Battery Cell Capacity) yakni kemampuan menyimpan daya listrik akan berkurang, yang ditandai dengan proses pengisian yang lebih cepat penuh, tapi lebih cepat habis juga.

 

Bedanya Charge Cycle dengan Battery Life

Kalau sebelumnya kita sudah membahas tentang Battery Cycle, maka bedanya dengan Battery Life adalah lamanya kemampuan baterai dalam menyimpan daya listrik, dan ini baru diukur pakai satuan waktu, dan bahkan bisa diestimasikan berapa lama durasinya sampai listrik di dalam baterai habis. Meski tidak akan bisa sampai habis total karena ada Over Discharge Protector.

Nah Battery Life ini bisa dioptimasi, secara umum Operating System (OS) sudah secara default memberikan fitur untuk Power/Battery Saving, dan tentu saja juga ada software pihak ketiga yang memberikan kemampuan penghematan daya baterai juga.

Tapi jika Battery Cell Capacity sudah sedikit, maka tetap saja akan cepat habis juga.

 

Apakah Juga Berlaku pada Smartphone dan Mobile Gadget Lainnya ?

Di artikel ini memang saya fokuskan ke laptop/notebook saja.

Kalau untuk Smartphone dan Mobile Gadget lainnya, juga menerapkan teknologi proteksi yang sama, hanya saja akan terlihat aneh saja jika selalu memasang kabel chargernya, dan beresiko menyebabkan konektor (MicroUSB atau USB Type-C) menjadi longgar, dan akhirnya menyebabkan panas berlebih yang dalam suhu yang sangat panas bisa menyebabkan kebakaran.

Konektor MicroUSB atau USB Type-C tidak cukup Heavy Duty/Durable, mudah longgar, apalagi jika Gadget dipakai sambil ngecharge.

Saya pribadi sering menggunakan Smartphone saat masih tekoneksi ke charger, dan lambat laun konektor charger jadi longgar, yang menyebabkan proses charging jadi lama penuhnya, panas berlebih di area port USB-nya, dan kalau sudah parah maka sering zonk, maksudnya kita sudah memasang charger ke smartphone, ternyata baterai tidak terisi, padahal sudah ditinggal berjam-jam 😀

Sebaiknya tidak perlu selalu memasang charger ke smartphone dan mobile gadget lainnya selain laptop/notebook, karena harga baterai smartphone dan mobile gadget lainnya itu relatif murah jika diibandingkan harga baterai laptop.

 

Akhir Kata

Semoga artikel ini bermanfaat, jangan terbalik lagi ya, kalau toh lagi kerja di depan laptop yang diletakkan di meja dan di area indoor seperti di kantor, rumah, dsb. Lebih baik selalu pasang Charger ke laptop, agar baterai laptop awet, lumayan relatif mahal loh harga baterai penggatinya 😀

Baterai laptop digunakan sebahai Emergency Power Supply saja seperti ketika listrik rumah padam dan/atau ketika laptop digunakan diluar/outdoor.

 


Protected by DMCA ! Protected by Premium Copyscape !

Hi, Bagaimana Menurut Anda ?


Jadilah Pembaca yang Baik dengan cara meninggalkan Komentar pada setiap Artikel Bermanfaat yang sudah dibaca (•‿•)


Komentar adalah salah satu Faktor Penyemangat bagi seorang Blogger, termasuk juga saya. Sebagai bukti bahwa saya tidak sendirian disini, mengingat ada banyak sekali Viewer (Pembaca) Artikel di Blog saya ini. Tolong, jangan pergi begitu saja.


Tinggalkan Komentar Anda disini meskipun hanya sekedar menyapa saya, mari kita bangun Forum Diskusi di Kolom Komentar pada setiap Artikel di Blog ini.


Oleh karena itu, saya sudah menyediakan Fasilitas Comment System terbaik saat ini yakni Disqus Comments System untuk membangun Komunitas Komentator yang lebih Advanced lagi, tidak diperlukan Account Disqus untuk bisa berkomentar disini, Anda cukup memasukkan Nama dan Email saja, tapi saya sarankan untuk memiliki Account Disqus jika Anda sering berkomentar di banyak Blog yang menggunakan Disqus Comment System.

Mungkin Anda juga menyukai



Facebook Comments



Disqus Comments



×
SSL Verified