L

Rahasia Penggunaan Bohlam Sebagai Proteksi Tweeter pada Crossover Pasif


Bismillahirrohmanirrohim


Bohlam sebagai Sekring

Kalau artikel yang membahas tentang solusi Tweeter Protector pada Passive Crossover sudah sangat banyak beredar di Internet sampai hari ini, banyak karena memang artikel yang sama dicopas oleh banyak blogger tidak beretika.

Nah, lalu muncul pertanyaan, sebenarnya berapa spesifikasi Voltase (Volt) dan Watt (Wattage) yang sesuai untuk kebutuhan ini ?

Jika Anda googling, maka spesifikasi yang paling umum adalah 75 Watt – 25 Volt, apa alasannya spesifikasi tersebut digunakan ?, jika Anda bertanya pada blogger yang memposting artikel tersebut lalu tidak dijawab, maka tentu saja salah satu sebabnya karena artikel itu hasil copas 😀

Sebenarnya Anda bisa saja menggunakan bohlam 24 Volt dan 12 Volt, dengan Watt berapa pun !

Tapi ada konsekuensinya atau dampaknya, silahkan lanjutkan membaca artikel ini agar paham konsepnya 😀

 

Penyebab Tweeter Rusak

Setidaknya ada dua jenis kerusakan, yakni Voice Coil yang gosong karena overload, dan membran yang pecah karena low to mid frequency yang jebol ke tweeter karena kesalahan titik potong frekuensi yang salah, biasanya sering terjadi ketika menggunakan Crossover Aktif dan operator salah menentukan titik potong frekuensi sehingga frekuensi yang khusus untuk Woofer Driver malah dialirkan ke Tweeter Driver.

 

Nah, protektor tweeter menggunakan bohlam ini hanya efektif memproteksi overload yang beresiko menyebabkan Voice Coil mengalami gosong pada lilitan spul-nya.

 

Untuk menerapkannya, tentu saja terlebihdahulu harus paham konsep kenapa bohlam atau bulb digunakan sebagai sekring atau fuse.

 

Mengenai Pengukuran Watt

Sebelumnya saya akan jelaskan dulu darimana sih angka Watt itu berasal ?

Perlu Anda ketahui bahwa dalam Power Consumtion, yang ada itu cuma Tegangan (Voltase) dan Arus (Ampere) yang pasti.

Nah Watt itu dihasilkan dari perkalian antara Voltase dengan Ampere.

Misalnya pada bohlam 12 Volt – 20 Watt, maka 20 Watt itu hasil dari penjumlahan ± 12,5 Volt × 1,6 Ampere.

Artinya, jika bohlam 12 Volt tersebut dialiri tegangan sebesar 24 Volt, maka Watt-nya sudah tidak 20 Watt lagi, melainkan menjadi 2x Lipat-nya, yakni ÷ 40 Watt.

Begitu juga sebaliknya, bohlam dengan spesifikasi 24 Volt maka jika digunakan pada tegangan 12 Volt, Watt-nya jadi hanya setengahnya.

 

Lalu Kenapa Bohlam 12 Volt dan 24 Volt Dibedakan ?

Ini pertanyaan bagus, kalau toh bisa menyala juga, kenapa dibedakan ada yang khusus 12 Volt dan ada yang khusus 24 Volt 😀

Coba Anda perhatikan secara fisik bohlam bersangkutan, antara yang 12 Volt dan 24 Volt dengan Watt yang sama, maka akan lebih besar yang 24 Volt kan ?

Karena lebih besar Voltase-nya, maka semakin panas dan extreme beban kerja dari bohlam bersangkutan, maka dibutuhkan ukuran filamen yang lebih besar dan fisik kaca kuarsa pada bohlam yang lebih besar juga untuk mengimbangi besarnya ukuran filamen dan tingginya panas yang dihasilkan filamen.

Pada praktiknya, tidak ada listrik yang konstant 12 Volt dan 24 Volt, masih ada kemungkinan Undervolt dan Overvoltage, nah buktinya ketika itu terjadi, bohlam masih menyala kan ?, tapi tetap ada batas toleransinya 😀

Seperti pada Sepeda Motor, perlu Anda ketahui meski spesifikasi bohlam lampu pada sepeda motor adalah 12 Volt, faktanya voltase aki lebih dari itu, yakni berkisar antara 13 Volt – 15 Volt, khususnya ketika mesin dinyalakan dan motor dijalankan,

 

Pernah menemui perangkat elektronik dengan spesifikasi tegangan dengan range, seperti 9 Volt sampai 24 Volt ?

Nah itu yang saya maksud, tapi biasanya range seperti itu hanya aman diterapkan pada kelistrikan DC (Dirrect Current), bukan AC (Alternate Current). Umumnya bisa kita temui pada Power Adaptor AC to DC.

