Kategori Tutorial

Toshiba Power Port Cable: Beda Posisi Ferrite

Sebenarnya, ada kok yang jual DC Port (Female) untuk laptop Toshiba ini saja, tidak perlu satu set dengan kabel dan socketnya (Harness), tapi beruhubung saya terlanjur beli (Sebelumnya saya kira kabelnya hilang, ternyata masih terpasang di laptop), ya sudah lah, toh selisihnya tidak jauh, yakni kabel satu set Rp 55.000 sedangkan DC Port-nya saja Rp 25.000.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tips: Kalau mau nyari kabel ini di Online Market Place, gunakan kata kunci “toshiba dc port” dan agar mendapatkan harga termurah, urutkan saja dari harga yang termurah.

Alhamdulillah masih banyak yang menjual part barunya, sepertinya banyak yang nyari, soalnya saya perhatikan dan menurut pengalaman saya menggunakan laptop Toshiba Satellite L640 dari baru sampai bertahun-tahun lamanya, masalah yang muncul adalah DC Port dan DC Jack yang longgar.

DC Port yang longgar karena sudah terlalu sering melepas pasang charger, sedangkan DC Jack yang longgar karena jenis atau bentuk DC Jack yang lurus, makanya saya juga sudah mengganti charger laptop saya ini dengan charger yang menggunakan DC Jack berbentuk L.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



ASUS ROG Strix GL503VD: RGB Backlight Keyboard

Ketika saya membuka halaman resmi ASUS untuk Support and Drivers Notebook ASUS ROG Strix GL503VD saya, pada bagian kategori BIOS saya mendapati ada rilisan versi terbaru untuk BIOS/UEFI laptop saya ini, tapi ketika saya download, saya tidak familiar dengan file-nya 😀

Ternyata, cara flashing-nya tidak melalui Windows atau OS (Operating System) lainnya, tapi langsung pada BIOS itu sendiri menggunakan tool bernama EZ Flash. WOW !

Fitur itu dijuluki “Crashless Flasher”, mungkin diberi nama seperti itu memang sesuai namanya, tidak ada kegagalan karena crash ketika proses flashing BIOS berlangsung, seperti yang bisa saja terjadi jika menggunakan metode lain yakni flashing menggunakan OS tertentu seperti Windows, dsb.

Dan asiknya, ketika kita single boot pakai Linux saja, tidak pakai Windows, kita tidak ada masalah ketika ingin mengupgrade BIOS laptop kita, mengingat BIOS Upgrade biasanya cuma disediakan tool under Windows OS.

Saya tidak akan share tutorial penggunaannya disini karena tidak sesuai judul artikel ini, sebagai gantinya akan saya share link resmi tutorial dari ASUS, disini.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



Xiaomi Mi A1: Stock Recovery

 

Masalah Burin-in ini atau yang biasa disebut Shadow, dulu saya kira cuma terjadi pada layar berteknologi LED seperti OLED dan khususnya AMOLED, karena dulu saya pernah mengalaminya juga.

Mohon maaf saya tidak bisa memberikan contoh bagaimana sebenernya burn-in pada layar tersebut, soalnya ketika saya capture fotonya, pantulan cahaya lampu di plafon kamar saya jadi ada di layar, takutnya itu yang dikira burn-in, padahal bukan, burn-in ini kalau saya deskripsikan sih berupa bekas tampilan gambar statis tertentu yang akan tampil di layar secara permanen, biasanya terjadi ketika kita lama membuka aplikasi tertentu, jadi meskipun aplikasi itu sudah ditutup, bekasnya akan tetap ada di layar, akan terlihat ketika kita membuka warna tertentu pada layar.

Dulu saya sempat bolak-balik service center untuk ganti layar smartphone high end mahal saya waktu itu yang dinobatkan sebagai smartphone android terbaik di dunia pada tahun 2011 karena masalah burn-in ini 😀

Sampai endingnya pihak vendor smartphone tersebut menyerah, dan mereka memilih melakukan refund/mengembalikan uang saya full sesuai di kwitansi pembelian baru, padahal smartphone itu sudah saya gunakan selama 6 bulan ?, apakah itu worth it ?, jelas tidak, karena saya rugi waktu, tenaga, pikiran, dan uang juga selama proses klaim garansi berulang-ulang tersebut.

Penasaran ?   Baca Selanjutnya »



SSL Verified