 

Maka dari itu sebenarnya untuk mengetaui Power Consumtion dari perangkat elektronik apa pun, itu dilihat dari Ampere-nya, bukan Wattage-nya.

Dan siapa yang tau berapa Voltase yang dikeluarkan Power Amplifier ke Tweeter Driver ? 😀

 

Mengenai Bohlam (Bulb) sebagai Sekring (Fuse)

Teknik ini sebenarnya tidak hanya diterapkan pada Crossover Pasif pada rangkaian speaker saja sob 😀

Anda mau terapkan di perangkat elektronik lainnya juga bisa, malah menggunakan bohlam sebagai sekring itu bisa dikatakan Sekring Otomatis loh, karena tidak seperti sekring koonvensional yang jika terjadi short atau overload akan putus, dan sekring jenis mekanik seperti MCB (Miniature Circuit Breaker) yang masih manual, hanya tidak perlu diganti jika short atau overload jika dibandingkan dengan sekring konvensional, maka dengan menggunakan bohlam sebagai sekring, ketika terjadi short atau overload, bohlman tersebut akan menyala dan perangkat elektronik kita menjadi tidak berfungsi atau off, dan ketika sudah aman, bohlam akan off, tapi filamen tidak putus.

 

Kalau pada rangkaian Crossover Pasif, bohlam digunakan juga untuk kebutuhan itu, yakni Automatic Fuse Protector.

Karena ada juga loh yang masih mengunakan sekring konvensional, yang jika putus harus diganti, kan ribet sob harus bongkar-bongkar.

Kalau Anda pernah merasakan sendiri proses membongkar body speaker untuk mengakses Crossover Pasif di dalamnya, pasti tau betapa ribetnya proses itu 😀

Maka dari itu digunakanlah bohlam sebagai sekring, agar fungsinya mejadi Automatic Protector, demo-nya bisa Anda cari di YouTube dengan keyword “Bulb Tweeter Protection”.

Dengan menggunakan bohlam yang akan menyala jika terjadi “Sesuatu” yakni Overload dan/atau Short, maka tentu seperti tipikal Light Stuff lainnya tentu bisa menjadi Indikator kan ?

Nah maka dari itu muncul istilah “Light Up” yang menandakan kondisi dimana Tweeter mengalami Overload atau Short.

Percayalah indikator Clip di Mixer dan Power saja tidak cukup 😀

Jenis Sinyal Listrik yang Mengalir dari Power Amplifier ke Driver

Maksud dari Driver ya Speaker 😀

Sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa penggunaan bohlam sebagai sekring otomatis hanya efektif pada kelistikan AC, maka tentu saja jika penggunaan bohlam sebagai sekring/protektor pada speaker mungkin dilakukan karena listrik yang mengalir dari Power Amplifier ke Driver adalah AC dengan gelombang/sinyal Sinus.

Voice Coil pada Speaker akan putus sob jika dialiri arus DC atau yang biasa disebut “Sinyal Kotak”, Sinyal Kotak inilah yang diamankan oleh protektor di Power Amplifier, terjadi ketika kita menggunakan Gain terlalu besar sehingga indikator Clip di Mixer dan Power Amplifier menyala 😀

 

Apa yang Terjadi Jika Bohlam Menyala ?

Sebelumnya sudah saya jelaskan penyebab bohlam menyala jika bohlam digunakan sebagai sekring.

Kali ini saya akan jelaskan dampaknya pada Tweeter atau Driver kita.

Ada perbedaan lain antara sekring konvensional dengan sekring otomatis dengan menggunakan bohlam filamen ini sob, yakni tahanan atau resistensi yang akan semakin besar ketika filamen semakin panas.

Keren kan ?

Selain auto on/off ketika terjadi short atau korslet atau arus pendek, bohlam juga bisa berfungsi sebagai peredam overload !

Jadi, ketika terjadi overload pada Tweeter kita akibat berbagai macam sebab, maka filamen pada bohlam akan terjadi peningkatan suhu, dari mulai hangat, panas, hingga membara menyala yang disebut “Light Up”.

Ketika terjadi peningkatan suhu pada filamen, maka resistensi (Electrical Resistance) pada filamen akan meningkat, sehingga fungsinya sama seperti resistor yang berfungsi menjadi Automatic Captor (Penahan Otomatis) atau Regulator.

Karena bekerja otomatis, maka SPL (Sound Pressure Level) yang dihasilkan Tweeter juga tidak akan berubah.

Selama tidak terjadi Light Up, kita tidak akan merasakan perubahan pada musik yang sedang dimainkan, kecuali terjadi Light Up, maka kita akan merasakan perubahannya, yakni High Frequency atau Treble menjadi hilang 😀

Itu terjadi karena Tweeter secara otomatis off atau tidak bebunyi ketika Light Up terjadi.

 

Kenapa Tweeter Tidak Berbunyi Ketika Light Up ?

Karena resistensi atau tahanan dari filamen bohlam yang menjadi pennghubung kabel positif ke Voice Coil Tweeter tersebut sangat tinggi, sehingga seluruh listrik dari amplifier kita digunakan sepenuhnya untuk menyalakan bohlam tersebut dan menahan listrik mengalir ke Voice Coil atau Spul Tweeter.

Fungsinya menjadi seperti Automatic Dioda (Diode) ya sob 😀

Hanya satu komponen saja, bisa memiliki beberapa fungsi dari komponen lainnya !

Maka dari itu meski secara fisik hanya berupa bohlam, itu sering disebut sebagai “Tweeter Protection”.

 

Kenapa Tidak Diterapkan Pada Woofer Driver ?

Maksud Woofer adalah Low to Middle Range Speaker.

Jawabannya adalah mau pakai bohlam sebesar apa jika digunakan pada speaker dengan RMS (Root Mean Square) Power sebesar ratusan Watt itu ? 😀

 

Menentukan Spesifikasi Bohlam untuk Digunakan sebagai Sekring

Diatas sudah saya jelaskan panjang lebar konsep dan beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan, sekarang saatnya saya membahas jawaban dari pertanyaan yang paling sering ditanyakan dan jawabannya masih agak samar-samar di Internet 😀

Menentukan Spesifikasi Voltase Bohlam

Mengenai Voltase dan Ampere sudah saya jelaskan dengan kesimpulan tidak ada masalah pada pemilihan Voltage, Anda mau pakai 12 Volt atau 24 Volt itu terserah, karena tetap berfungsi sebagai protektor, hanya saja belum saya jelaskan apa efeknya kan 😀

Jadi, perbedaan Voltase pada bohlam hanya bertindak sebagai penentu minimum overload voltage yang mampu “Ditangkap” oleh bohlam.

Maka jika menggunakan bohlam 12 Volt akan lebih cepat memanaskan filamen bohlam daripada ketika menggunakan bohlam 24 Volt.

Artinya, bohlam 12 Volt lebih sensitif daripada bohlam 24 Volt !

Tapi bohlam 12 Volt lebih mudah aus lalu putus, dan lebih mudah cepat Light Up padahal tidak terjadi hal yang signifikan yang mampu meyebabkan Voice Coil gosong.

Voice Coil masih mampu menghandle SPL lebih tinggi, tapi malah bohlam sudah Light Up duluan yang menyebabkan Tweeter pun menjadi Off, suara treble pun hilang 😀

 

Dan ketika power terlalu besar, melebihi 15 Volt, bohlam 12 Volt tersebut akan putus setelah mengalami Light Up, sehingga treble menjadi hilang permanen, meski Voice Coil pada Tweeter Driver aman, akhirnya sound system jadi timpang saat pertunjukan berlangsung, padahal mengganti bohlam itu bukan pekerjaan yang mudah, lebih sulit daripada mengganti Voice Coil pada Tweeter Driver, karena untuk mengakses Crossover Pasif, biasanya kita akan perlu melepas Woofer Driver juga karena posisinya di belakangnya. Meski posisi Crossover Pasif  bisa saja diubah menjadi di dekat Tweeter Driver jika kita mau.

Tapi coba Anda pikirkan, harga Voice Coil Tweeter relatif tidak mahal kok, jenis B-Tri (Beta Three) dengan ukuran 3,4 CM saja cuma dijual dengan harga dibawah Rp 100.00,- dan ukuran 4,4 CM tidak sampai Rp 200.000,- per Voice Coil Remplacement.

Tujuan penggunaan bohlam sebagai protektor bukan mencegah semaksimal mungkin kemungkinan Voice Coil mengalmi putus karena gosong sehingga harus mengorbankan kenyamanan dalam operasional kita.

Masa setiap kita mau menaikkan SPL selalu hilang treble-nya 😀

Padahal Tweeter Driver masih sanggup menghandle SPL lebih tinggi tanpa harus gosong.

Ingat, resistensi pada filamen akan semakin besar jika filamen semakin panas, jadi tenang saja.

Itulah sebabnya kenapa banyak pakar Sound Engineering menyarankan penggunaan bohlam 24 Volt untuk kebutuhan ini !

 

Kalau mau spesifik, bohlam 24 Volt itu ideal untuk Tweeter Driver dengan Power Handling 500 Watt bahkan lebih.

 

Jika Anda mau, bereksperimen saja, coba dulu bohlam 12 Volt, jika terlalu cepat Light Up, ganti saja dengan bohlam 24 Volt, jika setelah menggunakan bohlam 24 Volt yang kalah adalah Voice Coil Tweeter-nya, maka tetap gunakan bohlam 12 Volt, artinya Voice Coil-nya tidak bisa menghandle power yang besar.

Sebenarnya bisa bereksperimen lebih kompleks lagi dengan teknik wiring tertentu dengan mengkombinasi beberapa bohlam dengan Voltase yang berbeda, dari 6 Volt, 12 Volt, sampai 24 Volt sehingga mendapatkan Voltase antara 12 Volt dengan 24 Volt, misalnya 17 Volt. Tapi tidak akan saya jelaskan disini karena topiknya sudah beda 😀

 

Tapi intinya jika Anda kesulitan mencari bohlam 24 Volt, Anda bisa memasang 2 pcs bohlam 12 Volt dengan wiring seri untuk menjadikannya 24 Volt.

 

Kesimpulan

Setelah memahami konsepnya, maka kita akan mudah menentukan spesifikasi bohlam untuk digunakan sebagai protektor tweeter.

Maka dari itu point penting utama di artikel ini saya masukkan ke bagian kesimpulan.

 

Menentukan Spesifikasi Watt Bohlam

Jika Voltase pada bohlam bertindak sebagai level sensitivitas, maka Watt pada bohlam bertindak sebagai kapasitas.

Semakin besar watt bohlam, maka bohlam tersebut akan semakin awet dan sanggup menahan beban overload yang semakin besar !

Tapi jika terlalu besar, bukan bohlam yang putus, tapi Crossover Pasif-nya yang gosong, yakni pada “Resistor Batu Putih”-nya 😀

Sehingga durability atau ketahan bohlam juga lebih lama, karena filamen lebih besar, maka semakin kuat menahan panas yang dihasilkan saat Ligh Up terjadi.

 

Apa Jadinya Jika Watt Bohlam Terlalu Kecil ?

Untuk kebutuhan ini memang lebih baik gunakan bohlam dengan Waat yang besar, minimal 50 Watt, idealnya 75 Watt, dan lebih mantap lagi 100 Watt. Saya pribadi menggunakan 250 Watt 😀

Karena jika terlalu besar justru lebih baik, namun jika terlalu kecil justru bohlam akan selalu Light Up, karena Ampere-nya terlalu kecil, sehingga Ampere yang melewati bohlam menuju Voice Coil Tweeter sudah memanaskan filamen sampai panas membara (Light Up), dan jika terlalu panas, maka filamen akan putus.

Jika Voltase pada bohlam berkaitan dengan sensitivitas, sedangkankan Watt berkaitan dengan wkatu pemanasan filamen, semakin besar Watt, maka semakin lama proses warming up pada bohlam hingga puncaknya terjadi Ligh Up.

Mengenai desain bohlam, itu bebas saja, yang penting adalah bohlam filamen, terserah saja mau yang pakai halogen atau tidak, tentu harganya juga beda, dan sebaiknya jangan yang pakai gas halogen atau gas xenon di dalamnya karena harga bohlam akan mahal, sedangkan manfaat penggunaan gas halogen/xenon itu tidak dibutuhkan jika bohlam digunakan untuk sektring otomatis ini.

Kalau saya lebih suka desain bohlam seperti gambar di artikel ini, karena lebih universal, tidak membutuhkan soket khusus, tinggal solder saja di Crossover Pasif-nya 😀


Protected by DMCA ! Protected by Premium Copyscape !

Hi, Bagaimana Menurut Anda ?


Jadilah Pembaca yang Baik dengan cara meninggalkan Komentar pada setiap Artikel Bermanfaat yang sudah dibaca (•‿•)


Komentar adalah salah satu Faktor Penyemangat bagi seorang Blogger, termasuk juga saya. Sebagai bukti bahwa saya tidak sendirian disini, mengingat ada banyak sekali Viewer (Pembaca) Artikel di Blog saya ini. Tolong, jangan pergi begitu saja.


Tinggalkan Komentar Anda disini meskipun hanya sekedar menyapa saya, mari kita bangun Forum Diskusi di Kolom Komentar pada setiap Artikel di Blog ini.


Oleh karena itu, saya sudah menyediakan Fasilitas Comment System terbaik saat ini yakni Disqus Comments System untuk membangun Komunitas Komentator yang lebih Advanced lagi, tidak diperlukan Account Disqus untuk bisa berkomentar disini, Anda cukup memasukkan Nama dan Email saja, tapi saya sarankan untuk memiliki Account Disqus jika Anda sering berkomentar di banyak Blog yang menggunakan Disqus Comment System.

Mungkin Anda juga menyukai



Facebook Comments



Disqus Comments



×
SSL Verified